Oneshot: Seandainya

6.7K 513 146
                                    

Sudah hampir tiga puluh menit aku memandanginya dari sini. Susah payah aku menahan diri untuk tak menghampirinya. Rasanya miris, melihatnya tak henti melamun seperti itu. Bahkan es coklat yang ada di hadapannya, hanya ia sentuh sesekali. Aku bisa menghitung berapa kali ia menyesapnya perlahan melalui sedotan.

Aku sengaja memutarkan lagu yang sedikit menghentak untuk meramaikan kafe, tapi rupanya tetap tak memberikan efek untuknya. Padahal, biasanya ia akan menari-nari kecil di dapur sembari mengawasi pekerjaan karyawanku yang lain. Dan dengan senang hati, aku memerhatikannya beraksi melalui sebuah lubang kotak yang sengaja kubuat untuk memudahkan waitress berhubungan dengan koki di dapur. Ya, aku selalu memerhatikannya dari sana. Mendengarkannya bernyanyi, tertawa, atau bahkan memerhatikannya menari seperti yang sudah kukatakan sebelumnya.

Tapi hari ini, sedikitpun aku tak mendengar tawanya. Bahkan aku tak melihat senyumnya meskipun tipis. Sedaritadi, yang aku lihat hanya wajah muramnya.

Baru saja aku ingin memperbesar volume saat kudengar lagu favoritnya sedang mengalun, aku menyadari ada sesuatu yang membuatku mengumpat pelan.

"Ica, tolong gantikan aku ya," pintaku pada salah satu karyawan yang memang sedang istirahat. Ia hanya mengangguk pelan.

Aku menghela napas panjang. Menghampirinya yang terlihat sedang susah payah menyembunyikan tangis.

"Hei." Aku menangkup sebelah tangannya yang sedikit basah karena airmata. Mendengar suaraku, ia hanya tersenyum tipis.

"Jangan menangis lagi. Jangan diingat jika memang menyakitkan. Ada aku. Kenapa kau menangis sendirian?"

Ia hanya menggeleng pelan. Ah, melihatnya seperti ini, hatiku seperti sedang diremas kuat. Dengan lembut, aku merengkuhnya ke dalam pelukan. Aku tahu apa yang saat ini sedang ia butuhkan.

Ia tak melawan. Tangisannya semakin membuatku pilu. Apa hatinya terasa sangat sakit?

"Kenapa?" Aku mengelus kepalanya dengan lembut. Aku sandarkan daguku pada puncak kepalanya. "Apa kekasihmu berulah lagi?"

Aku merasakan ia memberiku anggukan sebagai jawaban.

Aku menghela napas panjang. Kedua kali aku melihatnya menangis seperti ini dengan alasan yang sama.

"Kenapa kau masih terus bertahan jika menyakitkan?"

*****

Kenapa mencintai bisa sesakit ini? Dan kenapa takdir harus membuatku mencintai seorang gadis yang sudah memiliki kekasih? Disaat aku susah payah membuatnya bahagia, kekasih bodohnya itu malah dengan mudah membuatnya menangis lagi.

Dan bodohnya, gadis yang kucintai, masih saja mau bertahan meski disakiti berulang kali.

Satu-satunya cara untuk membuatnya lupa dengan rasa sakit itu, adalah dengan membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di sini, di kafe ini. Ah, betapa cerdiknya aku. Setidaknya, dengan memintanya untuk stay di dapur, aku akan bisa terus mengawasinya. Dan jika aku berada di dekatnya, aku akan bisa menghiburnya.

"Siang, Dimas." Suara lembut yang begitu kukenal, membuat pikiranku buyar dari lamunan.

Aku tersenyum lebar, sembari memerhatikannya yang sedang sibuk mencari apron yang terletak di laci pada meja bar.

"Bahan dapur sudah dibeli dengan lengkap?"

Aku mengangguk. "Cek dulu di dalam, pasti sudah lengkap sesuai catatan."

Ia terkikik kecil. Ah, rasanya seperti mendengar dentingan merdu dari harpa.

Dengan sigap, aku merebut apron yang berhasil ia temukan di dalam laci. Ia hanya mendengus kesal. Sedang aku hanya terkikik kecil sembari memutar tubuhnya untuk membelakangiku. Tanpa perlawanan, ia menuruti perintahku.

SeandainyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang