Part 1

32K 578 18

Suasana kampus terasa ramai sejak aku menginjakkan kaki di sini pagi tadi. Hiruk pikuk para mahasiswa terdengar, entah memperbincangkan apa di sekitarku. Saat ini aku dan dua orang temanku sedang berjalan menuju kantin yang berada di samping masjid kampus. Mencoba menghilangkan rasa lapar yang sejak tadi mendera kami dikarenakan jadwal kuliah yang penuh sedari pagi.

Sedang asyiknya berjalan dan mengobrol dengan kedua temanku, Lea dan Niki, saat tiba-tiba kurasakan sebuah bahu yang menabrak bahuku dengan kencang. Membuatku yang sedang berjalan tanpa persiapan kuda-kuda untuk menahan tabrakan tadi tiba-tiba terjungkal ke belakang dengan posisi pantatku mendarat mulus di rerumputan taman kampusku tercinta. Kurang ajar sekali orang ini, berani-beraninya menantang seorang Nadira Dewanti. Apakah dia tidak tahu sedang menghadapi siapa?

Dengan aura siluman, aku segera bangkit sembari menepuk-nepuk pantat seksiku yang menjadi korban tabrak lari tadi. Kulihat orang yang menabrakku tadi sudah berjalan santai membelakangiku tanpa kata maaf terucap dari bibirnya. Benar-benar lelaki paling tidak sopan yang pernah ada di dunia. Batinku menggeram marah.

“Heh! Kamu pria berjaket hitam, dengan celana jins biru, sepatu biru dan menggendong tas ransel berwarna biru!” panggilku lengkap dengan melihat penampilannya dari belakang. Melihat punggung tegap berbalut jaket hitam tersebut entah kenapa seolah aku mengenal sosok tersebut. Tapi, siapa?

“Ya. Memanggilku, Nona cantik?” jawabnya dengan santai menengokku, memperlihatkan senyum yang pastinya sangat kukenal.

Aduh! Kenapa harus wajah itu yang kulihat sekarang? Wajah yang sama yang selalu tersenyum mengejek padaku sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di kampus ini 2 tahun yang lalu. Pria itu bernama Anggara Bayu Pratama, teman satu fakultasku. Kami sama-sama berada di fakultas teknik, aku dengan jurusan teknik sipil, sedangkan dia jurusan teknik mesin. Hah, benar-benar nasib sial harus bertemu dengannya siang ini. Di hari yang panas dan dalam suasana lapar tak terkira seperti ini. Dan pria ini berniat mencari keributan denganku. Ingin rasanya memakan mentah-mentah lelaki itu, yang dengan santainya sedang tersenyum mengejek padaku.

“Iya kamu, orang yang telah menabrak seorang gadis manis sepertiku dengan semena-mena, dan tanpa perasaan meninggalkan korban tergeletak begitu saja tanpa permintaan maaf. Siapa lagi cowok di kampus ini yang sangat sopan sepertimu?” sindirku tajam padanya.

Namun bukannya kemarahan yang aku dapatkan, justru senyum mengejek yang tersungging di bibirnya semakin melebar, membuat dua lesung pipit yang terletak di bawah bibirnya terlihat semakin jelas. Ck, dasar pria tampan menyebalkan! Kenapa dia justru memperlihatkan lesung pipit itu saat ini? Saat dengan jelas-jelas –kurasa- asap membumbung tinggi di atas kepalaku karena kemarahanku.

Anggara Bayu Pratama, pria yang kuakui salah satu pria tampan di fakultas teknik ini, apalagi dengan lesung pipit yang sangat kusukai di bawah bibirnya itu. Namun dia juga kuakui salah satu pria paling menyebalkan sejagat raya. Sejak semester pertama aku menginjakkan kaki di kampus ini hidupku benar-benar jauh dari kata damai. Rasanya tidak ada seharipun yang aku lewati tanpa merasakan keisengan seorang Anggara Bayu Pratama. Oke, kurasa itu sedikit berlebihan, karena tidak setiap hari juga aku merasakan keisengannya.

Wajahnya yang tampan menyilaukan –berbonus lesung pipit yang memukau-, kurasa tidak mengherankan jika nantinya wajah itu terpampang di sebuah majalah remaja masa kini atau kalau memungkinkan dia juga bisa menjadi aktor FTV sekelas Dimas Seto. Selain wajahnya, kekayaan keluarganya juga bisa dibilang cukup untuk memenuhi kehidupan anak dan cucunya kelak. Papanya, merupakan seorang pengusaha terkenal di Indonesia. Mamanya bahkan seorang desainer dan pemilik butik yang juga terkenal di Indonesia. Bisa dibayangkan bukan bagaimana kekayaannya? Ck, namun menurutku kesempurnaan itu hanya mencakup dua poin itu, tampan dan kaya, tetapi kelakuannya jauh dari kata sempurna. Dia adalah pria paling menyebalkan bagiku.