Halaman sebelumnya of 2Halaman selanjutnya

Pasangan Labil

spinner.gif

Suasana kampus terasa ramai sejak aku menginjakkan kaki di sini pagi tadi. Hiruk pikuk para mahasiswa yang entah memperbincangkan apa di sekitarku. Saat ini aku dan dua orang temanku sedang berjalan menuju kantin yang berada di samping masjid kampus. Mencoba menghilangkan rasa lapar yang sejak tadi mendera kami dikarenakan jadwal kuliah yang penuh sedari pagi.

Sedang asyiknya berjalan dan mengobrol dengan kedua temanku Lea dan Niki tiba-tiba kurasakan sebuah bahu yang menabrak bahuku dengan kencang, membuatku yang tanpa persiapan kuda-kuda untuk menahan serangan lawanpun tiba-tiba terjungkal ke belakang dengan posisi pantatku mendarat mulus di rerumputan taman kampusku tercinta. Kurang ajar sekali orang ini, berani-beraninya menantang seorang Nadira Dewanti.

Dengan aura siluman akupun segera bangkit sembari menepuk-nepuk pantat seksiku yang menjadi korban tabrak lari tadi. Kulihat orang yang menabrakku tadi sudah berjalan santai membelakangiku tanpa kata maaf terucap dari bibirnya. Benar-benar lelaki paling sopan yang pernah ada di dunia. Batinku menggeram marah.

"Yah kamu pria berjaket hitam, dengan celana jins biru, sepatu biru dan menggendong tas ransel berwarna biru." panggilku lengkap dengan melihat penampilannya dari belakang.

"Iyah. Kamu memanggilku." serunya menengok padaku setelah menyadari bahwa yang kuteriaki tadi adalah dia.

Dan sial. Wajah yang terpampang di depan sana adalah wajah yang sama yang selalu tersenyum mengejek padaku sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di kampus ini 3,5 tahun yang lalu. Pria itu adalah Anggara Bayu Pratama. Dia adalah teman satu fakultasku. Aku dengan jurusan teknik sipil sedangkan dia jurusan teknik mesin. Hah benar-benar nasib sial harus bertemu dengannya siang ini. Di hari yang panas dan dalam suasana lapar tak terkira, dia mencari ribut denganku. Ingin rasanya memakan mentah-mentah lelaki itu, lelaki yang saat ini sedang tersenyum mengejek padaku.

"Iyah kamu, orang yang telah menabrak seorang gadis manis sepertiku dengan semena-mena dan tanpa perasaan meninggalkan korban tergeletak begitu saja dan tanpa permintaan maaf. Siapa lagi lelaki di kampus ini yang sangat sopan begitu selain kamu?" sindirku tajam padanya.

Dan bukannya kemarahan yang aku dapatkan malah semakin lebarnya senyum ejekan yang ditujukan padaku. Bahkan kurasa, itu sudah tidak bisa disebut senyum ejekan namu sebuah seringaian.

"Ah jadi kamu menyalahkanku, yang sedang merasa diburu waktu dan terpaksa berjalan tergesa-gesa sehingga menabrakmu. Begitu?" tanyanya dengan seringaian yang tetap terpasang di wajahnya yang sempurna.

Yah aku akui, Anggara Bayu Pratama, seseorang yang sangat menyebalkan karna selalu mengerjaiku semenjak semester pertama di kampus ini merupakan sebuah kesempurnaan. Wajahnya yang tampan menyilaukan pantas jika nantinya wajah itu terpampang di sebuah majalah remaja masa kini. Kekayaan keluarganya yang bisa dibilang cukup untuk memenuhi kebutuhan anak cucunya nanti hingga keturunan ketujuh. Yah namun kesempurnaan itu hanya mencakup dua poin itu. Tampan dan kaya, tetapi kelakuannya selalu membuatku ingin menjadi seperti Sumanto, memutilasinya dan memakannya mentah-mentah.

Namun satu hal yang aku heran, di kampus dia terkenal sebagai salah satu lelaki most wanted yang terkenal dengan sikap dinginnya dan cuek terhadap para gadis yang mendekatinya. Tapi entah kenapa terhadapku perangainya benar-benar berubah 180 derajat. Jika berhadapan denganku, tak ada lagi Anggara Bayu Pratama yang dingin dan cuek, yang ada hanyalah Anggara Bayu Pratama yang tak kenal lelah selalu mengganggu ketenanganku di kampus ini. Sehingga terciptalah sebuah julukan untuk kami "Dog and Cat Couple". Pasangan anjing dan kucing yang tak pernah akur. Yeah, seluruh kampus sudah tau mengenai ketidakcocokan kami, jadi tidak heran jika siang ini terjadi lagi keributan kecil antara aku dan dia. Karna memang kami pasti akan selalu membuat ribut jika saling bertemu, entah dia yang memulai atau aku yang memulai.

"Ya tentu saja. Masa aku harus menyalahkan diriku sendiri atas tragedi mendaratnya pantat seksiku di rerumputan Fakultas Teknik ini?" jawabku ketus.

"Pantat seksi? Tidak salah ucap nona. Pantat sepertimu seksi lalu pantat Julia Perez kau sebut apa? Bakpao berjalan eum?" tanyanya mengejekku.

Sialan. Batinku menggeram marah. Ah menyebalkan, kenapa dia membawa-bawa pantat Julia Perez dalam keributan kami ini. Jelas saja aku kalah telak. Terlihat dari depan ataupun belakang sekalipun aku akan selalu kalah jika perbandingannya Julia Perez.

Halaman sebelumnya of 2Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (14)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan