Mbak Siti

1.4K 2 2
                                    

Sore itu aku pulang dengan semangat menggebu-gebu. Kutinggalkan sopir dan mobil keluarga kami di depan menara ketiga tempat kami menjadi penghuninya di lantai sebelas. Matahari yang mungkin terik tak sempat menyengatku karena penyejuk ruangan langsung menyambutku, meniup-niup poniku yang tipis.

Ditemani petugas keamanan yang sudah hafal wajah setiap anak penghuni apartemen ini, aku menunggu lift turun sambil mengetuk-ngetukkan sepatu ketsku ke marmer yang mengilat. Kutempelkan pipiku kepada dinding yang dilapisi marmer yang sama. Dingin. Aku serap dingin itu, membayangkan segarnya dingin air kolam renang di lantai delapan.

Mama sudah berjanji aku boleh berenang sepuasnya hari ini kalau nilai tes matematikaku setidaknya B+. Dulu matematika tidak sulit, sungguh. Aku biasa mendapatkan 9, bahkan beberapa kali nyaris 10. Tapi sejak Papa membawa kami pindah ke sini, memasukkan aku ke sekolah berisi anak-anak yang bahkan tidak bisa mengucapkan selamat pagi dengan benar itu, mendapatkan B saja sulit sekali.

Kotak mesin itu sampai di lantai dasar dengan bunyi berat yang teredam. Min Hwa, adik Sae Yoon, keluar ditemani Kak Ani. Aku dan mamaku biasa memanggilnya Mbak Ani, seperti Mbak Siti yang tinggal bersama kami, tapi mungkin Min Hwa dan Sae Yoon tidak bisa mengucapkan emba'.

“Dani-oppa!” Min Hwa berseru sambil meloncat keluar dari ruangan mungil yang baru saja membawanya turun sejauh dua puluh meter.

“Rosalie!” aku memanggilnya balik dengan nama Inggrisnya sambil memamerkan gigi-gigiku. Min Hwa memiringkan kepalanya, seperti tidak yakin aku sedang bicara kepada siapa. Sae Yoon juga punya nama Inggris, Ronald, tapi biasanya hanya guru sekolah yang memanggilnya begitu. Kalau Min Hwa memanggilnya Ronald-oppa, pasti kedengarannya aneh sekali.

Min Hwa menggeliat dari pegangan tangan Kak Ani, tampak ingin bicara banyak kepadaku yang sudah masuk lift.

“Nanti kita berenang kalau Sae Yoon sudah pulang!” aku berteriak saat pintu lift menutup. Entah Min Hwa memahami kalimat sepanjang itu atau tidak. Ia hanya bersentuhan dengan bahasa Indonesia melalui Kak Ani dan aku. Kosakata Sae Yoon lebih banyak, tapi kalimatnya payah. Itulah mengapa ia harus mengambil pelajaran tambahan bahasa Indonesia di sekolah.

Aku melompat di samping pintu “rumah” kami untuk meraih bel. Kata Mama, tempat ini lebih cocok disebut kamar, bukan rumah. Rumah seharusnya punya halaman sendiri dan tidak ditumpuk-tumpuk bersama rumah-rumah yang lain. Bagiku sama saja meskipun agak pusing bermain dengan anak-anak lain di sini karena mereka sering menggunakan bahasa yang aku tidak mengerti.

Lama sekali. Aku melompat lagi. Dua kali.

Aku tempelkan telingaku di pintu, berusaha mendengarkan. Tapi sebelum aku menangkap apa-apa, pintu itu ditarik ke dalam. Aku terhuyung nyaris jatuh.

Begitu keseimbanganku kembali, aku mendongak dan menyeringai. Ternyata Mbak Siti. Wajahnya yang belepotan air mata membuat seringaiku padam seketika. Rambutnya acak-acakan dan binar yang biasa menghiasi matanya hilang tanpa jejak.

“Mama mana?” itu saja yang keluar dari mulutku. Mbak Siti hanya menyentuh bahuku sedikit supaya masuk.

Seakan-akan menjawab pertanyaanku, aku mendengar suara Mama berteriak-teriak kepada seseorang di dalam kamar. Mbak Siti mengunci pintu dan membimbingku ke meja makan. Seperti biasa, ia menyediakan jus jeruk dan wafel karamel kesukaanku. Tapi wafel hari ini tidak seenak kemarin, atau kemarinnya lagi. Aku baru mau bilang begitu ketika teriakan Mama meninggi.

Aku tersentak.

Mama histeris.

“Mama kenapa?” aku melirik Mbak Siti. Rupanya pertanyaanku membuat Mbak Siti sibuk mengusapi air matanya yang baru. Aku semakin tidak mengerti.

Mbak Siti mengambil ranselku dan menghilang ke dalam kamarku. Aku bisa melihat dari pintu yang setengah terbuka bahwa ia sedang memilihkan baju ganti dan meletakkan handuk di tempat tidurku. Selesai makan, aku memandangi handuk itu dengan bingung. Ini handuk untuk aku mandi sekarang atau nanti sesudah berenang? Tapi Mbak Siti tidak mengambilkan celana renangku.

“Dasar setan bajingan!”

Aku mengintip keluar kamarku. Mama membanting ponselnya di depan pintuku dalam perjalanannya ke dapur. Lalu Mama mengobrak-abrik lemari dapur, mencari sesuatu. Aku melirik ponsel itu. Papa tertera di layarnya.

Aku cepat-cepat mandi. Suara pancuran tidak bisa mengalahkan gaduh yang dibuat Mama, termasuk bunyi kresek-kreseknya. Aku menggosok tubuhku dengan bergegas. Tidak tahu apa yang salah dengan kamar mandi kami sore ini, tapi rasanya tidak enak di sini.

Aku pun duduk di sofa sambil menghanduki kepalaku, di samping tas plastik yang pastinya membuat suara kresek-kresek tadi. Di dalamnya ada seprai Mama. Aku tahu karena ujungnya menyembul sedikit, tidak muat.

Suara gaduh itu kini berasal dari kamar Mbak Siti yang besarnya hanya setengah kamarku. Mama akhirnya keluar dari situ dengan dua plastik bening. Satu berisi tiga lembar rupiah biru (jelas bukan won yang pernah Sae Yoon tunjukkan kepadaku). Satu lagi berisi kain. Bukan baju. Entah apa itu. Mama menjejalkan keduanya ke dalam tas plastik besar tadi.

Sementara Mama menelepon sopir kami, Mbak Siti menyodorkan tas yang biasa aku pakai untuk les bahasa Inggris kepadaku. Ini bukan hari Rabu, dahiku mengerut, tapi aku menerima tas itu. Aku mengocok tas itu sedikit. Bunyi sebotol air dan sepak biskuit. Tapi bagian bawahnya teredam, mungkin pakaian. Mbak Siti melanjutkan pergerakannya ke rak sepatu di dekat pintu. Dikeluarkannya sandalku dan sepatu Mama.

Aku tidak berani bertanya kami akan pergi ke mana atau apakah Mama akan membawaku atau menitipkanku ke rumah Sae Yoon. Ketika sudah tidak ada yang perlu dikatakannya lagi kepada siapa pun, Mama menggigit bibirnya seakan-akan itu bisa mencegah cairan asin di pelupuk matanya melarikan diri ke pipi.

Kami bertiga turun dan begitu keluar dari lift, Mama memegangi tanganku erat-erat. Ketika mobil kami keluar dari gerbang utama, aku mengenali sosok yang mengintai dari jendela restoran di seberang jalan sebagai papaku.

Depok, 2010

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 18, 2012 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Mbak SitiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang