Previous Page of 526Next Page

gajah mada 3 by helmex 085645891654

spinner.gif

1

Sepuluh bulan sudah waktu berlalu dari hujan terakhir, menjadikan

udara demikian kering dan sengsara. Itu berlangsung sejak Kasanga,1

terus merayap ke bulan Kasapuluh, Hapit Lemah, Hapit Kayu, Kasa, Karwa,

melewati bulan Katelu. Namun, ketika bulan Kapat dan Kalima langit

masih saja bersih tanpa selembar pun mendung, keadaan yang demikian

sungguh sangat mencemaskan. Manusia, binatang, dan pepohonan

menangis dan semua berharap segala penderitaan itu akan segera

berakhir, seperti jalan panjang ke depan selalu menjanjikan ujung meski

sebenarnya tanpa ujung.

Daun kering menangis, daun beluntas meranggas. Di antara sesama

pepohonan tak lagi saling menyapa. Sepuluh bulan yang lalu, hujan

memang turun menggila di mana-mana pada bulan Kanem, Kapitu, dan

Kawwalu, menyebabkan banjir terjadi di banyak tempat. Ada saatnya

hujan demikian dirindukan, tetapi ada waktunya pula hujan yang turun

dengan jumlah air kebablasan berbuah bencana mengerikan. Hujan ada

saatnya menjadi anugerah, tetapi hujan berkesanggupan pula menjadi

bencana. Seperti api, kecil sahabat baik, jika terlalu besar namanya

bencana.

Hujan menyebabkan longsor yang mengubur rumah-rumah di

lereng bukit. Hujan pula yang menenggelamkan rumah-rumah penduduk

1 Kasanga, Jawa Kuno, nama penanggalan sebagaimana dianut kaum petani untuk bulan Maret, berturutturut

selanjutnya Kasapuluh=April, Hapit Lemah=Mei, Hapit Kayu=Juni, Kasa=Juli, Karwa=Agustus,

Katelu atau Katiga=September, Kapat=Oktober, Kalima=November, Kanem=Desember, Kapitu=Januari,

Kawwalu=Februari

2 Gajah Mada

dan memberangus nasib mereka beberapa bulan ke depan karena gagal

panen. Apalagi, jika hujan itu masih dibarengi badai dan puting beliung,

rumah sekukuh apa pun ambruk dilibas kekuatannya yang sungguh

mengerikan dan dahsyat. Puting beliung yang mampu memilin udara

dan melibas benda apa pun, rumah diterjang rumah pun berantakan,

gajah diterjang gajah pun terlempar. Apalagi, yang hanya kecil-kecil,

seperti semut, lalat, dan debu.

Namun, yang terjadi kini justru sebaliknya. Sungai-sungai tak

berair. Sumur dikeduk makin dalam dan makin dalam. Ketika air sangat

dibutuhkan dan masih terlihat mengalir di Kali Brantas, banyak orang

menggagas bagaimana cara mengangkat sisa air itu naik ke permukaan.

Gagasan yang tetap sebatas gagasan karena mustahil diwujudkan.

Membendung Kali Brantas dan mengangkat airnya sungguh gagasan

gila kecuali jika pemilik gagasan itu adalah raja yang punya kewenangan

Previous Page of 526Next Page

Comments & Reviews (2)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended