Halaman sebelumnya of 277Halaman selanjutnya

gajah mada 3 by helmex 085645891654

spinner.gif

Sepuluh bulan sudah waktu berlalu dari hujan terakhir, menjadikan 

udara demikian kering dan sengsara. Itu berlangsung sejak Kasanga,1 

terus merayap ke bulan Kasapuluh, Hapit Lemah, Hapit Kayu, Kasa, Karwa, 

melewati bulan Katelu. Namun, ketika bulan Kapat dan Kalima langit 

masih saja bersih tanpa selembar pun mendung, keadaan yang demikian 

sungguh sangat mencemaskan. Manusia, binatang, dan pepohonan 

menangis dan semua berharap segala penderitaan itu akan segera 

berakhir, seperti jalan panjang ke depan selalu menjanjikan ujung meski 

sebenarnya tanpa ujung. 

Daun kering menangis, daun beluntas meranggas. Di antara sesama 

pepohonan tak lagi saling menyapa. Sepuluh bulan yang lalu, hujan 

memang turun menggila di mana-mana pada bulan Kanem, Kapitu, dan 

Kawwalu, menyebabkan banjir terjadi di banyak tempat. Ada saatnya 

hujan demikian dirindukan, tetapi ada waktunya pula hujan yang turun 

dengan jumlah air kebablasan berbuah bencana mengerikan. Hujan ada 

saatnya menjadi anugerah, tetapi hujan berkesanggupan pula menjadi 

bencana. Seperti api, kecil sahabat baik, jika terlalu besar namanya 

bencana. 

Hujan menyebabkan longsor yang mengubur rumah-rumah di 

lereng bukit. Hujan pula yang menenggelamkan rumah-rumah penduduk 

1 Kasanga, Jawa Kuno, nama penanggalan sebagaimana dianut kaum petani untuk bulan Maret, berturutturut 

selanjutnya Kasapuluh=April, Hapit Lemah=Mei, Hapit Kayu=Juni, Kasa=Juli, Karwa=Agustus, 

Katelu atau Katiga=September, Kapat=Oktober, Kalima=November, Kanem=Desember, Kapitu=Januari, 

Kawwalu=Februari 

2 Gajah Mada 

dan memberangus nasib mereka beberapa bulan ke depan karena gagal 

panen. Apalagi, jika hujan itu masih dibarengi badai dan puting beliung, 

rumah sekukuh apa pun ambruk dilibas kekuatannya yang sungguh 

mengerikan dan dahsyat. Puting beliung yang mampu memilin udara 

dan melibas benda apa pun, rumah diterjang rumah pun berantakan, 

gajah diterjang gajah pun terlempar. Apalagi, yang hanya kecil-kecil, 

seperti semut, lalat, dan debu. 

Namun, yang terjadi kini justru sebaliknya. Sungai-sungai tak 

berair. Sumur dikeduk makin dalam dan makin dalam. Ketika air sangat 

dibutuhkan dan masih terlihat mengalir di Kali Brantas, banyak orang 

menggagas bagaimana cara mengangkat sisa air itu naik ke permukaan. 

Gagasan yang tetap sebatas gagasan karena mustahil diwujudkan. 

Membendung Kali Brantas dan mengangkat airnya sungguh gagasan 

gila kecuali jika pemilik gagasan itu adalah raja yang punya kewenangan 

menjatuhkan perintah kepada para kawula tanpa terkecuali untuk bekerja 

bahu-membahu membendung sungai itu, seperti dulu pernah dilakukan 

oleh Prabu Erlangga. 

Air memang masih mengalir di Kali Brantas, tetapi hanya sedikit dan 

dangkal. Sia-sia dan sayang karena air itu terbuang ke laut. Andai saja air 

itu bisa dinaikkan untuk dimanfaatkan membasahi sawah maka tanaman 

yang meranggas akan menghijau kembali. Sawah-sawah akan kembali 

menghampar bak permadani dan penderitaan karena kemarau panjang 

bisa sedikit dikurangi. Setidaknya, berbagai tanaman akan terbebas dari 

sesak napas yang membelit. 

Kemarau tak hanya meranggas di kampung-kampung pedukuhan, 

di sawah-sawah, dan pekarangan, bahkan hutan demikian kering. 

Penghuni hutan bingung, tidak tahu bagaimana menyikapi keadaan 

yang luar biasa itu. Menjangan yang butuh air, tak tahu ke mana bisa 

mendapatkan air untuk minum. Rasa haus memancing menjangan 

mendekati belumbang yang masih bersisa, tetapi belumbang itu 

menyembunyikan bencana. 

Belumbang yang airnya mulai surut yang selalu dikunjunginya 

menyembunyikan bahaya karena di sana, harimau yang menunggu 

Hamukti Palapa 3 

bersembunyi di balik semak siap menerkam jika menjangan itu berada dalam 

keadaan lena. 

Dalam pada itu, nun jauh tinggi di langit, helang mider anambayang 

saha tangis kapanasan amalar dres ing jawuh.2 Ke arah mana pun sejauh 

mata memandang, langit yang bersih justru menggelisahkan hatinya. Jika 

burung kalangkyang3 bisa demikian menderita, lalu bagaimana dengan 

burung cataka,4 yang untuk mengobati rasa hausnya hanya dengan 

mendambakan tetes-tetes air hujan karena jika turun ke belumbang, 

ia diusir oleh burung-burung kecil yang bersikap galak dan amat tidak 

bersahabat pada dirinya. 

Tak hanya manusia yang berebut air. Karena rupanya duka para 

syena5 masih belum seberapa dibanding duka burung cucur6 dan tadah asih.7 

Bagi pasangan ini, kesedihan karena belum juga turun hujan masih harus 

ditambah dengan rembulan yang menyusut. Masih harus menunggu lama 

untuk datangnya purnama sebagai penghibur gundah hati. Cucur tadah

Halaman sebelumnya of 277Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (2)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan