Warm Heart
Ada dua jenis hati yang dipaksa tumbuh di bawah atap yang sama, bertaruh dengan takdir yang terlanjur ditulis dengan tidak adil.
Satu hati begitu rapuh, berdegup lemah di dalam dada Ding Chengxin. Di dalam sangkar emasnya, dia adalah pusat semesta, alasan mengapa seisi rumah selalu terjaga dalam kecemasan, dan sosok yang selalu didekap oleh kehangatan lentera. Namun, di balik senyum ramahnya, Chengxin tahu waktunya terus berdenting mundur. Raganya perlahan meredup, menyisakan ketakutan bahwa dunia akan melupakannya jika detak itu tiba-tiba berhenti.
Sementara satu hati lagi dipaksa membeku sebelum waktunya. Song Yaxuan terbiasa melangkah di dalam bayang-bayang. Dia tumbuh besar di sudut rumah yang dingin, terbiasa tidak diperhatikan, dan belajar mengobati lukanya sendiri tanpa pernah dicari. Ketika dunia menuntutnya untuk selalu mandiri, Yaxuan memilih membangun benteng yang tinggi. Dia menjadi sosok yang tajam, dingin, dan meledak-ledak saat bentengnya terusik-sebuah topeng kokoh untuk menyembunyikan tangis anak kecil yang selalu menjadi nomor dua.
Saat takdir membawa Chengxin kembali ke China di usia dewasa, batas antara kasih sayang, kecemburuan, dan rasa bersalah perlahan mengabur. Kehadiran Chengxin perlahan merenggut sisa-sisa ruang aman yang melekat pada hidup Yaxuan. Orang-orang terdekat mulai terseret ke dalam pusaran emosi yang tak kasat mata. Bagi Ma Jiaqi, ada rahasia tentang cinta dan ketakutan akan kehilangan yang baru ia pahami dari kerapuhan Chengxin. Sementara bagi Liu Yaowen, sepasang mata dingin Yaxuan justru menghidupkan kembali penyesalan masa lalu yang nyaris membuatnya gila.
Di ujung waktu yang kian mencekam, saat satu detak jantung menjadi satu-satunya jaminan untuk bertahan hidup... siapakah yang sebenarnya akan menyerah pada takdir?
Dan sedalam apa luka yang harus digoreskan, sebelum dunia menyadari hati mana yang sebenarnya telah hancur berkeping-keping demi menjaga kehangatan paling tulus untuk mereka semua?