Hari itu kelas XII SMK terasa lebih riuh dari biasanya. Ujian akhir semakin dekat, dan suasana kelas penuh dengan tumpukan buku serta bisikan diskusi soal-soal sulit. Di tengah keramaian itu, Goni hanya bisa menatap Dela yang duduk di barisan depan bersama Akbar. Sejak mereka jadian enam bulan lalu, Goni merasa hidupnya lebih berwarna. Tapi kini, warna itu perlahan memudar.
"Belajar jangan sambil melamun, Gon," tegur Bu Afiyah, guru Bahasa Indonesia, yang sedang mengawasi mereka latihan soal. Goni tersentak dan buru-buru menunduk.
Sejak ujian semakin dekat, Dela sering menjauh. Alasannya ingin fokus belajar. Tapi di mata Goni, Dela justru lebih sering terlihat dekat dengan Akbar saat diskusi kelompok.
Di kantin, Hilda-sahabat Goni-berusaha menenangkan.
"Mungkin Dela cuma butuh teman diskusi. Jangan langsung suudzon."
"Tapi aku lihat sendiri, Hil. Mereka sering bareng, bahkan pulang pun jalan bareng," keluh Goni.
Konflik memuncak sehari sebelum ujian simulasi. Goni memberanikan diri bicara pada Dela di depan kelas.
"Del, kalau memang kamu udah nggak serius sama aku, bilang aja."
Dela terdiam lama, lalu menunduk. "Gon... aku rasa kita lebih baik temenan dulu. Aku nggak bisa fokus belajar kalau hubungan kita terus kayak gini."
Kalimat itu seperti palu godam menghantam dada Goni. Ia hanya mampu mengangguk, meski matanya panas menahan perasaan.
Hari-hari setelahnya, Goni berusaha bangkit. Ia belajar lebih giat, sering dibantu Hilda yang setia mendampingi. Ujian pun datang. Meski patah hati, Goni tetap berjuang. Saat hasil diumumkan, namanya termasuk sepuluh besar.
Bu Afiyah tersenyum bangga, "Bagus, Goni. Lihat, kamu bisa tetap kuat meski banyak masalah."
Di luar kelas, Goni melihat Dela dan Akbar bercanda kecil. Hatinya masih perih, tapi ia sadar, kehilangan cinta bukan berarti kehilangan masa depan. Ia tersenyum kecil sambil berkata dalam hati: "Kadang, ujian terbesar bukan di atas kertas, tapi di dalam hati."
All Rights Reserved