Setitik Cahaya Untuk Kalingga [ON GOING]

Setitik Cahaya Untuk Kalingga [ON GOING]

  • WpView
    Reads 1,637
  • WpVote
    Votes 927
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 31, 2025
Kalingga Niskala, laki-laki dengan seribu luka yang ia dapatkan dari keluarganya sendiri. Dirinya belum menemukan apa definisi bahagia yang sesungguhnya, dirinya tak pernah merasakan bahagia sedikitpun. Setiap hari luka dihati dan batinnya semakin bertambah, dirinya semakin merasakan penderitaan tak ada kebahagiaan sedikitpun yang menghampiri dirinya. Perlahan perasaan lelah mulai muncul dibenaknya, perasaan ingin bertahan dan menyerah selalu mengiringi hari-harinya. Bagi Kalingga untuk apa bertahan jika selalu menderita setiap harinya? Tapi, dirinya juga ingin merasakan kebahagiaan didunia ini, terutama kebahagiaan dari keluarganya.
All Rights Reserved
#93
happyreading
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Biarlah: Sebuah Kisah Tentang Sunyi dan Luka"
  • Korban silaturahmi [TAMAT]
  • Rasa Tanpa Kata
  • Terlalu Baik dalam Ruang Kosong
  • Naura & Lukanya
  • Ini Tentang Rindu (Tamat✓)
  • Pulang Tanpa Arah
  • Rumah Tanpa Jendela (HIATUS)
  • I'm Alessa

Hidup adalah panggung, dan setiap orang mengenakan topeng. Beberapa topeng begitu sempurna hingga bahkan pemakainya lupa wajah aslinya. Tawa bisa menjadi tirai, senyum bisa menjadi ilusi, dan kata-kata "Aku baik-baik saja" bisa menjadi kebohongan yang paling menyakitkan. Ini adalah kisah tentang seseorang yang menjalani hari-hari seperti biasa, seperti semua orang lainnya. Ia tertawa bersama teman-temannya, membantu keluarganya, mengisi waktunya dengan hobi, dan menjalani hidup seperti yang seharusnya. Tapi di balik semua itu, ada kehampaan yang tak terjelaskan, ada luka yang tak terlihat, ada pertanyaan yang tak pernah terjawab. Bagaimana rasanya hidup tanpa benar-benar merasa hidup? Bagaimana rasanya berjalan di dunia ini, tetapi tidak pernah benar-benar berpijak? Dan bagaimana jika, suatu hari, semuanya terasa terlalu berat untuk dilanjutkan? "Biarlah" bukan hanya sebuah cerita. Ini adalah perjalanan di antara cahaya dan kegelapan, kebahagiaan yang palsu dan kesedihan yang nyata, antara eksistensi dan kehampaan. Ini adalah kisah yang mungkin terlalu dekat dengan kenyataan-dan mungkin, terlalu sulit untuk diabaikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines