We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
enolA
  • WpView
    Reads 15,158
  • WpVote
    Votes 755
  • WpPart
    Parts 55
WpMetadataReadComplete Thu, Mar 6, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Menjadi anak bungsu tidaklah serta merta menjadi anak yang paling disayang, anak yang paling dimanja dan anak yang paling dijaga Terkadang ada suatu hal yang mengharuskan semua orang membenci keberadaan diri kita sendiri. Teman, kerabat, orang orang terdekat bahkan saudara maupun orang tua kita sendiri pun bisa membenci kita "Gue pengen lo gak ad didunia ini" "Kenapa lo lahir kalo ujung ujungnya bunda meninggal" "Lo tuh cuman kesalahan, andai dulu gue bunuh lo waktu masih bayi. Nyesel gue" "Seharusnya bunda masih ada kalo lo gak lahir, gue benci sama lo" Banyak sekali ujaran kebencian yang terus menghantuinya untuk menghilang dari dunia ini. Ingin ia bertanya apa salahnya jika ia terlahir kedunia ini. Namun itu semua terlalu sulit dimengerti "Bunda...lana capek pengen ketemu bunda, boleh?" Disinilah semua itu berawal, sosok anak perempuan yang terlahir tanpa tau apapun namun terus dikecam oleh takdir yang memilukan
All Rights Reserved
#388
lana
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Sunoo's World
  • Lika Liku si bungsuu
  • PENGALAMAN KU, KISAH DIA
  • Is It Home ?
  • HE'S DIFFERENT FROM THE OTHER || SUNGJAKE (END)
  • Semesta untuk sean
  • Umbrella Life [END]
  • Hurry Hutt  Frei Wolfsmadchen
  • I WISH I COULD HEAR || SungJake

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines