[Heartbeat]
"Sekali lo berurusan sama Daniel. Kecil kemungkinan lo buat lepas dari dia. Karena Daniel, bukan orang yang mudah lepasin lawannya."
Daniel Aska Sagara, sudah bukan rahasia umum lagi jika orang-orang menyebutnya sebagai cowok yang tidak memiliki hati, terlebih di sekolahnya. Sekolah yang hanya bisa dimasuki anak-anak kalangan elit bertajuk Cakrawala.
Dia memang pemberontak, perusuh, dan suka mengintimidasi lawan. Tapi, Daniel bukan orang yang suka memulai, dia hanya hobi memperpanjang perkara. Terkecuali untuk sosok bernama Altair Rajendra.
Nara Zarina, gadis panti asuhan yang beruntung bisa berbaur dengan anak Cakrawala. Di seminggu sejak ia resmi menjadi siswa sekolah elit itu, ia harus menelan ludah ketika berurusan dengan iblisnya Cakrawala; Daniel.
Entah bagaimana bisa, tiba-tiba Daniel mengklaim Nara sebagai miliknya. Sayangnya, tidak ada yang tahu alasan Daniel menjadikan Nara kekasihnya.
Hingga tiba saatnya, semua terbongkar. Nara mengerti. Daniel terlalu egois dengan menjadikannya sebagai umpan luka masa lalunya.
Dan dari sinilah, satu-persatu luka kembali terungkap. Luka yang terjadi antara Daniel dan Altair, orang yang paling Daniel benci karena telah melenyapkan seseorang yang paling ia cintai.
[17+] Mengandung ungkapan serta perlakuan kasar yang tidak disarankan untuk ditiru!
Danadyaksa adalah laki-laki dengan hidup yang sangat sederhana. Cibiran dan hinaan sering didapatkannya dari teman-teman satu sekolahnya terutama perempuan karena menggunakan sepeda motor beat berwarna hitam setiap berangkat sekolah.
Orang tuanya meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMP, meninggalkan dua orang adik yang harus Aksa hidupi.
Menjadi Ayah, Ibu sekaligus kakak di usianya yang begitu belia bukanlah hal yang mudah.
Aksa mulai bekerja semenjak orang tuanya meninggal untuk memenuhi kebutuhannya serta kedua adiknya yang masih kecil. Menjadi kuli bangunan, penjaga toko, pelayan restoran dan berbagai pekerjaan serabutan lainnya Aksa lakukan.
Aksa pernah berkata:
"Nggak papa gue nggak punya masa depan yang terjamin, tapi adek-adek gue harus punya masa depan. Harus jadi orang besar."
Aksa tidak pernah memikirkan perihal cinta. Yang ia pikirkan hanyalah adik-adiknya. Bagaimana masa depan adiknya, bagaimana mendidik adiknya dengan baik dan bagaimana adiknya bisa menikmati hidup seperti anak lainnya yang penuh kebahagiaan dari keluarga.
Namun, Aksa mulai tertarik dengan cinta semenjak ia mulai mengenal Alsava. Gadis yang dikenalnya sejak insiden Aksa yang tanpa sengaja menginjak kacamata Alsava.
Tapi rasanya sangat tidak mungkin untuk memiliki Alsava yang latar belakang ekonominya sangat jauh beda dengan dirinya.
Apakah mereka bisa bersama? Mungkin. Atau justru, tidak akan pernah bersama.
**
"Sa, gue boleh suka sama lo, nggak?"
"Tunggu gue sukses."
**
"Gue kalo mau suka sama Alsava juga harus sadar diri. Gue orang nggak punya. Beda sama dia."
***