VERMILLION

VERMILLION

  • WpView
    Reads 153,014
  • WpVote
    Votes 2,937
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 5, 2025
Remon Alistair Finnian. B dan Elara Sienna adalah dua jiwa yang takdirnya saling bersinggungan dalam keheningan malam. Remon, seorang lelaki yang tampak tenang dan penuh percaya diri, menyimpan rahasia yang gelap di balik senyumannya yang memesona. Di balik setiap langkahnya yang mantap tersembunyi masa lalu yang penuh dengan bayang-bayang kelam yang menghantui pikirannya. Elara, di sisi lain adalah perempuan dengan tatapan mata yang dalam dan senyum yang cantik, tetapi di balik kesempurnaannya, ada luka-luka dari masa lalu yang tak pernah benar-benar sembuh. Remon tidak pernah bermain aman, terutama pada perasaan. Elara membawa sesuatu yang tak bisa Remon tolak, sesuatu yang akan menghancurkannya, kendati tidak dipedulikan. "Aku mau kamu apa adanya... gelap, rusak, liar. Aku nggak takut sama semua itu." Remon diam dengan tatapan tajam khasnya. Seharusnya Elara sadar, dia kini sedang mematik api di antara mereka. Tapi Elara dengan senyum persuasif mengatakan, "Kalau kamu apinya, aku siap terbakar." Dan mereka tertarik bukan hanya karena rasa penasaran, tetapi karena ada kenyamanan aneh dalam mengetahui bahwa di dunia yang begitu terang, mereka bisa menemukan seseorang yang mengerti sisi gelap mereka tanpa perlu menjelaskan. Dalam kegelapan rahasia, Remon dan Elara menemukan cahaya yang hanya bisa mereka lihat bersama.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)
  • AFIKA [ END✔ ]
  • Summer Triangle  (Revisi)
  • ALEA (TAMAT)
  • Alreenzy [END]
  • LOST MY BREATH (ON GOING)
  • BAYANGAN SANG KETUA
  • KYRA [END]
  • Andira [End]
  • BLACKWOLF

Beberapa detik tatapan mereka beradu. Athur menajamkan tatapan saat Milla terus menatap matanya. "Jangan berani tatap gue!" "Kenapa? Mata lo sakit?" Bukan mundur. Milla malah semakin maju. "Jangan lihat mata gue!" tegas Athur memalingkan wajah. "Oo jadi lo itu sakit mata? Atau mata lo ada beleknya ya? Dih jorok." "Diam!" Milla tersenyum menantang. Ia pindah posisi di depan Athur sehingga cewek itu semakin leluasa menatap mata Athur. Milla mempertajam penglihatan. Ia penasaran, memang ada apa di mata Athur. "Mata lo baik-baik aja. Gak merah tuh," ucapnya bak seorang dokter spesialis mata. Athur menunduk menatap mata Milla penuh amarah. "Minggir." Satu kata keluar penuh penekanan. Bukan Milla jika segera mundur saat ada hal yang menyenangkan. Milla malah semakin maju dan menatap mata beriris hitam pekat itu. "Jangan-jangan mata lo katarak ya. Atau malah mata lo punya virus menular jadi orang lain gak boleh lihat mata lo," ucap Milla bernada berlebihan. Sampai-sampai ia membelalakan mata, membuka mulut serta meletakkan kedua tangan di pipi. Emosi yang sejak tadi Athur kendalikan kini sudah di ujung tanduk. Baru kali ini ada orang yang berani menatap matanya. Bahkan sedekat ini. Apalagi baru kali ini kata-kata dingin Athur tidak mempan. Saat semua orang menunduk ketika Athur mengedarkan pandangan. Milla berbeda. Saat semua orang takut untuk berbicara dengan Athur. Milla berbeda. Dan saat semua orang diam ketika Athur berbicara. Milla berbeda. Tatapan Athur lurus pada mata Milla. "Gue akan buat lo nyesel berani tatap mata gue!" tegasnya bernada mengancam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines