Dear, Penerbit Mayor

Dear, Penerbit Mayor

28 Reads 10 Votes 1 Part Story
Adinda Shintya Dewi By AdindaShintyaDewi Updated Oct 02, 2018

"Deng mantra apa buat tarik ko perhatian untuk terbitkan sa naskah novel?"
                                                                ***
"Arg! Untuk ketiga kalinya sa gagal tembus penerbit mayor!" Keluhku.
Itu bukan apa yang sa mau untuk buka email lalu dapat informasi mengecewakan hati. Padahal su berbulan-bulan digantung seperti jemuran menjamur sama penerbit besar itu, hasilnya bikin nusuk di relung jiwa.
"Lebih menyakitkan mana, Din? Ditolak doi atau ditolak dimeja redaksi?" Kalimat menusuk itu buat sa berdecak kesal.
"Sa lebih sakit saat lihat email Yth. Saudari Adinda di tempat. Terima kasih atas kiriman naskahnya ke redaksi kami. Setelah tim redaksi menilai, MOHON MAAF untuk saat ini kami belum bisa menerbitkan naskah tersebut. Semoga hal ini tidak membuat saudari patah semangat dalam berkarya. Terima kasih. Salam, Tim Redaksi." Kata 'Mohon maaf' memang sa lihat di email trada huruf kapital, melainkan sa yang kesal saja makanya menekan kata tersebut.
Sa yang berharap naskah berjudul A Dreams yang susah payah dirajut sambil memilih surah-surah al-quran juga hadits didalam naskah itu bisa dilirik sama penerbit yang memang menerbitkan naskah bergenre remaja tapi nuansa islam.
Tra hanya di satu penerbit saja, bahkan sudah ada puluhan penerbit mayor. Naskah itu tetap saja ditolak. Semakin buat sa patah semangat dan lebih memilih untuk ke jalur indie.
Dan selanjutnya saat sa su buat naskah baik itu novel, puisi dan antologi sekalipun akankah sa tetap berada dijalur indie? []

  • gramedia
  • grasindo
  • mimpi
  • penerbitloveable
  • penerbitmayor
  • penuliskumuh
  • perjuangan