Affection

Affection

  • WpView
    Reads 60,879
  • WpVote
    Votes 6,199
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 27, 2020
Mereka memberi afeksi dengan total, tak tanggung-tanggung, tak ada sisa barang sepercik untuk sekadar jaga-jaga kalau sang penerima tak bisa lagi coba terima, atau menerima dalam kelesapan. Lalu mereka kepayahan, bahkan tatkala untaian kata beterbangan pada udara di sekitar mereka. "Relakan sesuatu yang sudah hilang, merasa cukup pada apa yang masih tinggal, dan biarkan saja limpahan afeksi terus mengalir tanpa tahu diri." Mereka tetap payah untuk susun kepingan hati yang hancur sebab harap-harap pada leburnya dia yang mustahil terima perbaikan. Copyright©2019 by Penazora Picture by Pinterest
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Saat Rumah Tak Lagi Pulang [Selesai]
  • Abang - Lee Haechan
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • SESHILIA (Hiatus)
  • Topeng
  • "Berikan kami kesempatan kedua, Dirga!" (Ch)
  • Save and Protect
  • 뭐라고요

Cerita sudah selesai, masih lengkap. ❝Seperti harapan yang tak pernah usai, rindu selalu punya cara untuk membuat air mata terjatuh.❞ Bagi Rere, rumah bukan lagi tempat untuk pulang. Sejak kepergian Papahnya yang lebih memilih wanita lain ketimbang keluarganya, dan juga Tama, sahabat yang pernah menjadi dunianya-hidup terasa hampa dan sunyi. Hingga suatu hari, di tepi pantai yang selalu menenangkan hatinya, dia bertemu dengan Arkanta Sanjaya-pria asing yang perlahan membawa warna ke dalam dunianya yang gelap. Arkan hadir seperti angin laut, membawa ketenangan sekaligus kebingungan. Ada sesuatu yang terasa akrab dalam diri Rere, seolah ia pernah mengenalnya jauh sebelum pertemuan itu, dan semakin dalam Arkan mengenal Rere, semakin kuat perasaan asing yang menggelitik pikirannya. Lalu, ingatan itu datang. Sebuah mimpi yang pernah menghantuinya bertahun-tahun lalu-tentang seorang gadis tunanetra yang duduk di halte bus, menangis dalam keheningan. Apakah semesta telah menuliskan kisah mereka jauh sebelum mereka bertemu? Ataukah ini hanya permainan takdir yang tak bisa mereka hindari? Saat rumah tak lagi menjadi tempat untuk pulang, akankah hati mereka menemukan jalannya sendiri?

More details
WpActionLinkContent Guidelines