Gurl's [Omega High School]

By lailifitri662

788 80 15

Azalea Maharani : Si perfeksionis yang berambisi Anne Selene Cayapata : Si ceroboh yang malang Argani Ziva La... More

Part 1 : The Beginning
Part 2 : The beginning (2)
Part 3 : Duty Of Destiny
Part 4 : Interview
Part 5 : XI-MIPA 1
Part 6 : Wealth Is Wasted
Part 7 : Secretum
Part 8 : Bad guy
Part 9 : Memory With Love
Part 10 : Love Me Like You Do
Part 11 : Brochures
Part 12 : Beginning Forever
Part 13 : Bogus
Part 14 : D1
Part 15 : GURL'S
Part 16 : Shouts
Part 17 : End of D1
Part 19 : A Day of Cinderella

Part 18 : Kidnapping by Gurl's [for Gurl's]

18 2 0
By lailifitri662

CIWI-CIWI CANTIQ BADAI SQUAD

Anne menambahkan Ziva
Anne menambahkan Lea
Anne menambahkan Risa
Anne menambahkan Sava

Anne (21. 00): Selamat datang di Indom*ret selamat berbelanja!!

Anne (21. 05): Malam man-temaaaaaan!!!!

Anne (21. 10): Astagah sepi bener! Salah nomor kali Anne ya?

Anne (21. 12): Guyssss!!!!!

Anne (21.13): Respon dongggg!!!

Anne (21. 15): Masa kalian udah pada tidur?

Ziva (21.15): BERISIK TAI KUCING!!

Anne (21. 18): Yeeeyy!! Ternyata ada yang respon.

Risa (21.20): Ini grup apa?

Anne (21. 21): Hai Risaaa!! Kita kan udah jadi satu geng. Jadi kalo mau gibah gibah manjah bisa chat di grup ini.

Risa (21. 22): Ooh gitu.

Anne (21. 25): Yap. Kalian lagi pada ngapain?
*read

■■■

Tanpa terasa lima hari telah berlalu. Begitu juga dengan festival di Omehis. Dan hari penerimaan hadiah telah tiba. Sebagian besar siswa-siswi telah berada di lapangan utama sekolah untuk menyaksikan kegiatan tersebut. Meskipun beberapa dari mereka banyak yang masih berada di kelas atau berseliweran di koridor. Entah itu sedang berbincang atau sekedar duduk santai.

Di tengah lapangan utama telah terbangun panggung yang cukup besar untuk menjadi tempat pemberian dan penerimaan hadiah. Di sana sudah tersusun rapi kotak-kotak berbungkus kertas coklat untuk dijadikan hadiah. Juga ada tumpukan sertifikat dan kalung penghargaan. Beberapa panitia, yang adalah anak OSIS sendiri, berdiri di sekitar sana untuk mempersiapkan acara. Beberapa guru juga terlihat menimbrung seraya menunggu acara dimulai. Saat semua telah siap, pembawa acara naik ke atas panggung untuk membuka dan memulai acara. Di saat yang tepat pula kepala sekolah tiba untuk ambil alih dalam menyerahkan hadiah. Beliau sendiri yang ingin memberi apreasiasi pada seluruh pemenang yang masih semangat mengikuti acara meskipun tidak semeriah tahun sebelumnya. Satu per satu pemenang disebutkan, mereka dipersilahkan naik ke atas panggung, menerima hadiah, lalu berfoto bersama. Sampai akhirnya berada di penghujung acara, perwakilan panitia mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf untuk keseluruhan acara. Setelah acara benar-benar selesai, pukul 11 tepat, seluruh siswa dibebaskan untuk hari ini. Mereka dipersilahkan untuk kembali ke habitat masing-masing.

Sebagian besar siswa siswi memang memilih untuk pulang, tapi juga ada beberapa yang masih memilih berada di kantin. Entah kenapa, kantin Omehis diakui menjadi tempat yang paling nyaman untuk dihuni. Apa itu karena suasana sejuk, pemandangan taman yang indah, tempat yang luas, makanan yang terjangkau, atau apapun itu, banyak mereka yang suka berkumpul di sana. Termasuk Anne, Risa, Sava, dan Ziva yang bukannya pulang, malah memilih menyamankan diri di kantin.

Brakk

Anne menggebrak meja kantin sedikit kencang. Risa, Sava, dan Ziva langsung menoleh kaget. Dilengkapi dengan umpatan spontan dari mulut Ziva. "Apa lagi sekarang?"

"Kalian 'tuh kenapa jahat banget sih sama Anne?!" ucap Anne dramatis. Bahkan beberapa siswa di sekitar mereka menggeleng heran. Bagaimana dulu Tuhan berpikir untuk menciptakan makhluk sepertinya?

"Nih liat!" rogoh Anne ke dalam saku celana olahraganya untuk mengambil benda digital peregi panjang miliknya. Kemudian dibukanya grup chat geng baru yang berjudul "CIWI-CIWI CANTIQ BADAI SQUAD"

"Kenapa cuma di read doang, hah?!" napas Anne memburu. "Kenapa nggak ada yang bales chat Anne?!"

Ketiga teman di hadapannya hanya saling pandang. Risa menjilat bibir bawahnya mencari alasan, Ziva menggaruk kepala yang tak gatal, dan Sava... tentu saja memasang wajah datar andalannya. Beberapa detik kemudian akhirnya Risa yang memutuskan buka suara. "Duduk, duduk dulu sini yaa! Kita 'tuh nggak maksud buat nyuekin kamu, tapi 'kan itu kita lagi siap-siap buat festival. Aku nyiapin buat robotik, Ziva basket, Sava....." ucap Risa menggantung dengan matanya yang mulai kode-kode ke arah Sava.

"Tidur." sontak mereka semua melihat Sava. Sama sekali tidak membantu!

Tak lama kemudian datanglah Lea dengan wajah campuran ceria dan lelah. "Haii gais!"

Belum juga pantat Lea mendarat di kursi sebelah Ziva, tunjuk Anne tiba-tiba padanya. "Nah, kalo kamu kenapa nggak bales?!"

"Bales? Bales apaan, Ne?" Lea menelusuri setiap tatapan yang diberikan teman-temannya. Ia sungguh tak tau apa-apa. "Ada apa sih?"

Anne menyodorkan lagi telpon genggam yang menampilkan grup chat mereka. Disitulah Lea baru paham apa maksud dari tatapan teman-temannya. "Kenapa jadi diributin sih, Ne? Orang kita tiap hari juga ketemu di sekolah."

Tatapan Anne yang tadinya masih kesal segera berubah. Benar juga, pikirnya. Dihembuskan napasnya kasar, lalu ia bersandar di kursinya dengan meminum segelas jus alpukat. Hampir saja ia tersedak kalau tidak segera menelan cairan jus di mulutnya. Ia menahan senyum saat melihat beberapa permen yupi yang ada di depan matanya. Bahkan jumlahnya terus menambah dari kantong Lea dan Ziva. Ia menoleh ke arah Ziva dan Lea. "Sogokan?"

Setelah dirasa permen di kantong Lea telah keluar semua, Ia mendekat ke arah Anne. "Udah dong, jangan ngambek yaaa??"

Senyum yang Anne tahan sudah tak sanggup untuk sembunyi lagi. "Ya..kalo sogokannya cuma ini.." katanya sengaja Ia gantung. Matanya berkeliling nakal. "..tergantung. Kecuali kalo besok kita jalan-jalan."

"Eh, boleh juga sih! Besok 'kan Minggu.." sahut Risa. "Gimana? Aku sih yes."

Semua mengangguk kecuali satu, Lea. "Aku...besok ada seminar di Gedung Citra Bahasa, gimana dong?"

Mereka kompak medesah kecewa. "Izin dulu kali, Le?" sahut Ziva enteng.

"Andaikan bisa, tapi aku besok jadi perwakilan sekolah." lesu Lea. "Maaf yaa...kalian pergi aja dulu tanpa aku. Kapan-kapan 'kan masih ada kesempa--"

"Nggak bisa gitu dong?! 'Kan kita satu geng! Harus sama-sama terus!" sela Anne tiba-tiba. Kemudian suasana hening, karena perlahan kantin mulai sepi juga. Lea izin pamit terlebih dulu setelah mendapat pesan bahwa Ia harus segera ke kantor guru. Ide konyol Anne pun datang. "Eh gais, sini merapat!"

Meski malas mereka tetap mendekat ke arah Anne. Bak tokoh di film-film sana, mereka saling membisikkan sesuatu. Ya, sesuatu yang konyol, dan beresiko sangat tidak kecil. Mereka berempat tampak begitu serius merencanakannya, terkadang diselingi tertawa licik dari Anne dan Ziva. Setelah dirasa cukup matang, mereka menyatukan tangan, bertos ria penuh semangat untuk melakukan rencana besok. Lalu mereka kompak beranjak dan memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Dengan peringatan dari Anne bahwa jika mereka semua harus membalas pesannya di grup chat.

■■■

Baru kali ini Lea merasa berat hati menghadiri acara seminar. Sepanjang jalan menuju gedung Lea beberapa kali menghembuskan napas kecewa. Di tangannya masih melekat telepon genggam yang membuka obrolan grup geng barunya tadi pagi. Bahkan langit cerah dan pemandangan gedung di luar kaca jendela mobil tak membuat suasana hatinya membaik. Pakdhe mul, sopir pribadinya, sempat merasa khawatir kepadanya. Tapi Ia hanya menjawab dengan gelengan tak semangat. Sampai tak terasa mobilnya telah memasuki area parkir gedung. Di sana juga telah banyak siswa siswi dengan seragam yang berbeda-beda. Tapi Ia terlanjur tak minat untuk sekedar melihat. Sebelum mobil benar-benar berhenti, sekali lagi Ia memandang layar telepon genggam yang masih membuka obrolan grup terakhir pagi tadi.

CIWI-CIWI CANTIQ BADAI SQUAD

Anne (07.45) : Gimana gais? Princess udah siap meluncur nih!

Risa (07.50) : Aku juga udah siap. Jadi ketemuan di Halte 3 'kan?

Anne (07.51) : Iyaaa...yang lain gimana?

Sava (07.55) : *emot jempol tangan

Anne (07.56) : Ziva?

Anne (07.56) : Ziva manaaa?!

Anne (07.56) : Oii Zivaaaa?!!!

Anne (07.58) : heyy dimana kauu?!

Zifa (08.00) : Berisik deh sumpah. Gue baru bangun tidur, Gue mandi dulu bentar.

Anne (08.01) : KAMPRETTT?! SILUMANN KEBOO?!!!!!

Ziva (08.10) : Oke kuy brangkat!

Risa (08.11) : oke, otw.

Anne (08.11) : ANNE SUDAH DI TKP SEJAK 10 MENIT YANG LALU *emot senyum manis

Sava (08.12) : *emot jempol tangan

[Lea telah mengubah subjek dari "CIWI-CIWI CANTIQ BADAI SQUAD menjadi "GURL'S"]

Begitulah setidaknya percakapan mereka berakhir di grup chat. Lea menghembuskan napas kasar untuk yang ke-banyak kalinya. Ada sedikit rasa kecewa di sana. Entah itu pada empat kawanan yang katanya kemarin hanya akan pergi jika bersama-sama, atau pada seminar yang berlangsung di hari yang kebetulan tak tepat. Baru kali ini Lea merasa sangat berat hati memasuki pintu masuk gedung di hadapannya. Kalau boleh saja, Ia ingin kabur setelah mengisi daftar hadir di dalam. Ia akan pergi diam-diam dengan menyamar sebagai apapun akan Ia lakukan agar bisa keluar dari acara ini dan pergi menemui geng barunya. Namun itu hanyalah skenario semata yang tak mungkin sanggup Ia lakukan.

Setelah memastikan buku catatan, laptop, alat tulis, dan perlengkapan lainnya sudah lengkap, Lea pamitan kepada Pakdhe. Ia sengaja menyuruh Pakdhe agar langsung pulang saja tanpa menunggunya. Karena rencananya nanti Ia ingin pergi refreshing sebentar untuk menetralkan pikirannya. Tak ada yang spesial, mungkin hanya sekedar duduk di cafe, atau jalan-jalan di pinggiran jalan. Itu sudah lebih dari cukup. Dan tanpa lama Pakdhe langsung mengiyakannya. Beliau tahu kapan saat majikannya butuh waktu sendiri.

Lea sengaja berdiri lebih lama di depan pintu masuk setelah melihat mobilnya meninggalkan gedung. Baru saja Ia berniat melangkah, Ia merasa melihat sesuatu yang tak asing beberapa jarak di depannya. Seorang anak laki-laki berjaket denim dan celana putih yang perawakannya sungguh tampak familiar di matanya. Apalagi dengan model tatanan rambut yang rapi. Dan Ia bisa langsung menebak bahwa anak itu pasti seumuran dengannya. Anak itu sepertinya tengah mengantar seseorang yang juga menghadiri acara ini, melihat kalung identitasnya. Sayangnya anak itu menghadap ke samping. Ia jadi tak bisa menangkap jelas wajahnya. Akhirnya Lea memutuskan untuk tidak peduli. Mungkin hanya kebetulan.

Tiga langkah lagi Lea memasuki gedung, Lea merasa ada yang memanggil namanya di belakang. Lea sontak menoleh karena suara itu juga tampak familiar di telinganya. Dan Ia langsung mendapati ketua osis-nya. Benar, Ilyas. Dengan pakaian yang disebutkan di atas tadi. Sebab itu Lea merasa tak asing saat melihatnya tadi. "Ilyas? Kok di sini?"

"Eh beneran Lea," Ilyas tersenyum. "Ini tadi nganterin sepupu jadi salah satu pembicara di acara nanti. Kok tumben kamu baru dateng?"

"...'kamu'?" kernyit Lea. "Eh iya, ini baru mau masuk. Belum telat juga 'kan?"

"Iya sih, cuma tumben aja, biasanya 'kan kamu selalu datang satu jam sebelum.." gurau Ilyas yang mengundang tawa canggung Lea.

"Terus abis ini langsung pergi?"

"Kenapa? Mau ngajak jalan abis acara?" Ilyas tampak melihat jam tangan dengan sok gaya. "Boleh sih, aku tunggu di cafe deket sini."

"Sembarangan! Maksudku kali aja nungguin sepupu.." balas Lea malas. "Yaudah, aku masuk dulu kalo gitu. Takut kelamaan antre daftar hadir, bye.." Lea langsung balik badan tanpa menunggu respon Ilyas. Terakhir Ia hanya mendengar seruan semangat dari ketua-nya tadi sebelum Ia benar-benar masuk ke dalam gedung untuk mencari aula seminar.

Kali ini adalah ketiga kalinya Lea memasuki Gedung Citra Bahasa. Dan masih saja Ia selalu mengagumi setiap sudut desain gedungya. Gedung lingkaran berlantai lima belas, dengan desain berkelas, dan bernuansa modern. Puncaknya yang paling Lea suka adalah di setiap sisinya terdapat kaca yang bisa memperlihatkan pemandangan kota di bawah sana. Entah mengapa, di saat banyak orang yang lebih menyukai indahnya pemandangan alam, Lea lebih suka memandangi gedung-gedung dan ramainya jalan kota.

Lea menghentikan langkahnya saat merasa telepon genggamnya berdering, menandakan sebuah pesan masuk.

Dari : SAVA [Siap-siap 30 menit lagi ya..]

Lea mengernyit begitu membaca pesan masuk dari Sava. 30 menit? Siap-siap? Apa maksudnya?

Namun di tengah kebingungannya, salah satu panitia acara menyuruhnya untuk segera bergegas masuk aula karena acara akan di segera dimulai. Lea langsung memaasukkan benda persegi panjang miliknya ke dalam tas dan segera memasuki aula. Ia langsung duduk manis setelah mendapat kursi yang berada di pojok belakang. Ia benar-benar sedang tidak tertarik untuk mengikuti acara ini sekarang. Sungguh.

Lima menit kemudian pembawa acara membuka suara. Namun yang Lea dengar adalah perminta-maafan karena pembicara utama tiba-tiba tidak bisa hadir. Dan mereka harus segera menyusun ulang acara. Tentu hal itu membuat para hadirin mendesah kecewa. Para panitia hanya bisa memasang wajah bersalah karena kacaunya acara.

Lea hanya bisa memasang wajah datar menerima info itu. Ia tak tahu harus kecewa atau senang. Yang dipikirannya hanya 'Apa yang temen-temen lakuin ya sekarang?', 'Mereka udah sampai mana ya?', 'Seneng banget deh kalo ikut main'. Kemudian Ia teringat akan pesan Sava tadi. Segera Ia melihat jam tangan, tersisa 10 menit lagi. Tapi apa yang akan terjadi?

■■■

"Zivaaa!!! Sini cepeet!!" Teriak Anne pada yang tersebut namanya di seberang jalan.

Lengkap sudah formasi mereka. Anne yang telah menunggu sepuluh menit lebih awal, Risa yang kemudian datang dengan ojeknya, Sava yang menyusul 3 menit setelahnya, dan Ziva yang baru datang 10 menit lamanya. Sekarang ini mereka tengah berkumpul di depan gedung, Gedung Citra Bahasa. Ya, mereka bukan berkumpul di halte 3, melainkan berada di sini sekarang. Bukan tanpa alasan, tentu ada rencana di balik ini semua. Anne bilang namanya "KG" atau panjangnya "Kidnapping by Gurl's".

"Semua udah siap? Karena waktu kita terbatas, jadi kita harus cepet menjalankan setiap peran, oke? Kalo seandainya plan A ada masalah langsung pakai plan B, oke?" Anne memastikan semua temannya siap. Dan ketiga makhluk di depannya langsung menjawab dengan anggukan mantap.

Dengan langkah penuh waspada, mereka menuju kamar mandi untuk Risa dan Ziva mengganti seragam sekolah. Kemudian dengan cepat Risa, yang memakai seragam sekolah Duty High School, segera memasuki gedung dan mengisi daftar hadir. Kebetulan saudaranya yang mengikuti acara seminar ini tak dapat hadir. Jadi Ia memutuskan untuk menyamar menggantikan saudaranya, yang beruntungnya dapat sangat membantu melancarkan kegiatan KGnya. Setiap langkah sebelum memasuki aula, ia memberi sinyal berupa pesan singkat kepada Sava yang mengambil peran penerima sinyal dan pengawas panitia di luar gedung.

Setiap pesan singkat yang diterima oleh Sava selalu Ia sampaikan pada Anne dan Ziva untuk berjaga-jaga saat perannya harus dijalankan.

Entah kebaikan apa yang telah mereka lakukan hingga banyak sekali keberuntungan yang memihak mereka hari ini. Pertama, Risa dapat tempat duduk yang berdekatan dengan incarannya, Lea. Kedua, pembicara utama tidak dapat hadir sehingga sedikit mengacaukan acara, yang tentunya dengan mudah mengalihkan perhatian panitia. Ketiga, tak ada tukang parkir yang berjaga di area parkir sepeda. Juga bonus bahwa di area parkir hanya terdapat satu CCTV yang letaknya lumayan jauh dari tempat rencana.

"Sstt..sstt.." badan Risa agak Ia condongkan ke depan. Bermaksud agar Lea menoleh ke arahnya. Dan benar dugaannya, Lea sedikit terkejut melihat kehadirannya. Risa langsung membisikkan serangkaian kalimat agar rencana berjalan cepat dan mereka segera keluar dari sini tepat waktu. Setelah dirasa cukup untuk dipahami Lea, mereka bergegas untuk keluar aula dengan izin ke kamar mandi tanpa mengundang rasa curiga panitia. Tepat mereka keluar dari pintu aula, Risa segera memberi sinyal lagi kepada Sava dan langsung menuju pintu depan gedung dimana tempat empat panitia penjaga daftar hadir berada. Sebelum benar-benar sampai, Lea meminta berhenti sebentar untuk menghubungi seseorang.

"Halo, Aku boleh minta tolong nggak?"
"..."
"Ih beneran! Aku lagi serius, nggak banyak waktu juga!?"
"..."
"Anggep aja aku utang budi deh.."
"..."
"Kamu bisa ke gedung sekarang? Gantiin aku buat hadir seminar. Aku bener-bener ada urusan mendadak.."
"..."
"Oke makasii yaa, daah!"


Terputuslah sambungan oleh Lea sampai situ. "Ayo, kita ke meja depan sekarang!" ajak Lea.

"Masih sempet aja mikirin sekolah, ya?" ucapan Risa hanya diabaikan oleh Lea.

"Kak, tadi di dalem katanya butuh dua orang panitia buat ke sana." akting Lea.

Karena melihat Lea dan Risa tampak meyakinkan, tanpa basa-basi dua orang panitia berjalan meninggalkan meja depan. Kini tersisa dua orang panitia lagi yang tersisa. Tak lama kemudian datanglah Ziva dengan seragam yang ditutupi jaket agar tidak kentara. Terdengar Ziva mengatakan, "Kak apa ada yang namanya Bu Riska di dalem? Bisa tolong panggilkan? Ini ada dokumen penting yang harus diberikan buat acara ini katanya."

Ada sedikit rasa geli mendengar Ziva mengatakan kalimat yang sama sekali bukan gayanya. Kakak panitia yang merasa diminta tolong sedikit kebingungan karena tak ada yang menjaga meja. Tapi temannya mengatakan bahwa tidak apa-apa jika ditinggal sebentar. Dan tinggallah satu panitia di sini.

Beberapa detik kemudian Anne datang dengan pakaian yang sedikit lusuh dan napas yang terengah-engah. Ia mengatakan, "K-kak, boleh minta t-tolong?" Kakak pantia yang melihatnya seperti ada sesuatu terjadi langsung mendekatinya. "Itu sepeda di parkiran ada beberapa yang jatuh. Dan nggak ada orang sama sekali. Aku harus gimana? Aku juga sempet ketimpa juga tadi. Aku udah teriak-teriak minta tolong tapi gaada orang. Bantuin dong kak! Butuh satu orang aja 'kok!"

Butuh beberapa detik kakak panitia untuk memutuskan pergi atau tidak. Karena kalau Ia pergi, tak ada yang menjaga meja daftar hadir. Untungnya Ia memutuskan seperti yang ada di skenario plan A. Meminta tolong pada Risa dan Lea yang masih berdiri di sana. Setelah itu Ia bergegas pergi dengan Anne ke area parkir. Dengan cepat Risa dan Lea pergi meninggalkan tempat, meninggalkan Ziva yang kurang satu dialog lagi untuk dijalankan.

Sekembalinya kakak panitia yang dimintai tolong Ziva tadi, Ia langsung terkejut karena melihat meja daftar hadir yang tak ada penjaganya. "Loh, ini pada kemana semua?"

Ziva hanya mengangkat bahu tak mau ikut campur. "Gimana kak? Ada Bu Riska?"

"Kayaknya yang namanya Bu Riska nggak ada, dek. Mungkin beliau ikut seminar yang lain, atau kamu salah nama gitu?"

Ziva tampak bingung, hanya pura-pura, agar meyakinkan. "Waduh, yaudah deh kak, saya hubungi lagi beliaunya. Terima kasih ya, kak! Permisi.."

"Iya, sama-sama."

Ziva dengan cepat keluar gedung sebelum dua panitia lainnya datang. Ia langsung menghampiri area parkir untuk sekedar memberi sinyal pada Anne bahwa semua telah beres. Dan Anne yang mendapat sinyal itu langsung menghampiri satu kakak panitia yang menjadi korbannya. "Kak, makasih ya udah bantuin. Ini tadi nggak tau tiba-tiba pada roboh semua. Kalau gitu saya pamit dulu ya kak.."

"Oh iya dek, santai aja. Ini sebenernya seharusnya ada panitia yang jaga di sini. Kenapa jadi hilang orangnya. Tapi kamu emang nggak ada yang luka? Mungkin ada yang perlu di obati?"

Hampir saja Anne jatuh cinta kalau Ia tidak harus buru-buru sekarang. "Nggak 'kok, kak. Aku baik-baik aja. Kalau gitu permisi ya.."

Segera Anne meninggalkan area parkir menuju kamar mandi umum di luar gedung untuk berkumpul dengan teman-temannya. Ia berjalan seraya membersihkan bekas tanah yang Ia gosokkan sendiri ke beberapa bagian bajunya. Sangat mengagumkan. Meski harus mengotori pakaiannya, Ia tetap berjalan dengan senyum sumringah. Rencananya berhasil.

■■■

Continue Reading

You'll Also Like

398K 28.2K 27
[JANGAN SALAH LAPAK INI LAPAK BL, HOMOPHOBIA JAUH JAUH SANA] Faren seorang pemuda yang mengalami kecelakaan dan berakhir masuk kedalam buku novel yan...
692K 20.3K 40
Ivander Argantara Alaska, lelaki yang terkenal dingin tak tersentuh, memiliki wajah begitu rupawan namun tanpa ekspresi, berbicara seperlunya saja, k...
9.4M 392K 63
On Going (Segera terbit) Argala yang di jebak oleh musuhnya. Di sebuah bar ia di datangi oleh seorang pelayan yang membawakan sebuah minuman, di ke...
1.2M 90.3K 60
BOOK 1 > Remake. 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘬⚠️ ⚠️𝘥𝘪𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘰𝘮𝘰𝘱𝘩𝘰𝘣𝘪𝘤 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵...