Jarak terjauh dari dua hati yang saling mencintai, bukanlah perbedaan waktu, perbedaan jarak. Namun, ketika perasaan yang sama dihalangi oleh takdir yang berbeda. – R Herlina Sari-
------------------------
Aku selalu suka kota ini. Suasananya tenang dan menentramkan. Membuat hati menjadi gembira. Senyum sapa masyarakatnya. Tak mempengaruhi tingkat modernisasi hidup. Kesantunan para pemilik jiwa yang tengah bergelayut mesra dengan seonggok kain kumal.
Ciri khas budaya yang membuat raga tak lagi mengisyaratkan makna. Aku selalu suka saat-saat takdir mempertemukan kita dalam ketidaksengajaan. Bukan bertemu dalam artian fisik. Namun, pertemuan melalui aplikasi dunia maya. Aplikasi berlogo biru dengan nomor tiga-tiga.
Ashana Mahya Bellova, kamu bisa memanggilku Shana. Orang tuaku memberi nama bukan tanpa arti. bisa diartikan perempuan yang cantik, baik, dan bermata indah. Aku mempunyai mata biru, bukan kecoklatan seperti orang Indonesia pada umumnya.
Di kota ini, aku mulai mengenalmu. Berawal dari rekomendasi seorang teman. Aku download sebuah aplikasi yang katanya menyenangkan. Aplikasi yang bisa menyimpan kenangan. Aplikasi yang bisa mengubah luka.
[Hai,]
Satu kata singkat yang mampu menjungkir balikkan perasaanku. Coretan tanpa nama juga tanpa gambar yang membuat hati mengharu biru.
Lama aku mengacuhkanmu. Aku belum siap. Untuk dipermainkan takdir. Sekali lagi. Aku berlari dan terus berlari. Mencoba menghindar dari terkaman takdir yang menyakitkan.
Kota ini menjadi ajang untukku menenangkan diri. Membawa segenap beban luka di hati. Entah, dosa apa yang pernah aku lakukan. Sehingga Tuhan menghukum ku secara perlahan.
***
Aku berjalan melewati lorong-lorong yang bernama keputus asaan. Masih dengan gaun pengantin putih aku terus berlari. Kala itu, hujan turun dengan derasnya. Menyamarkan bulir air mata yang jatuh tak kenal malu.
“Rega, tidak datang,” Hanya kata itu yang mampu aku tangkap di dengarku.
Setelah dua jam menunggu, akhirnya kabar itu datang. Berharap hanya keterlambatan biasa karena kemacetan. Namun, ternyata Rega benar-benar tidak datang pun dengan keluarganya. Seolah mereka semua menghilang. Bungkam tanpa kata.
Meninggalkan pelaminan bisu dengan pengantin wanita yang telah berurai air mata.
Ini kisah ku, kisah seorang Shana. Yang merasa sakit karena patah hati. Ditinggal pergi kekasih hati di saat hari pernikahan. Malu? Sudah pasti. Bagaimana tidak, undangan sudah tersebar, tamu sudah datang. Namun, sang mempelai pria enggan menunjukkan batang hidungnya.
Acara yang dikemas apik oleh WO ternama di kotaku. Dekorasi sederhana namun menawan. Barisan bunga mawar dan melati berwarna putih menambah kesan syahdu.
Setelah melewati semua proses untuk menjadi pengantin perempuan. Polesan make up sederhana, dengan kebaya putih serupa ratu kerajaan majapahit. Tiara emas terpasang indah pada helai rambut yang telah tergelung.
Aku menunggu sambil membiarkan degup jantung bertalu-talu. Aku menunggu kedatangan sang mempelai laki-laki beserta keluarganya. Sementara perasaanku tak karuan. Ada rasa tak biasa, untuk sekali lagi.
“Shana, makan dulu walau hanya sedikit acar,” perintah Mamaku. Sorot matanya sendu, memahami kekhawatiranku.
“Enggak, Ma. Shana sudah kenyang. Lagian nanti lipstiknya memudar jika Shana makan,” kelakarku sambil tersenyum.
Aku hanya tidak mau Mama berpikiran macam-macam. Aku hanya mau, Mama memberiku bias harapan.
“Kamu, cantik. Seperti mamamu,” ucap mama lirih. Sebelum beranjak menutup pintu kamar.
Pernyataan Mama di bait terakhir menimbulkan tanya. “Seperti mamamu.” Entah apa yang dimaksud Mama. Aku sendiri tak pernah tahu.
Detik waktu berlalu begitu lambat. Jarum jam enggan untuk bergeser pergi. Seakan-akan menemani setiap waktu yang telah berlalu. Aku mendongak, kutatap jam dinding. Jarum pendek tepat di angka sembilan. Seharusnya sorak acara di mulai terdengar riuh. Namun, dengarku tak mampu menangkap suara apa pun. Hanya hening.
Dua jam duduk menunggu, membuatku terpaku. Punggung yang kaku ditambah rindu yang menggebu. Satu purnama berlalu, tanpa temu dengan sang pengantin. Proses pingit ala gadis desa. Pun dengan telepon. Tak pernah ada kata-kata mesra, suara yang menggelitik manja atau video yang mengisyaratkan makna.
Aku berdiri, berjalan perlahan ke luar kamar menuju panggung sederhana. Sepi, papa dan mama tak tahu ke mana pergi. Pun dengan beberapa tamu undangan.
“Shana, mau ke mana kamu?” Suara perempuan yang tak asing terdengar. Aku menoleh.
“Shana, mencari papa dan mama, Tante,” kataku. “Mengapa sepi sekali? Ke mana para tamu undangan?” tanyaku kemudian.
Tante Helena hanya bisa terdiam sambil menggelengkan kepala. Ada tatap ah mungkin sorot kesedihan di mata beningnya. Dan aku Cuma bisa bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya.
"Tante, tidak tahu apa-apa Shana. Kamu yang sabar ya." Hanya itu yang bisa tante Helena katakan. Tante Helena berlalu, membiarkan aku berdiri terpaku dalam penuh tanda tanya. Apa yang terjadi sebenarnya?
Aku berjalan melewati lorong panjang di lantai dua. Tampak jendela di depan mata. Terlihat di taman depan rumah ada enam orang sedang berjalan-jalan sambil sesekali melakukan gerakan senam. Entah apa yang mereka pikirkan. Mungkin, musik yang mengalun merdu menjadi alasan untuk bergerak. Ah sudahlah, mengapa aku harus memikirkan mereka?
Namun, sedikit banyak batinku terusik. Akan canda dan tawa mereka. Seolah lepas tanpa sebuah beban. Terlihat dari jauh senyum manis juga tawa lepas. Sambil sesekali menari-nari dan berputar-putar.
Ah ... iya, aku harus segera mencari Mama. Bertanya tentang apa yang terjadi sebenarnya. Bukankah seharusnya aku sudah bahagia sekarang? Status perempuan lajang seharusnya berubah menjadi istri seorang Rega, sang arsitektur ternama kota ini. Kupandangi cincin pertunangan yang melingkar di jari manisku. Sambil terus berjalan menuju ruang keluarga.
Hingga suara itu tertangkap. Nyata terdengar di telinga. Rega benar-benar tidak datang. Akad itu benar-benar dibatalkan. Secara sepihak. Meninggalkanku sebagai mempelai perempuan. Sendiri tanpa pelukan, juga tanpa pesan balasan.
Aku bergegas kembali ke kamar, mencari sebuah gawai yang sebulan ini aku acuhkan. Hening, tanpa ada satu pesanpun. Secara perlahan aku buka aplikasi bulat berwarna hijau. Kucari nama Rega, dan mengetik sebuah pesan.
[Re, kamu di mana?]
Centang satu. Segera aku telepon. Namun, nomor yang tertera tidak aktif. Entah apa yang terjadi. Segera kubuka profil, masih dengan display yang sama. Gambar seorang laki-laki berwajah oriental terpampang di sana. Dengan status yang tak biasa. 'Maafkan aku, Shana. Aku harus pergi.'.
Entah apa maksud dari status yang Rega buat tiga hari yang lalu. Tanpa aku tau pasti alasan akan ketidak hadirannya hari ini.
***
Di sinilah aku sekarang, mencoba lari dari kenyataan. Meninggalkan kota kelahiran dan penuh kenangan. Hanya sekedar untuk melepas beban juga rasa penat. Aku memilih kota ini bukan tanpa alasan. Kota kecil yang pernah memberikan arti kebahagiaan sesungguhnya.
Aku sadar, sejauh apapun keinginan untuk bersanding bersama. Jika takdir sudah bermain dan ambil peran. Tanpa bisa menolak hanya mampu menerima.