.
.
.
.
.
Mada menggelengkan kepalanya saat melihat ruang keluarga yang berantakan, beruntung mereka sudah selesai saat dirinya kembali ke asrama.
"Yuvan, pindah ke kamar sana." Mada menepuk lengan Yuvan beberapa kali.
Sret
Mada terkejut saat Yuvan menarik tangannya, membuat tubuhnya jatuh menindih tubuh Yuvan.
Plak
"Lepasin!" Yuvan terpaksa membuka matanya saat Mada menampar pipi nya.
"Sakit loh Da." Mada mendelik sambil bangkit dari atas tubuh Yuvan.
"Pindah ke kamar sana sat, gue mau beresin kekacauan kalian!" Yuvan mengulas senyum saat Mada mengomel sambil mulai membereskan botol-botol yang berserakan.
"Lo gak mau main sama gue juga Da?" Mada mendelik.
"Gue ingetin kalau lo lupa ya Yuvan, gue gak mau main sama lo kalau lo habis main sama yang lain." Yuvan hanya mengangguk.
"Lo beresin botol sama piring bekas cemilan kita aja, yang lain biar gue yang beresin." Mada mengangguk acuh, lagi pula niatnya memang seperti itu tadi.
"Danish gimana?"
"Tidur, ditemenin Jeffrey di studio." Yuvan mengangguk, tapi netranya tidak pernah lepas dari Mada yang sibuk membereskan bungkus cemilan.
"Kalau udah lo tidur aja Da, biar gue yang bersihin semuanya." Mada menggeleng, mana tega dia membiarkan Yuvan membersihkan semuanya sendiri.
"Udah mending lo diem dan cepet beresin Yuvan, jangan sampe nih botol gue lempar ke kepala lo!" Yuvan diam, dia sedikit ngeri saat melihat wajah kesal Mada.
"Lo serem kalau gitu bae, sabar dong."
.
.
.
.
.
Danish menatap bingung pada Wiya dan Ersya yang terlihat lemas saat mereka keluar kamar, padahal seingatnya kedua orang itu baik-baik saja semalam.
"Bang Dabi, bang Yaya sama bang Yasa kenapa? Sakit?" Mada yang memang ada duduk di sebelah Danish hanya menggeleng.
"Mungkin efek mabuk semalem cil, lo tau sendiri mereka pesta sampe dini hari." Danish hanya mengangguk paham dan kembali fokus pada anime yang tengah di tonton nya, ya meskipun sebenarnya dia tidak mengerti apa yang tengah dia tonton, dia hanya mengikuti ajakan Mada.
"Eh bang, bang Yasa tidur di kamar gue sama bang Savi ya?" Mada mengangguk kecil.
"Udah cil, liat aja itu anime nya. Paling juga Wiya salah masuk kamar karena mabuk." Danish kembali mengangguk.
"Danish~" Danish mengerjap saat Ersya mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
"Bang Yaya kenapa? Masih mabuk?" Ersya menggeleng.
"Gue gak mabuk Dan, tapi lemes, sakit badan gue." Danish mengerjap dan menatap Ersya khawatir.
"Bang Yaya kenapa? Sakit? Perlu gue panggilin bang Firly gak?" Ersya langsung menggeleng, bisa habis mereka jika sampai Firly atau Erhan tau kelakuan mereka semalam.
"Gak perlu Dan, peluk gue aja biar gue cepet seger." Ersya membuka tangannya meminta Danish untuk memeluknya.
"Gak mau bang, bang Yaya bau belum mandi. Mana baunya aneh lagi." Danish menggeleng dan semakin mendekat pada Mada. Ersya yang mendengar ucapan Danish langsung mencium tubuhnya sendiri, dan benar saja masih ada bau sperma di tubuhnya.
"Habis gue mandi peluk gue ya?" Danish hanya mengangguk kecil.
"Bang Dabi mereka semalem habis ngapain sih? Baunya bang Yaya aneh banget." Mada hanya menghela nafas panjang, dia ingin menjawab tapi takut di geplak oleh Yuvan atau Savian kalau mereka tau.
"Gue gak tau cil, kan gue sama lo di studio." Danish merengut.
Grep
"Cil." Danish langsung menggeliat mencoba melepaskan pelukan Wiya yang tiba-tiba.
"Bang Yasa lepasin." Wiya menggeleng.
"Gak mau lepasin, gue lagi pingin peluk lo." Danish mengernyit saat mendengar suara lemas Wiya.
"Bang Yasa sakit ya? Gue panggilin bang Firly ya?" Wiya langsung menggeleng.
"Gak usah cil, gue gak sakit cuma capek semalem gak bisa tidur." Danish menatap Wiya lekat, memperhatikan sosok pemuda di hadapannya itu.
"Bang Yasa di gigit nyamuk ya? Makanya gak bisa tidur." Wiya menatap Danish bingung, sedangkan yang di tatap justru memberikan tatapan polos.
"Nyamuk apa?" Danish menunjuk pada Wiya yang kebingungan.
"Itu leher bang Yasa merah-merah, di gigit nyamuk kan? Tapi kok gede-gede?" Wiya dan Mada spontan mendelik. Berbeda dengan Wiya yang langsung menutupi lehernya, Mada justru sibuk menutup mulutnya agar tidak tertawa.
"Sebentar cil, gue kekamar dulu." Danish hanya memberikan anggukan.
"Obatin dulu bang, pasti gatel kan."
.
.
.
.
.
Kepolosan Danish kali ini membuat lima anggota Akrala memutar otak, bagaimana tidak keadaan mereka membuat Danish sering berceletuk dan membuat mereka memikirkan jawaban yang pas.
"Bang Vian, abang semalem habis main game apaan?" Savian mengernyit.
"Game apa?" Danish mengedikan bahunya.
"Gak tau, cuma tadi pagi gue denger bang Dabi ngomel kalau asrama berantakan, terus pas gue tanya karena game yang kalian mainin semalem. Emang game apa? Kenapa gak ngajak gue sama bang Dabi, sama bang Jefy?" Savian memejamkan matanya, harus menjawab apa dia jika seperti ini.
"Semalem mereka main lempar-lemparan kulit kacang cil, makanya jadi berantakan." Savian menghela nafas lega saat Jeffrey membantunya menjawab pertanyaan Danish.
"Oh kacang, pasti bang Dabi capek nyapu nya. Jangan gitu lagi bang, langsung buang sampah kalau habis main." Semua yang mendengar omelan Danish hanya bisa mengangguk.
"Bang Yasa juga, kalau mau tidur pakai lotion anti nyamuk biar gak di gigitin nyamuk, mana gede-gede lagi. Padahal disini kan gak ada nyamuk kebon bang." Wiya hanya bisa mengangguk sambil menyembunyikan dirinya di belakang Savian.
"Bang Yaya juga, jangan ketawa. Kalau habis mabuk itu mandi, biar gak bau! Mana baunya aneh lagi." Ersya ikut mengangguk.
"Bang Yuyu! Kenapa gak bantuin bang Dabi beresin asrama tadi pagi? Kenapa ditinggal tidur?!" Yuvan memejamkan matanya saat Danish menuding nya dengan pertanyaan.
"Maaf ya Danish, gue masih mabuk tadi pagi, makanya gak bisa bantuin Mada. Lagian Mada yang nyuruh gue tidur kok." Danish merengut tapi mengalihkan tatapannya pada Kenzo.
"Bang Kenzo! Kenapa kalau habis main gak mandi? Sama aja kayak bang Yaya! Mana keluar kamar gak pake baju, kan gue yang liat malu bang!" Kenzo hanya mengangguk kecil.
"Iya maaf." Danish mendengus kesal, tadi pagi dia harus ikut membersihkan dapur yang berantakan karena piring dan gelas kotor, belum lagi sampah botol-botol dan kaleng bekas minuman mereka.
"Cil, udah dong ngomelnya. Gak kasian sama mereka? Udah melas banget gitu wajah nya." Danish merengut saat Jeffrey memintanya berhenti.
"Tapi mereka ngeselin bang Jefy, udah gue gak diajak main. Mereka begadang lagi, bikin asrama berantakan, habis makan gak di cuci!" Savian sebagai yang tertua akhirnya mendekati Danish dan merangkulnya.
"Iya iya Dan, maafin kita ya? Nanti kita traktir apapun yang kamu mau deh, gimana?" Danish menatap Savian curiga tapi akhirnya mengangguk.
"Apapun yang gue mau ya bang?" Kelimanya mengangguk, demi membuat Danish berhenti mengomeli mereka.
"Iya cil."
"Oke kalau gitu kalian harus nurutin apapun yang gue mau buat seminggu kedepan." Kelimanya langsung mengangguk, cuma seminggu ini. Bahkan jika Danish meminta untuk selama nya pun mereka rela.
"Iya Danish, jadi sekarang lo mau apa?" Danish terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab.
"Mau rotikopi sama ice cream di toko merah, bang Yuyu yang beliin."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat siang
Apa kabar kalian?
Ada yang nungguin Akrala gak?
Mau double atau triple up?
Selamat membaca dan semoga suka...
See ya...
–Moon–