HAPPY READING!
Namanya Olina Femina, nama yang selalu mengingatkan gadis itu akan kehidupannya. Sebuah nama yang memiliki arti 'gadis kuat dan penuh kebahagiaan'. Ialah si gadis kuat itu, hanya saja kebahagiaan tidak berpihak padanya.
Gadis dengan nama sempurna itu terdiam. Rasa kesepian melanda hatinya, tiada bulan dan bintang seperti biasanya, hanya langit hitam
nan gelap ditemani mendungnya awan.
Semilir angin yang teratur menyapu anak rambut di wajah cantik gadis itu.
"Uhuk! Uhuk!"
Olina terbatuk, tanpa sengaja ia melihat cairan berwarna merah kecokelatan di telapak tangan yang menyanggah batuknya. Apa ini darah? Dan darah apa ini? Tidak, harus berpikir positif. Mungkin saja tenggorokannya saat ini sedang bermasalah. Baiklah, tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja.
Olina segera menutup jendela yang sedari tadi terbuka, apalagi suasana saat ini semakin terasa dingin dengan angin yang berangsur mengencang dan terus menerpa.
Brak!
Terkejut, di mana sopan santun adiknya itu. Olina mendesah nafas sabar, "ada apa?"
"Minta uang, uang gue habis!" pintanya membentak membuat Olina lagi-lagi terkejut.
"Barusan kemaren aku kasih, kok sekarang udah habis?" tanya Olina tak habis pikir dengan adik perempuannya, Saskia.
Saskia menatap Olina jengah. "Itung-itungan lo?! Mau gue laporin Mama Dena, hah!" tegasnya yang membuat Olina panas dingin, nyalinya menciut jika sudah membahas Mama Dena, ibu tirinya, dalam kata lain adalah ibu kandung Saskia.
Sementara Dena yang tengah duduk santai terganggu akibat kebisingan yang ia tebak berasal dari kamar Olina.
Dena berdecak, "membuat masalah apalagi anak sialan itu!" wanita paruh baya tersebut segera beranjak dan berjalan cepat menuju kamar Olina.
"Olina! Bisa gak sih jangan berisik dan nggak ngeribetin?!" bentak Dena yang kini sudah berada di kamar anak tirinya.
Olina tersentak, karena tiba-tiba saja ibu tirinya sudah berada di kamarnya, ia yakin itu disebabkan kebisingannya dengan Saskia.
"I-iya, Ma. Bisa kok," jawab Olina menunduk takut. Sementara Saskia memasang wajah pura-pura sedihnya di hadapan Dena.
"Ma, dia pelit sama aku! Padahal aku cuma minta uang aja tapi dia gak ngasih, malah ngungkit uang yang dia kasih kemaren, itung-itungan banget!" adu Saskia yang sontak saja membuat Olina mendongak menatap tak percaya.
"Apa lo?!" dampratnya membuat Olina menunduk.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Olina yang berasal dari Dena yang membuatnya meringis menahan sakit.
Dena menatap anak tirinya, sinis. "Diajarin siapa kamu pelit kaya gitu?! Jangan itung-itungan, dia itu adik kamu!" tegasnya seraya menjambak kuat rambut Olina yang membuat kapala gadis itu otomatis mendongak. Matanya memejam menahan sakit, air matanya pun sudah membasahi pipi mulus yang sedikit membiru tersebut.
"I-iya Ma, maaf. Udah Ma, rambut Olina s-sakit," ringis Olina yang hampir tak bersuara.
"Sekarang, kamu kasih ke Saskia semua uang kamu!" tekan Dena menghempas kasar tubuh Olina.
Olina hanya dapat meneteskan air mata, kepala dan seluruh tubuhnya pun seperti mati rasa. Ia berusaha bangkit dan mengambil dompet di lemari yang senantiasa ia kunci.
"Buruan!" tegas Saskia tak sabar.
Ketika Olina sedang mengambil uangnya, dan hendak menyisakan sedikit untuknya. Saskia dengan kasar merebut semua uang yang ada di dompetnya.
Olina berusaha mengambil kembali dompetnya, tetapi ditepis kasar oleh Saskia, "sisain aku sedikit, Sas. Aku juga butuh," lirihnya menatap melas Saskia.
"Bodo amat," balas Saskia tanpa kasihan dan melempar asal domper itu ke arah Olina. Sementara Dena meninggalkannya tanpa membelanya sedikit pun.
Olina menutup pintu kamarnya, ia menangis dalam diamnya, tubuhnya perlahan ambruk. Nasibnya apakah tergaris untuk terus disakiti? "Bunda, Olin kangen bunda."
Kapan ia akan bahagia? Penderitaan yang ia rasakan tak perna usai. Dahulu ibu kandungnya adalah seorang wanita malam, tetapi ibu kandung dengan sapaan bunda itu sangat menyayanginya. Lantas bagaimana dengan ayahnya? Pria yang menurut para anak perempuan adalah cinta pertama mereka, Olina berbeda. Pria itulah yang menjadi pisau tajam yang kian menggoresnya dengan hinaan 'anak haram'.
Bagaimana dengan hari esok? Apa ia sanggup menjalaninya?
***
Olina mengayuh sepedanya. Ia berangkat ke sekolah dengan sepeda pink favoritnya.
Di perjalanan pikirannya kalut. Ia tersenyum kecut dan kembali mengingat sikap ayahnya yang dengan mudah menikah dengan wanita lain setelah dua hari peninggalan sang bunda. Sehingga saat ini ia memiliki ibu dan adik perempuan tiri. Ia kembali meneteskan air mata, ternyata adik dan ibu tirinya pun sama sekali tak menyayanginya. Luka lama belum sembuh, dan luka baru datang merobek kasar luka lama.
Olina membuang nafasnya kasar, kemudian ia tersenyum, walaupun senyuman itu terpaksa.
Ia sudah sampai di pelataran sekolah, tampak sepi dan hanya beberapa orang terlihat, mungkin karena ia yang datang terlalu pagi.
Lagi-lagi senyumnya mengembang, senyuman ini adalah senyuman tulus. Senyuman yang mengingatkannya kepada seorang pria yang menjadi teman kecilnya, dan juga kekasihnya. Pria itu bernama Ganesh, sosok pria yang begitu diidamkan oleh para gadis di SMA ANGGARA karena rupanya yang tampan dan tubuhnya yang atletis.
"Eum, gak sabar ketemu Ganesh," monolog Olina yang senantiasa tersenyum.
Baru saja gadis itu memarkirkan sepedanya, tiba-tiba sebuah motor ninja ikut memarkirkan motornya di sebelah sepedanya.
Olina berbinar memandang pria di sebelahnya, "Ganesh."
Ganesh tersenyum, "yok ke kantin, temenin gue makan, lo juga belum makan kan?" Olina tersenyum dan mengangguk senang.
Sesampainya di kantin, kantin masih terlihat sepi. Kenapa Ganesh datang lebih dulu? Jawabannya adalah karena Ganesh yang ingin menemani Olina yang selalu berangkat awal, Olina sempat menolak akan itu karena kasihan dengan Ganesh yang harus bangun lebih awal.
Ganesh merangkul pundak Olina sedangkan Olina berusaha menyingkirkan tangan kekar nan berat itu. "Ganesh, tangannya ih. Berat tau."
Ganesh terkekeh, sangat tampan membuat Olina terdiam menatapnya. "Kok diem? Katanya tangan gue berat," kekeh Ganesh lagi-lagi membuat Olina seketika salah tingkah.
"Lagian Ganesh sih, baru nyengir aja udah ganteng banget. Apalagi ketawa? Bisa diabetes Olin," cemberut Olina yang mengundang tawa Ganesh.
"Ihh, Ganesh pengen Olin diabetes?" Olina selalu kesal jika sudah bersama Ganesh, kesal yang membahagiakan. Masalah di rumah seketika hilang dari otaknya, sungguh. Ganesh adalah malaikat bagi Olina.
"Apa sih sayang, gue tau gue ganteng. Bahkan ngalahin Se-se Sehan eh apa sih?" sombong Ganesh yang berakhir kebingungan.
Olina berdecak, "Sehun, Ganesh." Akhirnya terjadi tawa pecah yang rasanya begitu hangat dan sangat candu bagi Olina.
Setelah sarapan pagi bersama Ganesh di saat itu pula bel berbunyi. Ganesh dan Olina beda kelas. Ganesh kelas IPS, Olina kelas IPA.
"Ganesh, Olin ke kelas dulu, ya?" pamit Olina, tetapi tangannya segera dicekal oleh Ganesh.
"Buru-buru amat. Lo ninggalin sesuatu," ujar Ganesh yang kesal membuat Olina bingung.
"Tas? Nih udah aku bawa, apa yang ketinggalan?" Olina kebingungan ucapan Ganesh tadi.
Ganesh beranjak dan mendekati Olina.
Cup!
Sebuah benda kenyal menempel sekilas di pipi mulus Olina. Olina terdiam dan salah tingkah akibat Ganesh yang begitu tiba-tiba.
"Ganesh ih. Malu tau, banyak yang lihat." Benar ucapan Olina banyak sekali yang melihat tingkah romantis mereka. Iri? itulah pemikiran mereka yang melihatnya.
"Gak peduli. Sono lu, katanya mau ke kelas," usir Ganesh membuat Olina mencebikkan bibirnya kesal.
"Bibirnya minta dicium?" tanya Ganesh membuat Olina buru-buru meninggalkan pria meresahkan tersebut.
TO BE CONTINUED
Hai gengs! Cerita ini murni dari halusinasi gila gw, dan dari berbagai pengalaman juga.
Di sini banyak mengandung kata-kata kasar, gw harap lo bukan anak sd, dan lo cukup umur buat baca. Satu lagi, lo sebagai pembaca harus bijak, ambil sisi baik cerita gw, sisi buruknya lo singkirin.
Gw mohon maaf kalo ada kesamaan kata, tempat, tokoh, latar, atau pun sebagainya. Semua juga gak disengaja, dan hanya fiktif belaka.
Thank you, see you next part!
Jangan lupa tinggalin bintang, jangan pelit jadi manusia, gw minta bukan berarti ngemis, tapi minta dihargain. Ya kali lo baca tapi ga tau diri.