Percayalah, nggak ada yang lebih menyebalkan dari bos yang memaksamu lembur di hari Jumat. Padahal besoknya sudah weekend. Waktunya melepas penat dari pekerjaan. Waktunya istirahat. Waktunya refreshing. Tapi ini, sudah jam delapan malam aku belum juga di kasih pulang. Empat jam lepas dari jam pulang kantor.

Yang harus menyelesaikan laporan inilah, itulah. Eh, malah ditambah lagi dengan kerjaan yang seharusnya bukan aku yang mengerjakan. Iya, tahu yang namanya loyalitas. Tapi nggak begitu juga, kali. Aku kan manusia. Juga butuh istirahat.

Masih ingat banget saat Bu Siska, atasanku menghampiri mejaku siang tadi. “Rhea, bagaimana soal sponsor? Apa semua bisa hadir saat acara pembukaan?” Seperti biasa. Bu siska berkata dengan nada datar dan tampangnya yang juga datar. Kadang aku mikir, itu orang pas Tuhan membagikan ekspresi dulu nggak dateng kali, ya?

Aku diam sesaat sambil membolak-balik tumpukan kertas dalam map warna biru di depanku. “Tinggal PT. Diandra Sejahtera saja yang belum konfirmasi, Bu. Kalau yang lainnya sudah pasti akan datang.”

“Undangan untuk technical meeting, apa sudah di kirim ke semua pemilik stand yang akan ikut bazar?”

“Sudah, Bu. Dan sejauh ini, mereka yang sudah menerima undangannya sudah konfirmasi ke Farah.”

“Bagus. Kamu sekarang lagi ngerjain apa?”

“Lagi ngerjain ID card untuk para penjaga stand di bazar.” Aku melirik tumpukan ID card yang harus aku stempel dengan stempel perusahaan.

“Kalau begitu, kamu ketik pidato saya untuk pembukaan, dan juga daftar susunan acara. Besok pagi harus kamu kasih ke saya.” Bu Siksa berkata sambil meletakkan empat lembar kertas A4 di mejaku. Kertas yang sebagian hurufnya sudah di ketik rapi. Tapi, banyak sekali tambahan coretan disana-sini dengan menggunakan bolpoin merah. Aku asumsikan kalau itu koreksi dari Bu Siksa. Kata apa yang harus di hapus dan apa yang harus ditambahkan. Kemudian Bu Siska meninggalkan mejaku dan kembali ke ruangannya.

Aku menatap lembar yang lebih mirip kertas coretan pas ujian SMA itu dengan tatapan nanar. Bu Siska tega banget, sih? Ini ID card dua ratus tujuh puluh lima lembar yang harus aku stempel satu per satu, sehabis itu dimasukkan ke plastik keplek, lalu dikasih tali. Masih ditambah dengan tugas harus mengetik ulang lembaran pidato Bu Siska tadi? Dan ini sudah pukul tiga sore. Bu Siska lupa, ya, kalau sejam lagi sudah jam pulang kantor?

Emm, aku belum cerita tentang tempatku bekerja, ya? Oke, jadi begini. Aku kerja di Harsono Boutique. Yaitu nama salah satu butik terbesar dan cukup terkenal di kota Surabaya. Kami memproduksi pakaian sendiri. Dengan kata lain, selain menjalankan butik, kami juga memiliki pabrik tekstil. Ya walau pun pabriknya nggak besar-besar banget, sih. Bu Siska adalah owner sekaligus kepala desainer di Harsono Clothing. Kami punya tim penjahit. Ada juga tim pembuat pola. Tim pembuat batik. Dan sebagainya.

Pakaian yang kami hasilkan, selain dijual di Harsono Boutiqe yang ada di lantai satu, juga didistribusikan ke berbagai cabang Harsono Boutique yang ada di Surabaya dan beberapa kota besar di Indonesia. Baru-baru ini, produk unggulan kami adalah batik. Celana berbahan batik, baju, sepatu, tas, topi, dres, dan segala seusatu yang berbahan batik. Poin plusnya adalah, batik tulis yang dihasilkan oleh perusahaan kami sendiri.

Dan profesiku? Aku adalah desainer junior. Tapi melihat dari apa yang kukerjakan selama bekerja di sini setahun terakhir ini, kayaknya aku lebih tepat disebut sebagai asisten Bu Siska.

Sebenarnya dulu aku melamar ke Harsono Boutique ini sebagai desainer junior dibawah Bu Siska dan lima desainer senior lainnya. Teman seangkatanku ada tiga orang. Aku, bekerja di bawah Bu Siksa. Dengan kata lain, dia adalah pembimbingku dan bertanggungjawab untuk menjadikanku desainer profesional. Sedangkan dua lainnya, Alamanda bekerja di bawah bimbingan Mbak Kayana, dan Maisya bekerja dibawah bimbingan Mbak Bertha. Nasib mereka berdua nggak jauh beda dariku. Persis kayak asisten desainer-desainer senior itu.

ComplicatedBaca cerita ini secara GRATIS!