1. Tumpukan Hadiah

13.9K 2.8K 151
                                    

Nala tersenyum kaku ketika baru saja duduk di tempatnya, mau mengeluarkan buku dari kolong meja justru menemukan banyak hadiah. Ini bukan yang pertama kali baginya menemukan hadiah di kolong meja. Mungkin hampir setiap hari ia mendapat hadiah. Sangat beragam, ada yang memberinya makanan sampai barang.

Nala mengeluarkan semua hadiah dari kolong mejanya. Menghela napas ketika bingung mau ia apakan semua hadiah ini? Rasanya tidak enak terus mendapat hadiah dari orang lain. Apalagi Nala tahu atas dasar apa mereka memberinya hadiah.

"Dapet hadiah lagi?" Tama yang baru saja masuk ke kelas berdiri di samping Nala sambil berdecak pinggang. "Nih." ia berikan permen hot pop ke Nala.

Nala menerimanya. Ia buka bungkus permen hot pop, memasukannya ke mulut. Ia dan Tama memang penggila permen hot pop. "Iya." katanya menghela napas.

"Yaudah yang makanan buat gua." Tama mengambil beberapa makanan di atas meja Nala. "Yang barang-barang lo simpen. Hargai aja pemberian orang."

"Jangan diambil semua Tam. Sisain buat Rena." Nala mengambil beberapa cemilan yang semula sudah dipilih Tama.

"Iya, iya. Rena nomor satu, gua nomor dua." Tama cemberut seperti seorang kaka yang tidak dianggap adiknya.

Nala terkekeh oleh sikap Tama yang kekanak-kanakan. "Gua juga nomor dua di hati lo, kan?" sindir balik Nala. Dan sindiran itu berhasil karena langsung mengubah ekspresi Tama.

Tama berdecak. "Berisik!" ia acak rambut Nala.

"Arghh Tama!" Nala menggeser duduknya agar menjauh dari tangan Tama. Ia rapihkan rambutnya.

"Nala! Nalaaa!!!" suara cempreng yang cukup nyaring itu menggema bersamaan dengan langkah kaki seorang gadis cantik berwajah jutek yang baru saja masuk kelas. "Nala!!" teriaknya lagi.

"Kenapa Ren?" tanya Nala.

"Bisa nggak suaranya jangan dibacotin gitu?" tanya Tama kesal.

"Nggak bisa. Gua itu suka kehebohan dan keberisikan. Jadi nggak bisa kalo suaranya pelan." ujar Rena bangga.

"Kenapa Ren manggil gua?" tanya Nala.

"Yelah palingan cuma manggil. Nggak penting. Kayak nggak tau dia aja lo." Tama menunjuk Rena.

Rena memukul lengan Tama. "Gua manggil karena beneran." katanya kesal. Ia tatap Nala yang sedang menunggu jawabannya. "Disuruh ke ruang guru sama bu Nani."

"Suruh ngapain?" tanya Tama.

"Palingan urusan ketua kelas." saut Rena tidak terlalu perduli. Ia duduk di tempatnya.

🍭🍭🍭🍭🍭🍭

Setelah keluar dari ruang guru, Nala harus membawa tumpukan buku tulis milik murid kelasnya. Sebagai ketua kelas memang sudah kewajibannya dalam hal mengumpulkan tugas atau mengembalikan buku.

Nala refleks menghentikan langkahnya, menoleh ke atas begitu mendengar suara bell menggema yang menandakan pelajaran segera dimulai. Setelah bell berhenti berbunyi, baru ia kembali melangkah.

"Heh, apa-apaan nih?"

Langkah Nala terhenti lagi begitu mendengar suara yang tidak jauh di depannya. Nada suaranya terdengar marah dan terkejut.

"Kenapa kak main bully gitu? Mau saya laporin ke guru?"

Nala termenung. Memang bukan urusannya. Namun rasanya begitu enggan untuk melangkah. Ia lebih memilih berdiam diri memperhatikan kejadian di depannya. Seorang siswi, yang Nala tebak anak kelas 10 duduk di lantai. Dua siswi lainnya, yang Nala kenal teman seangkatannya, kelas 11, berdiri di depan siswi kelas 10 itu. Sepertinya kedua siswi teman angkatannya melakukan bullying. Mereka berdua memang suka sok berkuasa. Nala terkadang juga muak dengan sikap sok senioritas mereka berdua.

Kemudian ada seorang cowok diantara mereka. Seragamnya terpakai rapih. Tapi dasinya belum diikat, hanya dibiarkan menggantung di leher. Tubuhnya agak pendek. Mungkin hanya setinggi 157cm. Wajahnya imut dan manis. Nala sepertinya baru pertama kali bertemu dengan cowok itu.

"Ngapain sih lo ikut campur urusan cewek? Mau jadi banci?" yang bertanya dengan nada marah itu namanya Sela.

"Justru kalo saya diem, berarti saya banci. Masa orang dibully saya diem?" tantang balik cowok itu.

"Udah Sel. Mending kita balik aja." yang memberi saran ke Sela namanya Winta.

"Rese lo!" Sela menghentakkan kakinya. Kemudian berjalan melewati cowok itu. Disusul oleh Winta di belakangnya.

"Lo gapapa?" cowok itu mengulurkan tangannya.

"Makasih ya." cewek itu menjabat tangan cowok itu, berdiri dari duduknya.

"Ah, gua lupa harus ke kelas. Gua duluan ya." cowok itu berubah panik setelah melihat jam tangannya. Ia melangkah terburu-buru.

Karena terus melihat ke jam tangannya, cowok itu tak sengaja menyenggol Nala yang memang masih mematung di tempatnya.

"Akh-" Nala memekik. Ia yang dari tadi melamun langsung tersadar berkat senggolan cowok itu.

Cowok itu menatap Nala. "Maaf kak saya nggak sengaja." meski sebenarnya cowok itu buru-buru ingin pergi menuju kelasnya. Ia justru mengurungkan niatnya tersebut dan lebih memilih berdiri di depan Nala. Ia ingin meminta maaf dengan benar dan sopan.

"Iya gapapa kok. Gua aja yang salah diem di sini."

"Sekali lagi maaf kak." katanya, dengan ekspresi bingung dan tidak enak hati.

Nala terkekeh pelan. "Gapapa." Nala bisa menebak kalau cowok itu tidak akan pergi duluan sebelum dirinya pergi, sekalipun sebenarnya cowok itu buru-buru. Nala yang peka dengan hal tersebut pun mengambil inisiatif untuk pergi duluan.

Di tengah perjalanan menuju kelas tiba-tiba saja senyum Nala mengembang dari sebelumnya ia tahan. Rasanya begitu geli sampai ingin tertawa.

"Lucu." gumamnya.

Iya, cowok tadi memang sangat lucu. Wajah buru-burunya, wajah paniknya saat menabrak Nala dan sikapnya yang kaku, tapi sopan serta ramah. Benar-benar lucu.

🍭N🍭E🍭X🍭T🍭

Cast of #Zyahera Syanala / Nala

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Cast of #Zyahera Syanala / Nala

Salah kode! (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang