Setelah menikah, Bella dan Rey tinggal di apartemen di dekat kampus. Orang tua mereka sudah menyiapkan rumah, tapi lokasinya jauh dari kampus.
Apartemen ini cukup luas, tapi sayangnya kamarnya hanya satu, kamar mandi juga satu. Sebenarnya Bella sama Rey ingin membeli apartemen dua kamar, tapi takut keluarganya curiga mereka gak akur, ya udah mau gak mau beli yang ini.
"Rey kita beneran udah nikah?"
Rey yang sedang menyetir menghela napas untuk yang kesekian kalinya, "Berapa kali lo tanya itu. Kita udah sah Bella. Sah di mata agama dan hukum. Apa perlu gue tempel dijidat lo biar lo inget dan gak tanya mulu," Rey jadi gemas sendiri. Sejak tadi pagi Bella terus bertanya akan kebenaran penikahan mereka.
Bella mengerucutkan bibirnya, dia memperhatikan cincin di tangannya, cincin yang baru tadi pagi dibelikan kedua orang tua mereka.
"Iya, sih. Masih gak nyangka aja gitu. Nikahnya sama lo lagi," Bella menyandarkan kepalanya di kaca.
"Kenapa sama gue? Punya gue besar. Dijamin lo puas," rancau Rey gak jelas. Lama-lama jadi kesal juga Bella terus mengucapkan kalimat 'nikahnya sama lo lagi'.
"Apanya yang besar?" Bella mengernyit bingung.
"Tanggung jawab gue besar. Lo bisa percaya sama gue."
"Bukan itu. Iya gue percaya sama lo. Tapi..."
"Tapi kenapa?" tanya Rey.
Bella tak menjawab, dia memainkan cincin di jari manisnya. Rey menoleh pada Bella sejenak. Rey paham keraguan Bella. Apalagi mereka menikah atas permintaan neneknya yang sedang sakit. Katanya sebelum meninggal beliau ingin menikahkan Rey dan Bella.
Bella menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Pernikahannya dilakukan secara tertutup. Hanya ijab kabul tanpa resepsi. Hah... Padahal dulu Bella mengidamkan pernikahan layaknya putri raja. Gaun mewah, banyak tamu undangan, gedung besar. Namun pada akhirnya...
"Kenapa lagi sih, muka lo kayak tertekan banget gitu."
Bella menoleh ke Rey, "Gue khawatir aja tiba-tiba lo kasih racun di minuman gue. Lo kan jail banget sama gue."
Rey berdecak, "Sini deh Bel deketan."
Bella mencondongkan tubuhnya, lalu Rey menyentil dahinya.
"Auu... Sakit," satu pukulan Bella layangkan ke lengan Rey membuat cowok itu terkekeh.
"Ya kali gue bunuh lo. Rugi gue dong. Gue masuk penjara. Terus gue-Tunggu," Rey terdiam sejenak. Kenapa juga dia bales ucapan Bella. Karena kadang Bella tuh suka nglantur ngomongnya. Asal kalian tau ya. Walau Bella ini udah gede dua puluh tahunan gini, kadang dia masih polos kayak bocah tujuh tahun. Bikin Rey gemes kalau ngomong sama Bella.
"Lo mau ngomong apa tadi. Terus gue kenapa?"
Rey diam.
"Rey... Kok diem," Bella mengoyang-goyangkan lengan Rey, "Pasti diotak pas-pasan lo itu lagi ngrencanain sesuatu yang jahat sama gue. Iya kan?"
Rey masih tetap bersabar, namun Bella gak berhenti ngomong dan terus narik-narik lengannya. Hingga tangan Rey terulur ke belakang rambut Bella, menarik leher gadis itu mendekat dan menempelkan bibirnya pada bibir mungil itu.
Ciuman singkat itu membuat Bella bungkam. Rey menarik dirinya untuk fokus menyetir kembali. Melalui ekor mata dia bisa melihat Bella masih mambatu. Senyum tercetak di wajahnya.
"Santai aja kali, tegang banget muka lo. Kita udah sah. Ciuman itu dapat pahala."
"ARGGG. Itu first kiss gue," Bella mukul-mukul Rey tak terima.
Rey mencoba menghindar, tapi Bella malah semakin menjadi memukulnya. Begitu mobil berhenti karena lampu merah, Rey menahan tangan Bella, "Bella, astaga, lo kok bringas banget sih. Nanti aja ya kalau udah sampe apartemen."
"Ngapain nunggu di apartemen?"
"Berantemnya. Jangan di jalan gini."
Bug... Bug...
Bella masih memukul Rey.
"Gue gak rela lo ambil ciuman pertama gue. Lo tau gak sih gue udah nahan diri gue buat ngasih ciuman gue ke orang yang gue cinta. Tapi lo malah rebutnya dengan cara gak estetik gitu. Arrg.... Gue gak rela. Gue juga bakal ambil ciuman pertama lo."
Bella menangkup pipi Rey dan mencium bibirnya. Rey membulatkan mata sempurna. Kaget tiba-tiba Bella menciumnya.
Tok... Tok...
Suara pintu mobil diketuk, Bella menarik dirinya lalu menjulurkan lidah pada Rey, "Kita udah seri, gue first kiss lo, dan lo first kiss gue."
Rey masih diam. Ini Bella bodoh atau bego sih?
Ketukan pintu semakin kencang membuat Rey tersentak. Dia pun menurunkan kaca. Kaget ada polisi.
"Kenapa ya, Pak?"
"Mas lagi ngapain? Kok mobilnya goyang-goyang."
Rey menoleh ke Bella yang sekarang lagi... WHAT? TIDUR? Wahhh... Rey benar-benar ingin mencekik Bella saat ini juga. Bisa-bisanya dia... SHSHS.
"Mas..."
Rey mengalihkan pandangannya ke polisi itu lagi, "Saya juga gak tau Pak kenapa goyang-goyang."
"Lebih hati-hati ya Mas, kalau mobilnya rusak segera bawa ke bengkel. Nanti malah menimbulkan kecelakaan."
"Iya, Pak."
Karena lampu hijau sudah menyala, Rey pun melajukan mobilnya. Tak lama Bella bangun dan merapikan bajunya.
"Sengaja kan lo tidur?"
Bella meringis, "Iya."
"Sumpah ya pengen gue lempar lo dari mobil."
"Kok jahat sih. Tunggu... Ini bisa dilaporin polisi nih. Omongan lo tadi udah termasuk KDRT."
"Gue lempar beneran nih."
"Enggak Rey bercanda. Ya sorry, soalnya gue takut sama polisi. Takut salah ngomong terus kita dipenjara."
Rey jadi terdiam. Ah iya ya. Bella ini kan polos rada bego. Rey jadi lega tadi Bella gak ngomong apa-apa.
Tak lama mereka sampai di apartemen.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketua BEM and His Secret Wife
RomanceCerita ini tentang kehidupan pernikahan Reynand Malik Narendra Presiden Mahasiswa Liberty University dan Isabella Putri Ayunda seorang mahasiswa design. NOTE: Cerita ini 18+. Genre: romance Start: 22 Desember 2020 #part sudah tidak lengkap
