Part 5

1.4K 76 1

. merri .

Aku senang saat Greyson datang ke kamarku disaat aku butuh seseorang untuk mengobrol. Lalu saat Greyson lebih menginginkan masakanku dibanding masakan hotel dari layanan kamar, dan aku buatkan nasi goreng, permintaan pertamanya, aku semakin senang. Aku memang bisa memasak, tapi masakanku tidak pernah dirasa oleh siapapun. Hanya aku saja. Jadi, aku sedikit ragu saat Greyson memakan nasi goreng buatanku, dan dia mengejutkanku dengan mengatakan bahwa nasi goreng buatanku begitu enak. Ditambah lagi kelakuan konyol Greyson yang selalu membuatku tertawa. Namun, kesenangan itu hanya sebentar, karena Harness meneleponku.

Harness Sullivan, dia adalah pacarku. Kami bertemu di sebuah pesta ulang tahun temanku yang juga ternyata temannya dia. Kami berkenalan di pesta itu, dia meminta nomor whatsapp-ku. Lalu kami melakukan chatting secara intensif, kemudian dia mengajakku makan malam, dan hal-hal lainnya yang dilakukan seseorang dalam masa pendekatan. Kemudian suatu hari dia mengajakku ke sebuah restoran yang berada di rooftop dan kami pun jadian.

Singkat cerita, hubungan kami begitu romantis. Kami melakukan hal hal yang menyenangkankan. Harness begitu baik padaku. Memasuki bulan kesembilan, Harness menjadi sosok pria yang berbeda dari pertama kali aku kenal. Dia menjadi seseorang yang sangat protective. Aku sungguh tak menyukainya. Whatsapp-nya harus selalu dibalas, jika aku telat satu menit saja, dia akan mengira bahwa aku sedang membalas chat ke yang lain. Sempat aku berbohong padanya bahwa telepon genggamku hilang, agar aku bisa sedikit beristirahat dari kegilaannya itu. Hingga pada akhirnya aku mulai lelah dan ingin mengakhiri hubungan ini, namun aku tak tahu bagaimana caranya.

Saat Harness meneleponku, aku dan Greyson sedang tertawa bersama. Sebenarnya aku enggan untuk mengangkat teleponnya namun Greyson menyuruhku untuk mengangkat telepon itu, dan aku juga harus mengangkat telepon itu. Jadi, aku langsung menuju ke dapur dan mengangkat telepon dari Harness. "Hallo, sayang?"

"Kenapa kau tak membalas whatsapp-ku?"

"Kau 'kan tahu bahwa aku sedang sibuk hari ini. Aku tak ada -- "

"Tapi apakah kau tak punya sedikit waktu untuk membalasnya?", tanyanya menginterupsiku.

"Aku tak bisa", kataku mulai emosi. "Kita sudah dewasa, kita harus tahu tentang profesionalitas. Kau juga pasti tahu betul tentang itu kan?"

"Aku tahu, sayang", katanya memelan. "Tapi ada seseorang yang menunggu kabarmu. Berilah sedikit waktu untuk membalasnya"

"Jika aku ada waktu, akan kulakukan, Harness. Tapi hari ini, aku sama sekali tak ada waktu". Aku ingin sekali mematikan teleponnya. "Bisakah kau tidak begitu berlebihan seperti ini?"

"Maafkan aku sayang. Aku begini karena aku mencintaimu dan tak ingin kau pergi"

"Kelakuanmu seperti ini bisa membuatku pergi, Harness. Pikirkan itu"

Aku matikan teleponnya karena sudah terlalu muak.

Aku kembali duduk dan melihat Greyson. "Maaf kalau kau mendengarnya"

"Itu bukan salahmu", katanya. "Aku yang harusnya minta maaf karena tak sengaja mendengarnya"

"Kau tak salah", kataku. "Hanya saja -- dia yang salah"

"Apakah dia pacarmu?", tanya Greyson. Aku melihatnya, lalu dia kembali berkata. "Tidak apa-apa jika kau tidak ingin mengatakannya. Aku terlalu lancang menanyakan itu -- "

"Tidak", kataku menginterupsi. "Kau tak lancang. Aku butuh seseorang untuk diajak bercerita mengenai ini karena aku sudah tak sanggup lagi menghadapinya sendirian"

"Katakanlah. Mungkin saja aku bisa memberimu saran untuk sedikit lebih tegar"

Aku menceritakan semuanya ke Greyson tentang Harness secara detail, tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun. Greyson adalah pendengar yang baik, dia terus melihatku saat aku bercerita padanya yang terkadang membuat detak jantungku berdebar tak seperti biasa karena tatapannya. Dia semakin mempesona saat memasang wajah serius seperti itu. "Aku ingin segera mengakhirinya"

Dia diam sambil berpikir. "Apa yang dia lakukan bisa dibilang baik bisa juga dibilang buruk"

"Mana yang baik dan mana yang buruk menurutmu?"

"Dia begitu karena dia mencintaimu, dan sikapnya yang berlebihan seperti itulah yang membuatmu bosan dan merasa terkekang. Benar?"

Aku mengangguk.

"Pacarmu sama dengan mantan pacarku, Lauren. Sebelum aku menjadi terkenal seperti sekarang dia begitu tak peduli denganku, namun setelah aku menjadi terkenal seperti sekarang ini, dia begitu banyak melarangku. Aku tak menyalahkannya, karena itu bukti bahwa dia menyayangiku. Namun, pada akhirnya aku merasakan apa yang kau rasakan; bosan. Lalu aku segera mengambil tindakan, aku memutuskannya"

"Lalu bagaimana reaksi pacar - maksudku mantan pacarmu itu?"

"Dia tak terima pada awalnya. Menghinaku. Menyalahkanku. Menghapus nomorku. Unfollowed Instagram, Twitter, dan yang lainnya". Greyson seperti sedikit merasakan sakit hatinya saat itu. "Namun pada suatu hari dia menghubungiku dan meminta maaf padaku. Dia juga mendukung karirku. Kau tahu kenapa dia menghubungiku duluan?"

Aku menggeleng. "Kenapa?"

"Karena dia sudah memiliki pacar lagi"

Aku berjengit tak percaya. "Apa? Jadi dia -- "

Greyson mengangguk seakan tahu kelanjutan perkataanku. "Dan pacar barunya adalah temanku sendiri. Hebat bukan? Hanya Lauren Westphalen yang bisa melakukan itu"

"Apa kau tak apa?", tanyaku. Walau Greyson tertawa setelah mengatakan itu tapi aku merasa tak enak padanya.

"Kenapa? Jelas, aku tak apa. Aku berarti tahu bahwa Lauren bukanlah yang terbaik untukku. Selesai", katanya. "Kau juga harus melakukan hal yang sama sepertiku"

"Hal yang sama?"

Dia mengangguk setuju. "Yeah. Pastikan hatimu apakah pacarmu adalah orang yang terbaik atau tidak untukmu"

"Bagaimana caranya?"

Dia bangkit dari kursi. "Tanyakan sendiri pada hatimu. Hanya kau dan hatimu yang bisa menjawabnya. Bukan aku"

"Kau mau kemana?"

"Kembali ke kamar. Mau apa lagi?". Dia menunjuk jam di dindingku. "Besok pagi kita akan melihat venue 'kan?"

Aku mengangguk. "Setelah sarapan"

"Kalau begitu, aku ingin kembali ke kamar. Terimakasih atas nasi gorengnya, Merri"

"Sama-sama Greyson"

Sebelum dia menutup pintu, aku memanggilnya. "Hey, tunggu"

"Apa?"

"Terimakasih sudah menjadi teman mengobrolku malam ini"

"Kau bisa menceritakan segalanya padaku"

Aku tersenyum.

"Selamat malam". Pintu kamarpun ditutup.

"Selamat malam, Greyson"

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!