Part 4

1.5K 76 4

. greyson .

Saat aku membuka mata, yang pertama kali aku lihat bukanlah dashboard mobil lagi tapi malah langit-langit sebuah kamar. Kamar hotel. Aku yakin pasti ini adalah kamar hotel. Aku melihat jam tanganku dan ternyata sudah jam 7 malam. Aku bangun dan mendapatkan Staci dan Merri sedang duduk di kursi yang berada di depan kasur ku. "Hallo, Greyson?"

“Hey, Merri, ya hallo”, kataku agak kikuk. “Kenapa aku sudah ada disini?”

“Aku membangunkanmu saat sudah sampai namun kau tak juga bangun. Jadi, pelayan kamar lah yang mengantarkanmu kesini". Aku lihat dari sudut matanya, dia terlihat sedikit khawatir. “Untungnya Staci bilang kalo ini sering terjadi padamu jika kau sangat kelelahan”

Staci memang sudah tahu kebiasaan buruk ku yang satu ini dari sekian kebiasaan buruk yang kumiliki. “Tak ada yang tahu soal aku di gendong kan?"

“Oh tak ada yang tahu. Hanya resepsionis hotel saja. Tenang saja mereka tak akan mengumbar”

"Terimakasih”

Merri mengambil tasnya. "Aku harus kembali ke kamar. Besok pagi setelah sarapan, kita akan menuju ke venue dan melihat persiapan panggung. Akan aku beritahukan juga soal jadwal yang akan kau lakukan selama disini"

"Okay"

Merri memegang pundakku. "Beristirahatlah, Greyson"

"Kau juga". Sebelum Merri hendak membuka pintu kamar, aku memanggilnya. "Berapa nomor kamarmu?"

“605”. Merri membuka pintu. "Selamat malam"

"Selamat malam", kataku seraya pintu tertutup.

Staci menghampiriku dan memegang keningku untuk mengecek kesehatanku. “Kau tidak sakit”

"Aku hanya kelelahan"

“Aku tahu", kata Staci yang juga sedang membereskan tasnya. “Ini pertama kalinya aku baru mendapatkan promotor seperti Merri”

"Kenapa?"

Staci tersenyum. “Dia begitu khawatir saat kau tidak bangun tadi”

“Apa maksudmu?”

“Ah tidak”. Staci berjalan menuju pintu kamar. “Lebih baik kau kembali beristirahat. Aku akan membangunkanmu jam 6 pagi"

Setelah Staci menutup pintu kamar. Aku kembali sendirian. Aku kembali membaringkan tubuh ku ke atas kasur untuk kembali tidur namun tak bisa. Aku sudah terlalu banyak tidur seharian ini. Jadi aku bangun dan melamun. Seketika terbesit di dalam pikiranku nomor kamar Merri.

605.

Aku keluar pintu kamar. Aku menaiki lift ke lantai 6 dan mencari kamar Merri.

601

603

605

Ini kamar Merri. Aku berdiri beberapa detik di depan kamarnya untuk mengumpulkan keberanian mengetuk pintu. Aku lihat jam tanganku, masih jam setengah 8 malam.

Apa Merri sudah tidur?

Apa Merri akan memarahiku jika aku berkunjung ke kamarnya?

Jika aku tak berani mengetuk pintu. Aku adalah pecundang. Jadi aku ketuk pintunya.

Tak ada suara.

Aku ketuk sekali lagi. Jika memang tidak ada, aku akan kembali ke kamarku.

Pintu dibuka. Ternyata Merri baru selesai mandi, pantas saja lama. “Kenapa kau kesini?

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!