Tanda

1.4K 215 41
                                                  

Satu bulan kemudian Izma dan Ibra berusaha untuk melupakan masa lalu mereka, dan menatap masa depan.

Setiap hari mereka sangat bahagia, tidak ada yang mereka pikirkan selain mereka berdua.

Perlakuan Abi dan umi kepada Izma pun sangat terlihat jelas, bahwa mertuanya itu begitu menyayangi Izma.

Izma benar-benar harapan untuk mereka agar mereka bisa mendapatkan cucu dengan segera.

Malam itu adalah malam yang sangat dingin. Setelah bergelut dengan sang suami, Izma pun merasa sangat kelelahan dan dia tertidur sampai pagi hari pada jam 8 pagi.

Padahal mereka harus bekerja, tetapi saking kelelahannya mereka sampai bolos kerja hari itu.

Abi dan umi tidak pernah membangunkan Izma dan Ibra, karena takut mengganggu mereka berdua.

Maklumlah mereka kan masih masa-masa indah pengantin baru, pernikahan mereka baru satu bulan lebih, jadi mereka pasti masih sangat bersemangat untuk melakukan hubungan intim.

Tetapi pagi itu ada yang aneh, Izma memang merasakan lemas di sekujur tubuhnya, tapi Izma pun merasakan pusing dan mual.

Wanita itu membuka matanya, segera bangun dan berlari menuju ke kamar mandi, dia memuntahkan semua isi perutnya, padahal isi perutnya tidak ada apa-apa cuma cairan saja.

Ibrahim yang sedang tertidur lelap, kini terkejut dengan suara istrinya, yang mual muntah di kamar mandi.

Dia segera bangun dan menghampiri sang istri."Sayang, kamu kenapa? Apakah kamu masuk angin?" Ibra bertanya kepada Izma tanpa curiga sedikit pun.

"Entahlah, Sayang. Aku pun merasa bingung, bangun tidur langsung terasa pusing lemas dan mual. Apa mungkin karena kita semalam bekerja terlalu keras, sampai beberapa kali?" kata Izma sambil menatap Ibra.

"Maafkan aku Sayang, atas hal itu, aku memang selalu menyakitimu, tolong maafkan aku," kata Ibra merasa sangat bersalah karena memang dia menggauli istrinya sampai empat kali malam itu.

Ibra sadar semalam itu Izma sudah sangat kelelahan, tetapi hawa nafsunya tidak bisa dibendung entah kenapa.

"Tidak apa-apa, mungkin aku yang saja yang sedang tidak fit," kata Izma sambil menorehkan senyum yang manis, setelah itu dia keluar bersama sang suami, dan merebahkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur.

"Sebentar ya Sayang. Biar aku ambilkan air hangat di bawah," kata Ibra sambil pergi meninggalkan kamarnya lalu menuju ke dapur.

Di dapur terlihat umi sedang bergelut dengan para pembantunya, mengeksekusi beberapa bahan masakan.

"Kalian sudah bangun, Umi lagi masak nih, kalian berdua mau sarapan roti sama susu atau langsung makan?" tanya umi Sayida kepada putra kesayangannya.

"Nanti saja Umi, Izma sepertinya sakit, dari tadi dia muntah-muntah terus dan badannya lemas, aku takut terjadi sesuatu hal kepadanya." Ibra menolak tawaran dari sang ibu.

"Benarkah? Ya sudah kamu bawakan air putih ke atas sebentar, biar umi buatkan air jahe dulu, untuk sedikit meringankan mualnya," kata umi Sayida kepada Ibra.

"Iya Umi, terima kasih banyak," kata Ibra sambil bergegas kembali ke kamarnya, sesampainya dikamar Ibra memberikan air hangat tersebut kepada istrinya, tetapi Izma tidak kuat dan kembali berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan kembali air tersebut.

"Sayang ini minum obat mualnya," kata Ibra kepada Izma, saat ini Izma mau meminum obat tersebut tiba-tiba saja umi berteriak.

"Stop jangan minum obat apa pun Umi bahwa Izma tidak sakit, Izma itu hanya sedang mengidam," kata umi dengan suara yang lantang. Izma pun terkejut mendengar ucapan umi begitu pula dengan Ibra.

"Aku mengidam?" Izma mengerutkan keningnya, lalu dia menyentuh ke arah perutnya dan tersenyum ke arah Ibra.

"Sayang mungkin benar kamu sedang mengidam saat ini. Ayo kita coba tes air kencing dengan alat tes kehamilan," Ibra benar-benar bahagia atas apa yang dikatakan oleh umi barusan.

"Apa mungkin aku hamil, padahal tunggu-tunggu ... aku hanya telat 5 hari saja." Izma mengerutkan dahinya karena dia sangat penasaran, akhirnya dia mengambil alat tespek kehamilan yang ada di dalam laci nakas.

Wanita cantik itu berjalan perlahan menuju ke kamar mandi, dan mengecek air kencing apakah sudah positif apa belum.

Dengan tubuh yang bergetar dia pun menanti alat cek kehamilan itu berubah menjadi dua garis, dia memejamkan mata karena saking takut dan ragu apakah dia sudah berhasil untuk menjadi seorang istri dan menjadi ibu untuk keluarganya.

Pada saat Izma membuka mata, ternyata benar saja, kalau ada tespek kehamilan hanya memperlihatkan dua garis merah, mata Izma membulat, tidak percaya dengan apa yang dia lihat, wanita itu tersenyum dengan bahagia, dan berjalan menuju ke luar kamar mandi.

"Sayang bagaimana hasilnya?" dengan wajah penuh kecemasan bercampur dengan wajah penuh harapan, Ibra bertanya kepada sang istri dia berharap istrinya hamil saat ini.

"Semoga saja hasilnya bagus, Umi sudah tidak sabar," kata umi Sayida kepada Izma.

"Ini hasilnya." Izma menyodorkan alat tes kehamilan tersebut kepada Ibra sambil tersenyum manis, lalu Ibra dengan segera menyambar alat tespek tersebut dan melihatnya.

"Ya Tuhan Sayang. Kamu benar-benar hamil?" Ibra begitu girang lalu memberikan alat tespek kehamilan itu kepada sang Ibu, dan menggendong Izma dan memutar-mutar tebu item ada dalam gendongannya.

Itu adalah ekspresi kebahagiaan dari seorang calon ayah dan Izma hanya tersenyum sambil memeluk tubuh sang suami.

"Ya ampun Ibra jangan berputar-putar seperti itu jangan, nanti Izma pusing dan bayinya terjadi sesuatu, jangan-jangan terlalu banyak bergerak." Umi Sayida marah kepada Ibra, karena malah membawa Izma berputar-putar, umi Sayida sangat takut cucunya itu keguguran.

"Umi jangan khawatir Itu, kan ekspresi bahagia aku, ayo sayang tidur lagi, ya," kata Ibra.

Ibra pun merebahkan tubuh Izma dan perlahan di atas tempat tidur kesayangannya. Dia lalu mengelus lembut perut Izma dengan penuh kasih sayang.

"Aku tidak percaya bahwa aku mengandung lagi. Aku tidak percaya Ya Tuhan apakah ini sebuah mimpi?" Izma begitu bahagia atas apa yang dirasakan saat ini. Tuhan begitu baik kepadanya sehingga memberikan kesempatan untuknya hamil untuk kedua kali.

"Ini adalah kebahagiaan yang terbesar untuk kita, karena bahkan kini kita akan segera menjadi ayah dan ibu, terima kasih ya, Sayang. Sudah membuat aku sebahagia ini aku tidak percaya bahwa aku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." Izma berkata dengan suara yang rendah namun penuh kasih sayang.

Pria itu tidak percaya bahwa hari ini datang juga, hari dimana yang sangat dinantikan mereka dan juga keluarga.

"Umi akan memberitahu Abi di bawah, Umi juga akan membuat sebuah pesta yang sangat meriah, biar aku memberitahu Abi dulu," kata Umi Sayida dengan senyumannya, lalu Izma dan Ibra hanya bisa tersenyum manis.

Disela kebahagiaan mereka mereka sangat bersyukur bahwa Tuhan telah menitipkan sebuah keturunan di dalam rahim Izma, tetapi tiba-tiba saja ponsel Ibra berdering dan itu adalah nomor yang tidak dikenal.

Dokter Izma 3Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang