Bab 1 - Jam Tangan

46 10 15
                                    

- Terlanjur mencinta membuat kamu buta karena telah terluka. Terlanjur ngemil melupa rasa badmood karena doimu kurang peka -


Sudah pas belum sih, quotesnya?

Ali mengetik sesuatu di layar ponselnya, sampai lupa kalau harus sungkan dengan 2 guru killer di hadapannya yang masih sibuk mencatat dan mengecek satu per satu kertas di meja. Sedangkan sedari tadi Ia hanya sibuk mengusir rasa berjamur dan lelah menanti dengan cara mencari padanan kata-kata yang pas untuk story WhatsApp nya.

"Oke, send!" ucapnya tersenyum menekan layar ponsel. Sobri dan Yuli bebarengan melirik merespon suara muridnya yang menunduk dan bergumam seorang diri.

"Le? Ngapain? Udah nemu nomor kartu pelajar kamu?" tanya Yuli menatap horor. Sobri menggeleng setelah Ali mendongak kaget menatapnya dan Yuli bergantian.

Ali hanya meringis malu lalu membalik-balik tumpukan lembaran kertas di depannya seolah membantu mencari. Meski dalam hati yang masih mengganjal, seorang manusia lokal pecinta dunia sastra, terutama novel, Alleardo Mahendta Daneswar atau biasa disapa Ali yang kini tengah dihadapkan pilihan dan dilema berkepanjangan berusaha menghilangkan malas mencari nomor kartu pelajarnya yang hilang.

Hanya untuk mencetak ulang kartu perpus!

Sementara di alam bawah sadarnya masih berkecamuk soal bagaimana harus mengatur pembagian alur novelnya yang amburadul, -mana gegara banyak ide outline jadi kemana-mana, gak bisa fokus dong, Al ... Al!- alhasil hanya bisa karang quotes seperti tadi. Belum juga dengan dilema harus menetap dengan status single abadi atau harus cari doi, dan paling ribet sedari tadi, dilema harus cuek atau merepotkan diri dengan harus berjamur di ruang perpustakaan pengap dan minim pencahayaan saat ini. Panas pula. Semua Ia relakan hanya untuk mengkonfirmasi perihal kartu perpustakaannya yang salah tulis nama.

Persoalan hari ini memang segala tentang dilema. Ribet, iya kan? Apalagi kalau sudah related soal hati.

Fyi, sudah berbulan-bulan semenjak pertengahan semester kedua kelas 7 kartu nama perpustakaanya belum saja mendapat tanggapan serius dari pak Sobri, ini sudah hampir 2 tahun lebih bahkan. Masa iya, sampai menunggu kelulusan, masalah ini baru akan terselesaikan. Lama, Mak!

Nama kedua yang seharusnya Mahendta, tertulis Mahendra -mungkin terdengar tidak familiar ketimbang 'Mahendra' karena Ia ingin beda dari spesies lain, katanya-. Bisa saja karena, keyboard r dan t yang emang gitu, suka error, kek jantung kamu pas ketemu doi. Chh, fatal juga kalau nama marga belakang yang dikira ngegantung mendapat bonus giveaway huruf a dari keyboard tak bertanggungjawab pencetak kartu perpus. Nama marga => Daneswar, bukan Daneswara, ngerti?!

Tapi masalahnya, kenapa juga Ia yang harus repot-repot di hari libur ke sekolah, seharusnya salahkan keyboardnya barangkali iseng pengen menurunkan martabat ketamvanan saya. Hmm, batin Ali mulai bosan.

"Sepertinya lembar untuk kelas 8E tertinggal di rumah, jadi besok bisa kembali ke ruang ini jam istirahat pertama. Kamu boleh pulang, "

Hah, semudah itu?
Ia menatap Yuli dan Sobri bergantian. Oke, fine.

Ali bergegas melangkahkan kaki keluar dari ruang perpus usai mencium tangan dan berpamitan dengan kedua guru tadi, memutar engsel pintu, menarik diri keluar dengan muka tertekuk, dan menghirup udara.

"Gimana, Al? Udah?" tanya Reva yang sudah menyambutnya berdiri di samping pintu.

Ali menggeleng. Tanpa bertanya banyak, Reva mengikuti Ali yang memutuskan pulang saja akhirnya.

#IBS1 - The ONAR FriendshrimpTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang