Part 3

1.6K 90 6

. merri .

Selama perjalanan menuju hotel, Greyson terus memainkan radio mobil. Dia mengganti channelnya kemudian dimatikan lalu dihidupkan kembali. Tangannya tak bisa diam. Untung saja aku sabar, jika tidak. Sudah aku turunkan dia dijalan dan membiarkannya begitu saja. Akhirnya aku mengajaknya mengobrol. "Bagaimana dengan albummu?"

"Sangat menakjubkan. Semuanya sold out di berbagai negara"

"Congratulations" Aku memutar kembali otakku untuk mengajukan pertanyaan. "Jadi apa kau senang datang lagi kesini?"

"Tentu saja aku senang, mengapa tidak? Terakhir kali itu tahun 2012". Aku tersenyum saat Greyson berkata begitu. Itu refleks. Sungguh. "Kenapa kau tersenyum?"

"Tidak apa-apa, hanya kaget saja. Apa yang membuatmu menyukai Jakarta? Semua orang Jakarta ingin sekali tinggal di luar negeri. Udaranya sejuk. Tertib, dan tidak ada kemacetan seperti yang kau lihat ini"

Greyson tertawa. "Itu kan menurutmu saja karena kau sudah tinggal lama di Jakarta. Kalau menurutku sih tidak begitu, aku suka Jakarta. Masalah Amerika juga sama macetnya seperti Jakarta tapi Jakarta lebih parah"

Pernyataan yang menarik. Aku terkesan. "Tolong, nyalakan radionya. Sepi sekali"

"Tapi aku tak mengerti dengan bahasanya", katanya seraya menyalakan radio.

Aku mengganti channel radio yang menyiarkan lagu-lagu internasional. "Ini adalah channel radio kesukaanku. Prambors namanya"

"Oh"

Aku tak membuka obrolan lagi karena aku sedang mendengarkan lagu yang di putar radio itu: Ed Sheeran - Thinking Out Loud.

Aku bernyanyi tanpa mempedulikan Greyson.

"Suara yang bagus", katanya. "Biar kutebak, ini lagu kesukaanmu?"

"Bagus? Serius?", ujarku sambil tertawa. "Tapi kau benar ini lagu kesukaanku. Apa kau pernah bertemu dengan Ed Sheeran?"

"Sekali. Saat ajang penghargaan musik waktu itu"

"Ah!". Aku mencoba mengingat. "Aku pernah lihat fotomu beredar dengannya. Kau terlihat seperti bocah"

"Apa katamu?"

"Kau terlihat seperti bocah. Begitu pendek sekali".

"Itukan dulu, sekarang aku jauh lebih tinggi daripada Ed"

"Begitukah?"

"Kenapa kau menyukai lagu ini?", tanyanya mengubah topik pembicaraan.

"Lagunya romantis. Musik videonya juga romantis". Aku diam sejenak. "Aku ingin suatu hari nanti saat hari pernikahanku, aku bisa menari seperti itu bersama suamiku"

"Jadi, kau masih single?"

"Tidak", ucapku pelan. "Aku mempunyai seorang pacar"

"Jadi kau akan menikah?", tanyanya lagi.

"Tidak -- ". Aku memberhentikan perkataanku. "Aku tidak tahu"

"Mengapa kau begitu ragu?"

Aku diam. Mengapa pembicaraan ini menuju ke arah privasi? Jadi, aku berkata, "bukan urusanmu Greyson"

"Okay, maaf", katanya dan langsung diam.

Kami berkendara dalam diam setelah itu. Aku masih memfokuskan pandanganku pada jalan, sementara Greyson? Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan hingga suara telepon genggam berbunyi.

Aku kewalahan, mencari sumber suara itu, dan aku temukan bahwa sumber suara itu berasal dari telepon genggam milik Greyson yang ternyata sedang tertidur. Aku goyangkan badannya pelan. "Hey"

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!