Part 2

1.9K 85 0

  . greyson .

Hallo Jakarta.

Ini adalah kali ketigaku ke Indonesia.
Pertama ke Jakarta, dalam tajuk showcase pertamku di tahun 2012.
Lalu kedua, aku ke Bali, hanya untuk berlibur dan menulis lagu di tahun 2015. Dan sekarang, aku kembali di tahun 2017 dalam konser dunia ku yang bertajuk "Planet X"

Aku benar benar tak merasa asing lagi berada di Indonesia dan Bali.

Tunggu dulu, Indonesia ada di Bali? Atau Bali ada di Indonesia? Atau Bali dan Indonesia terpisah?

Intinya adalah aku mulai menyukai tempat ini seperti aku menyukai tanah kelahiranku, Oklahoma.

Saat aku sampai, aku disambut dengan seorang wanita yang adalah promotorku, dia tinggi namun kurus tidak begitu Asia dari segi wajah dan logatnya. Dia menyapa Staci tapi tidak aku. Lalu dia mengantarkan kami ke sebuah kamar yang katanya telah disediakan untuk kami beristirahat. Setelah membukakan pintu ruangan itu, dia menutup pintu ruangan dan pergi.

"Dia terlihat sangat tidak ber-profesional"

"Jangan berkata begitu, dia yang terbaik dari banyaknya promotor di negara ini yang mengajukan proposal"

"Tapi tetap saja terlihat tidak profesional". Aku menyandarkan badanku di sofa. "Aku lapar"

"Sabarlah Greyson", kata Staci pelan. "Istirahat saja dulu"

"Siapa namanya?"

"Namanya adalah Merri. Merri Dian"

"Apakah kau sadar bahwa dia memiliki muka yang tidak seperti orang Asia kebanyakan? Logatnya juga. Tidak seperti dirimu"

"Oh ayolah, Greyson. Jangan bicarakan soal wajah atau apapun, bicarakan hal lain".

Lalu Merri masuk dan mengatakan kalau pesawat jet kami yang berisikan para kru dan perlengkapan tour mengalami delay selama 30 menit, dan dia menawarkan sebuah tawaran.

"Kita langsung ke hotel saja", kataku. "Aku ingin beristirahat di hotel"

Merri dan Staci menyetujui hal itu. Lalu kami keluar ruangan, tapi sebelum itu muncul lah 4 orang pria yang berbadan kekar dengan pakaian yang seragam, dan aku tahu kalo mereka akan mengamankanku saat hendak keluar menuju mobil.

"Di luar pintu ini ada sekitar 50 fans yang sudah menunggu kedatanganmu daritadi", ujar Merri dengan tatapan tajam, lalu dia melanjutkan perkataannya. "Kita harus menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, kau akan di jaga oleh 2 lapis keamanan. Kau boleh menandatangi apapun yang dibawa oleh fansmu, boleh mengambil souvenir dari mereka tapi tidak berfoto!"

"Kenapa tidak?"

"Karena kau harus terus berjalan. Keselamatanmu selama berada di Jakarta adalah tanggung jawabku. Kau mengerti?"

"Senang bisa bertemu denganmu juga, Merri Dian"

"Nah, Greyson kau siap?". Merri mengalihkan pembicaraanku. "Kau siap?"

"Akan aku lakukan apapun yang kau perintahkan"

4 pria besar itu mengawaliku. Merri berjalan terlebih dahulu bersama Staci. Setelah keluar dari pintu kedatangan, aku bisa melihat para fansku yang tengah berteriak dan melambaikan tangannya padaku. Aku mengikuti apa yang Merri katakan; menandatangani poster saja dan itu-pun saja tak banyak. Mengambil souvenir dari para fans sebisa tanganku meraihnya. Lalu aku memasuki mobil yang diikuti oleh Staci. Di kursi penumpang tidak ada Merri. "Dimana dia?"

"Siapa?", tanya Staci.

"Promotor itu"

"Dia mengendarai mobilnya sendiri", ujar supir. "Kita akan mengikutinya"

Segera saja aku turun dari mobil, tak menghiraukan teriakan Staci, dan berlari menuju mobilnya Merri. Merri mebelalakan matanya. "Jangan kaget begitu"

"Sedang apa kau disini?"

"Duduk"

"Kau gila. Kembali ke mobilmu. Kau menyusahkan sekali"

Para fans berlari ke arah mobil Merri dan menggedor gedor kaca mobil. "Kau lihat sendiri kan bagaimana konsekuensinya jika aku turun"

Merri diam memperhatikan para fans yang sudah mengelilingi mobilnya.

Aku memasang sabuk pengamanku. "Lebih baik kau juga pasang sabuk pengamanmu dan kita segera pergi dari sini sebelum salah satu diantara mereka memecahkan kaca mobilmu"

Dia melihatku sarkas. Segera dia memasang sabuk pengamannya dan membunyikan klakson sambil berjalan perlahan.

"That's good"

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!