Part 1

4.2K 120 1

  . merri .

Hari ini aku malas sebenarnya untuk bangun dari tempat tidur. Aku hanya ingin tidur terus sampe siang. Tapi aku tahu kalo itu tak mungkin ku lakukan karena hari ini aku akan menjemput seorang penyanyi yang sudah menyetujui kontrak untuk mengadakan konser disini, di Jakarta.

Aku tak terlalu senang dengan penyanyi ini. Karena sejujurnya aku tak ingin mendatangkan dia ke Jakarta, tapi karena permintaan dari para fansnya yang ingin sekali dia datang ke Jakarta, jadi aku pindah haluan untuk mendatangkan penyanyi ini ke Jakarta, dan membuat namaku sebagai promotor lebih terkenal lagi karena telah mengabulkan apa yang diinginkan oleh para fansnya selama ini.

Nama penyanyi nya adalah Greyson Chance.

Sial!

Aku melihat jam di meja yang berada di samping tempat tidurku dan ternyata sudah jam 9. Greyson serta seluruh kru-nya akan datang jam 12 siang.

What a shitty moment.

Aku bangun dari tempat tidur dan langsung menuju ke kamar mandi, mengganti pakaian dengan pakaian yang teramat sangat santai, seakan-akan hari ini aku hanya ingin hang out bukan bertemu dengan seorang artis.

Aku keluar hotel tepat pukul 10 pagi, dan aku langsung pergi ke bandara dengan harapan semoga aku tidak telat.

Selama di perjalanan aku terus menerus menelepon para anak buahku untuk memastikan bahwa semuanya telah sesuai rencana. Mulai dari hotel, venue, dan keinginan Greyson yang sangat konyol.

Dua hari yang lalu aku mengirimkan sebuah email kepada manajernya Greyson, Staci. Aku menanyakan apa saja yang Greyson inginkan dan Staci bilang bahwa Greyson tidak menginginkan apapun. Baiklah, aku senang sekali karena tidak dibuat kesusahan. Biasanya banyak artis yang memintaku buat memenuhi apa yang mereka inginkan, dan jujur saja, itu adalah hal yang sangat tak kusukai. Karena jika satu hal pun tidak terpenuhi, mereka dengan tegasnya akan meminta ganti rugi. Aku sudah pasti sangat rugi akan itu.

Singkat cerita, semalam Staci mengirimkan email kepadaku dan dia bilang bahwa Greyson menginginkan makanan Indonesia seperti; Nasi Goreng, dan Pisang Goreng. Beruntung saja makanan itu sangat gampang didapatkan, jika tidak. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana dalam waktu semalam.

--

Aku sampai dibandara dan langsung menuju ke bagian resepsionis untuk mengurus kedatangan Greyson serta meminta kunci ruangan VIP yang telah aku pesan kepada resepsionis. Setelah diberikan kunci, aku segera menuju ruangan VIP tersebut, di tengah perjalanan, aku melihat se-gerombolan remaja yang sedang duduk di lantai bandara, mereka membawa spanduk bertulisan Greyson Chance lengkap dengan fotonya. Mereka juga memakai kaos hitam dan putih dengan sablon berwajah Greyson yang aku yakini foto itu sudah sangat lama sekali, karena wajahnya begitu imut. Berbeda sekali dengan foto yang aku lihat di laman Instagramnya; tirus.

Aku senang sekali karena kedatangan Greyson melihat euforia ini, yang membuatku sangat bersemangat untuk terus menjadi promotor yang dapat andalkan untuk mendatangkan artis-artis idola para remaja Indonesia.

Dan, aku bingung, darimana mereka tahu soal kedatangan Greyson siang ini? Padahal pihak ku tak ada yang membocorkan jadwal apapun di media sosial, atau mungkin saja GC singkatan terkenal dari Greyson Chance itulah yang memberi tahu mereka.

Hah. Dasar artis baru.

Aku menyempatkan diri untuk berbincang dengan mereka yang sangat ku yakinin mereka tak mengenal siap aku. Aku menepuk pundak salah satu remaja yang berada di paling belakang. Dia membawa spanduk yang cukup besar dengan banyak foto dan tuliaan yang warna-warni, sangat kreatif. Gadis ini memakai kaos hitam dengan gambar Greyson sedang bermain golf, menggendong sebuah tas bermotif piano dan memakai sebuah bando bertulisan I ❤ GREYSON yang berkedip kedip seperti bando devil yang selalu aku liat di jalanan. "Hei, kalian sedang apa?"

"Iya?"

"Kalian sedang apa disini?". Pertanyaan yang bodoh keluar begitu saja dari mulutku. "Kalian menunggi seseorang?"

"Kami menunggu Greyson datang"

"Greyson?"

"Iya, Greyson Chance. Kau tahu?"

"Sedikit. Kalian yakin dia keluar dari pintu ini?"

"Beberapa insider mengatakannya begitu"

Insider?

"Kau ingin ikut dengan kami?", lanjutnya.

"Oh tidak, aku hanya bertanya saja"

Mungkin menurutnya, aku adalah orang aneh yang bertanya mengenai Greyson namun tidak ikut serta di dalamnya. Gadis itu membalikkan badannya dan mulai ikut bernyanyi bersama teman-temannya yang aku sendiri-pun tidak tahu judul lagu apa yang sedang mereka sedang nyanyikan.

Aku segera menuju ruangan VIP Greyson untuk bertemu anak buahku setelah itu kami menunggu Greyson, karena pemberitahuan pesawat tujuan Singapore telah diumumkan.

Aku tidak tahu mengapa Greyson lebih memilih menaiki pesawat komersial daripada pesawat jet. Tapi sementara para kru dan bandnya menaiki pesawat jet yang di dalamnya terisi perlengkapan tour miliknya. Aku tidak tahu.

Siang itu, karena banyak sekali orang yang juga keluar dari pintu kedatangan yang sama, jadi aku sedikit kesulitan mencari Greyson. Tak berapa lama setelah aku memperhatikan orang-orang yang keluar dengan teliti, aku melihat Staci keluar diikuti oleh Greyson. Aku menghampiri Staci. “Hallo selamat datang di Jakarta. Aku Merri Dian, promotor konser Greyson Chance"

Staci memberikan pelukan padaku. "Aki Staci Yamano, manajernya Greyson Chance. Kau sangat cantik ternyata dibandingkan dengan foto profil email-mu"

Aku hanya tersipu malu. Karena kebanyakan orang mengatakan bahwa aku lebih cantik di foto dibandingkan dengan wajah aslinya. Maklum saja, aplikasi pengedit begitu membantu.

Greyson berdiri di samping Staci dengan headset yang masih terpasang di kedua telinganya.

"Barang kalian akan di urusi oleh anak buahku, lebih baik kita ke ruangan yang sudah disediakan terlebih dahulu"

"Kru kami akan tiba sebentar lagi"

"Kami sudah memiliki jadwalnya", kataku. "Ayo aku antarkan kalian berdua terlebih dahulu untuk beristirahat"

Aku mengantarkan Staci dan Greyson ke ruangan VIP. Aku belum mengobrol dengan Greyson karena Greyson terlihat lebih asyik bersama headsetnya yang tidak tahu menyala atau tidak.

Setelah ruangan aku buka, aku persilahkan mereka untuk masuk dan duduk. Sementara aku meminta pelayanan ruangan segera disediakan.

"Terimakasih", ujar Staci seraya duduk di sofa. “Greyson sangat senang kembali ke Indonesia. Ini adalah kali ketiganya dia kesini"

Disaat itu juga aku sedang kebingungan, antara mendatangkan Greyson Chance atau mendatangkan Cody Simpson. Ternyata yang terpilih adalah Greyson Chance. Karena kepala pucat itu menggegerkan Indonesia karena kedatangannya ke Bali selama satu minggu.

"Apa kalian ingin ke hotel terlebih dahulu? Karena anak buahku bilang bahwa pesawat jet kalian delay 30 menit karena ada beberapa pesawat yang masih menggunakan landasan. Bagaimana?"

"Kita ke hotel saja", ujar Greyson pada akhirnya walau headsetnya belum dia lepaskan. "Aku ingin beristirahat di hotel"

"Okay kalau begitu, akan ku antarkan kalian menuju hotel"

[ BOOK 1 ] - D I V E | Greyson ChanceRead this story for FREE!