Chapter 2

18 11 0
                                                  


Sepasang suami istri yang baru pulang bekerja pun segera memasuki kamar sang buah hati. Ya, Ayah dan Ibu Allysa. Mereka berdua duduk di tepi kasur, dengan lembut sang Ibu membelai rambut anaknya. Sang Ayah pun tersenyum.

“Aca, maafin mama ya. Karena mama belum jadi Ibu yang baik buat kamu nak,’’ Digenggamnya tangan anaknya itu. Ada rasa bersalah yang tersimpan dilubuk hatinya.

“Sayang, sebentar lagi kan Aca ulang tahun. Gimana kalau kita rayain?’’ usulnya pelan, sembari tersenyum hangat.

“Nanti, kita sempetin waktu buat acara ulang tahun Aca ya? Biar Aca seneng. Oh iya, setelah ulang tahun Aca nanti gimana kalau kita liburan sekeluarga? Sekalian nemenin aku meeting di luar kota?’’ tuturnya dengan senyum pada sang istri.

“Iya, kalau aku sih setuju setuju aja asal Aca seneng,’’ Jawab Annisa, Ibu Allysa dengan senyum hangat sembari menggenggam tangan sang suami dan mengajaknya meninggalkan putri mereka yang terlihat pulas itu.

Keesokan pagi nya, sama seperti biasanya. Saat Allysa bangun, kedua orang tua nya sudah tidak ada di rumah. Ia pun hanya memakan sepotong roti dan meminum susu yang telah disiapkan oleh Bi Ana. Segera setelahnya, ia pun bergegas pergi ke tempat favoritnya yaitu rumah pohon.

Rumah pohon itu tak terlalu jauh dari rumahnya, wajar saja jika Allysa kecil hanya berjalan saja untuk sampai kesana. Tak ada rasa takut apa pun, gadis kecil itu terus berlari dengan lincah menuju rumah pohon. Dilihatnya Ari yang sudah ada di sana.

“Ariiii...’’ teriaknya dengan riang. Ari yang merasa terpanggil pun spontan menoleh, ia tersenyum mendapati sang sahabat yang kemarin menangis kini telah ceria lagi seperti biasanya.
Allysa kecil pun duduk di sebelah Ari, gadis kecil itu menatap sahabatnya beberapa saat sampai akhirnya disadari oleh sang sahabat.

“Aca kenapa liatin Ari gitu? Ada yang mau dibicarain?’’ Ari pun memiringkan kepala nya menghadap Aca.

“Ari inget gak besok hari apa? Ari inget kan? Iya kan? Tadi pagi Papa sama Mama Aca juga udah pergi kerja. Jadi, Aca ga tau apa mereka inget atau lupa sama hari besok.’’ Gadis kecil itu pun menunduk.

Tak lama setelahnya ia pun kembali tersenyum dan berkata, “Tapi, Aca kan juga punya Ari. Jadi, Aca juga mau tau. Apa Ari inget besok hari apa?’’ Matanya kian berbinar, ada harapan di matanya.

“Eum, besok hari kamis kan?’’ Jawab anak laki-laki dengan singkat. Mata yang tadinya berbinar itu pun menyipit dengan wajah yang terlihat sebal.

“Ihhhh, Ari jahat. Ari lupa sama hari spesial nya Aca, pokoknya Aca ngambek ya...’’ Ari yang melihat sahabatnya kesal itu pun terkekeh. Ya, bagaimana tidak? Dia berhasil membuat sahabat nya masuk ke dalam candaan nya.

“Maaf ya, Ari Cuma mau usilin Aca doang kok. Ari ga lupa lah pasti besok hari apa, dan Mama sama Papa Aca juga pasti ga bakalan lupa kok. Percaya deh sama Ari,’’ Dengan tangan kanan yang terangkat, ia mencoba meyakinkan sahabatnya itu.

“Iya iya, Aca percaya deh. Tapi beneran kan Ari inget?’’ tanya Allysa kecil sekali lagi.

“Iya Acaaaa...besok hari dimana umur Aca bertambah jadi delapan tahun. Dan hari ini Ari punya sesuatu deh buat Aca,’’ tutur anak laki-laki itu dengan detail.

“Apa? Hayo, Ari mau kasih Aca apa?’’ tanya gadis kecil itu dengan penasaran. Sedangkan Ari merogoh kantong sakunya.

“Nih, Ari punya ini. Ari mau kasih yang satunya untuk Aca, mau gak?’’ Dua buah gantungan kunci akrilik polos dikeluarkan oleh Ari. Tak lupa juga dengan satu buah spidol yang sudah dibawanya dari rumah.

“Itu buat apa? Spidolnya juga buat apa?’’ tanyanya lugu. Ari pun menjitak kening sahabatnya itu.

“Ariiii! Sakit tau...’’

“Kamu itu udah besar Aca, masa ga tau ini apa.’’ Ia pun menepuk jidatnya.

“Ini itu gantungan kunci, bisa juga ditaruh di tas,’’ Jelas anak laki-laki itu dengan wajah antusias.

“Oooo...gitu ya? Yaudah sini buat Aca satunya.’’ Pintanya dengan menyodorkan sebelah tangannya.

Ari pun mengangguk. Namun, ia tak langsung memberikan benda itu pada Aca. Ia terlebih dahulu menuliskan inisial A & A di permukaan gantungan kunci itu. Gadis kecil itu pun hanya diam dan memerhatikan apa yang dilakukan oleh sahabatnya.

“Ini singkatan dari Aca dan Ari. Makanya Ari tulis AA. Aca ambil satu yah.’’ Dengan sigap gadis kecil itu pun mengambil gantungan kunci tersebut. Dipandanginya gantungan kunci itu dengan senyuman.

“Ari, kita pulang yuk! Aca mau bobo siang, soalnya kan besok Aca pasti sibuk. Karena, besok kan hari ulang tahun Aca,’’ celotehnya yang sudah menggandeng tangan Ari. Ari pun hanya bisa mendengar dan menyimak apa saja yang dikatakan oleh sahabatnya itu.

Setelah sampai di depan rumah Aca, Ari pun pamit ingin pulang. Rumah Ari pun tak jauh dari rumah Aca, hanya beda jarak satu rumah kearah kanan.
Aca pun mengangguk, ia segera membuka pagar dan masuk ke rumahnya.

“Aca...kamu dari mana nak?’’ Suara yang jarang sekali didengarnya, tentu saja membuatnya bingung sekaligus kaget. Ibunya ada dirumah saat ini. Hal yang jarang sekali terjadi.

“Mama? Mama udah pulang?’’ tanya nya bingung. Namun, ia tetap berlari kepelukan sang Ibu.

“Iya sayang, semalem Mama sama Papa udah ada rencana buat pulang lebih dulu. Biar bisa persiapan,’’ ucap sang Ibu dengan senyumnya yang merekah.

‘’Persiapan buat apa Ma?’’

“Besok kan Aca ulang tahun sayang. Jadi, hari ini Mama sama Papa mau handle acaranya.’’

“Makasih ya Ma.’’ Pelukannya pun lebih erat.

“Ekhem, enak ya jadi Mama. Dipeluk terus sama Aca.’’ Sang kepala keluarga pun angkat suara.

“Papa... Aca kangen.’’ Gadis kecil itu pun kemudian beralih dan menuju kepelukan sang Ayah.

“Hap...dapat. Papa juga kangen sama Aca. Duh, sekarang Aca jadi tambah berat ya?’’ ucap sang Ayah saat menggendong Aca. Ia pun terkekeh menggoda Putrinya itu.

“Ihhh Papa...Aca gak berat tau. Aca juga dikit kok makannya,’’ balas gadis kecil itu tak terima.

“Iya iya, Papa tau kok. Kamu ga makan banyak. Tapi, kamu suka makan coklat kan? Hayo ngaku, minggu ini berapa kali Aca ngambek sama Ari?’’ goda sang ayah lagi.

“Eum, berapa kali ya? Seinget Aca sih udah 3 kali kayaknya Pa,’’ jawabnya polos.

“Nah, artinya minggu ini Aca udah 3 kali makan coklat kan? Pantesan Aca berat.’’

“Ih...Papa curang deh.’’ Bibirnya dimajukan beberapa centi, wajahnya pun terasa panas.

“Papa bener kan? Jadi, mulai sekarang Aca jangan sering ngambek ngambek ya sama Ari. Kasihan Ari, tiap kali dibeliin cokelat sama Ayahnya pasti dikasih ke kamu loh. Untung Papa baik, jadi Papa beliin Ari coklat yang gede itu deh buat ganti coklat yang dikasih ke Aca.’’ Mata gadis itu pun membulat, kedua pipinya terlihat mengembang.

Merasa gemas dengan putri satu-satunya itu, sang Ayah pun lantas mencubit pipi kanan putrinya. Dan menurunkan nya.

“Kamu bobo siang dulu ya, Papa mau urus buat persiapan besok.’’ Allysa kecil pun berlari menuju kamarnya dan beristirahat.

***

AllysaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang