Langkah awal

29 8 0
                                                  

Elvano Pov

"Van! Gue denger-denger ada cewek aneh di sekolah kita," celetuk Rafael.

"Banyak rumor di sekolah katanya kalau tuh cewek sering kepergok ngomong sendiri," timpal Vino.

"Maksud kalian berdua Si Evelyn?" tanya gue.

Nama gue Elvano Ganindra Ryszard, malam ini gue dan kedua teman gue sedang nongkrong di salah satu cafe yang lagi viral. Entah karena makanannya atau tempatnya yang menurut gue pribadi cukup nyaman. Kedua teman gue itu, tak lain adalah Rafael Surya Alaska dan Alvino Barraq. Gue temenan sama mereka dari gue masuk SMA ini. SMA Pradipta, Bandung.

"Boleh tuh lo pacarin, ntar Elsa jadi target gue," ujar Rafael.

"Mau lo kena gampar sama Elvan?!" hardik Vino.

"Tunggu Vin, kayaknya gue setuju sama idenya Rafael, masalah Elsa gampang, dia nggak bakalan tahu soal ini. Lagipula juga dia lagi di luar kota, status gue sama dia juga masih nggak jelas," ujar gue.

"Oke kalau itu keputusan lo, besok lo deketin dia Van."

"Pasti, Raf." Setelah itu, perbincangan berlanjut, andai saja tidak larangan merokok di cafe ini. Sudah dipastikan kita bertiga, akan menghisap benda itu.

Keesokan harinya, gue sengaja berangkat sekolah lebih awal. Bukan karena hari ini hari pertama gue ke sekolah, melainkan gue berencana menemui cewek yang sempat menjadi topik perbincangan satu sekolah. Sebenarnya, kalau dilihat dari foto hasil Rafael stalk semalam, cewek itu cantik juga.

"Gimana Van? Lo udah temuin dia belum, dia kelas XI IPA 3 kalau lo belum tahu."

"Bentar, Vin. Lo tahu nggak gue kelas berapa?" Pertanyaan gue berujung mendapat jitakan dari Vino.

Memang dari kemarin, gue belum sempat membaca pembagian kelas untuk tahun ini. Menurut gue itu bukan hal yang penting. Bahkan, di dalam tas yang gue bawa hanya berisi satu buku saja.

"Kebiasaan lo Van, lo sama gue satu kelas di IPA 6, sedangkan Rafael dia satu kelas sama Evelyn."

"Kenapa nggak gue yang satu kelas sama dia?"

"Ya mana gue tahu, gue kan nggak tahu."

"Lo minta tuker kelas aja, mudah kan?" lanjut Rafael.

"Nggak semudah itu, lagian gue males satu kelas sama lo! Cowok kutu buku."

"Wah-wah pagi-pagi udah mau ngajak ribut, sini kalau berani maju."

Hal ini sudah sering terjadi dalam pertemanan gue. Tak ada keributan, maka tak warna dalam ikatan ini. Buktinya sekarang, gue tengah adu tonjok sama dia. Tentu saja, hal ini menjadi pusat perhatian. Walaupun gue tahu, Rafael tak pernah serius marah sama gue, tapi hitung-hitung gue latihan bela diri gue.

Niat awal gue adalah bertemu dengan cewek bernama Evelyn, batal. Karena, insiden tadi. Beruntung tidak ada guru yang melihat, hanya satpam sekolah saja yang melerai kita berdua. Tak lama setelah itu, bel masuk berbunyi. Sekedar informasi, kalau gue, Vino dan Rafael itu most wanted cowok di sekolah ini.

Gue pun masuk ke dalam kelas IPA 6, hanya bersama Vino. Gue sudah pasti paham dengan kondisi kelas yang saat ini gue masuki, semua cewek menatap gue kagum.

"Sumpah gue seneng banget bisa satu kelas sama cogannya Pradipta."

"Gue setuju tuh, tapi sayang nggak ada Abang Rafael."

"Nggak ada Rafael, masih ada Elvan sama Vino."

Banyak sekali celotehan kekaguman itu, keluar dari mulut mereka. Gue pasang earphone di telinga gue lantas duduk di bangku pojok belakang. Beberapa menit kemudian, guru pun datang.

Cinta Gedung TuaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang