03. Kacau

25 3 1
                                              

Di rumah Arga.

"Oma, Arga mohon. Sekali ini aja, Oma dengarkan permintaan Arga."

"Iya, ini Oma sudah dengar, kan?"

"Bukan itu Oma. Arga mau Oma dengarkan dan turuti. Arga mau pulang ke kota, Oma. Arga beneran nggak kuat di sini. Please ...."

"Nggak kuat apanya? Emang kamu lagi uji nyali! Lagian Oma tanya, apa alasan kamu mau pulang, kamu nggak jawab dengan jelas! sudahlah, nggak usah berlebihan, Arga! Pokoknya, kamu tetap di sana, sampai waktu yang sudah kita sepakati! Udah, ya! Malam ini Oma mau arisan. Jangan telepon-telepon Oma lagi! "

Belum sempat Arga menjawab, Oma sudah menutup telepon sepihak. Arga mengerang frustrasi. Dia pun melempar telepon genggamnya ke atas kasur.

"Aaaggghhh! Kacau! Semua kacau karena lo, Gina!" Arga mengacak-acak rambutnya yang masih basah. Ya, Arga baru saja selesai mandi. Mandi hujan lebih tepatnya.

Karena kejadian di sungai sore tadi. Arga harus menanggung malu, dia pulang dengan kondisi tubuh berbalutkan pelepah daun pisang dan diguyur hujan yang amat deras.

Masih terekam jelas di ingatannya. Meski sudah sembunyi-sembunyi saat melewati perkampungan, sialnya Arga berpapasan dengan bocah-bocah yang kebetulan sedang bermain di lapangan sepak bola.

Ironisnya, bocah-bocah itu mengira Arga adalah orang gila kampung seberang yang sering berkeliaran.

Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu kamar Arga.

"Siapa?" tanya Arga sambil menyisir asal rambutnya dengan jemari. Ia pun berusaha menetralkan ekspresinya saat ini. Tak akan ia biarkan seseorang mengetahui bahwa dirinya sedang dalam masalah.

"Saya, Den, Mbok Rima. Mbok mau antar teh jahe untuk Den Arga ... biar ndak masuk angin."

Ah, ya! Arga hampir melupakan kehadiran Mbok Rima. Beliau adalah kakak pertama Pak Wiro. Mbok Rima juga sengaja di utus oleh Oma agar merawat serta menjaga Arga selama di kampung.

"Terima kasih, Mbok. Harusnya Mbok Rima nggak perlu repot-repot begini," jawab Arga setelah membukakan pintu untuk Mbok Rima. Tangannya terulur menerima secangkir teh jahe hangat buatan Mbok Rima.

"Sudah sewajarnya, Mbok begini, Den."

"Tapi ...." Arga menyeruput minumannya. "Kalau sudah larut begini, lebih baik Mbok istirahat, ya? Saya nggak mau, karena sibuk meladeni saya, Mbok malah jatuh sakit, lelah ke sana-sini."

Hati Mbok Rima mengembun. Ternyata benar yang dikatakan warga. Arga memang pemuda yang santun.

"Jangan kuatir, Den. Selagi Mbok bisa, Mbok akan memberikan yang terbaik buat Den Arga."

Arga mengangguk. Dia pun lantas kembali ke kamarnya setalah Mbok Rima beringsut. Kembalinya Mbok Rima, kembali pula wajah kusut Arga. Ia tampak tidak bersemangat.

Haruskah ia membalas dendam pada Gina?

•••

Berbeda dengan Arga yang kacau. Gina, yang dapat julukan sapi rabies oleh Arga, tampak gembira ria di warung tempat biasa Gina nongkrong. Dengan wajah tanpa dosanya, Gina menceritakan bagaimana cara dia mengerjai Arga.

Gina duduk berdampingan dengan anak-anak muda kampung dan tak lupa Popon juga di sana. Sebagian dari pendengarnya, ada yang memuji akan aksi nekadnya yang berani mengerjai cucu dari pemilik kebun tempatnya bekerja.

Ada pula orang yang merasa tidak suka akan tindakan yang dilakukan oleh Gina. Dia adalah, Lini–anak dari pemilik warung itu.

GINARGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang