02. Oh Tuhan! Gina Gila!

45 9 49
                                    

Beberapa hari kemudian.

Gina duduk termangu di gubuk kecil, tempat biasa ia beristirahat setelah bekerja menanam sayuran. Ia tak sendirian. Popon, teman dekatnya juga duduk di sebelahnya. Gina  menerawang jauh, pikiran dan hatinya berkecamuk tak karuan.

Arga sudah menjadi perbincangan hangat di perkebunan. Semua orang membicarakan dirinya. Memuji ketampanan dan sikapnya yang sopan serta ramah.

Hal tersebut membuat Gina memanas, bahkan ia ingin sekali menyumpal mulut siapa saja yang menyebut nama cowok itu.

Sopan? Ramah? Sekali lihat saja sudah tahu, bahwa Arga adalah orang kota yang sangat angkuh. Banci takut kotor adalah label yang cocok untuk cowok berkulit bersih itu.

"Duh, Gusti! Ganteng banget. Mas Arga ... bawa aku, Mas!"

"Iso meneng ora!" bentak Gina meminta Popon agar diam.

Tak merespons ucapan Gina, Popon malah semakin menjadi. Perempuan bergaya nyentrik itu bertingkah seperti cacing kepanasan saat ia memandangi benda pipih yang ia genggam.

"Cowok yang kayak gini gagah dan tampannya, kenapa kamu musuhi, Gin? Kamu salah sasaran kalau mau cari musuh." Popon mencak-mencak sembari menunjukkan telepon genggamnya di hadapan Gina. Dari layar itu, ada foto-foto Arga yang berhasil Popon ambil secara diam-diam.

Gina mengerling dengan wajah datar. "Terserah apa katamu. Pergi sana! Berisik! Lagian, diam-diam mengambil foto seseorang tanpa izin itu tindakan kriminal! Bisa masuk penjara!"

Popon kicep. Ucapan Gina terdengar seperti doa untuknya. "Ck! Ah ... nggak mungkin!" elak Popon sembari mengibaskan tangannya. Mengusir pemikiran negatif Gina. "Coba, deh, kamu buka mata lebar-lebar. Arga itu ganteng banget."

Lihat, Popon masih berusaha merayu Gina. Bahkan ia tak gentar terus memuji Arga. Gina menatapnya tajam, tanda ia benar-benar tak suka.

"Kalau kamu mau puji cowok sialan itu, jauh-jauh, deh! Aku muak! Dia duluan pancing emosiku. Banci takut kotor! Norak banget!"

"Kenapa kamu jadi sensi gini sama dia? Kamu keterlaluan tahu. Lagi pula, wajar kalau Arga begitu memerhatikan tentang kebersihan, secara dia memang cowok yang peduli akan kebersihan. Bukan kayak kamu."

Sindiran keras Popon tak diindahkan Gina. Ia memutar malas bola matanya sambil menutup kedua telinganya dengan jari telunjuk.

Sedangkan Popon, mengelus dadanya. Dedemit mana yang merasuki temannya itu? Entahlah, Popon tak habis pikir. Sepertinya ia harus mengalihkan pembicaraan sebelum amarah Gina meledak lagi.

"Udah selesai, nih?" tanya Popon melihat rantang yang tadinya berisi penuh rendang jengkol, kini telah tandas.

Gina hanya mengangguk dan tak sengaja ia bersendawa terlalu keras.

"Jorok!" cibir Popon. Berkat cibirannya itu, ia dihadiahi tinjuan kecil oleh Gina.

"Terima kasih, Popon cantik! Besok bawain aku rendang jengkol lagi! Masakanmu enak!"

"Bukan masakanku yang enak! Tapi, kamu yang ratu jengkol!" sungut Popon. Ia pun lekas membereskan rantang kotor miliknya dan bergegas pulang ke rumah sebelum jam kerja dimulai.

•••

Sementara itu, di tengah terik matahari yang terasa tepat berada di atas kepala. Arga dan Pak Wiro berkeliling kebun, melihat seberapa luas dan suburnya tanaman yang selama ini dipercayakan Omanya pada Pak Wiro.

GINARGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang