6. THE NEWS HAS MADE HER NERVOUS

488 66 2
                                                  

Holla!

Septi datang, nih, bersama para pemain lainnya juga. Jangan lupa dikomen kalau ada typo(s).

Selamat membaca! :)

***

6. THE NEWS HAS MADE HER NERVOUS

"Jadi, untuk akhir tahun ini sanggar kita bakal dipakai?" Septi menatap Ambun dengan tidak percaya.

"Iya. Rencananya gitu. Mama gue bilang biar bisa makin dikenal. Kan lumayan, bisa masuk TV sama youtube."

Septi mengangguk, sangat bersemangat mendengar kabar tersebut. "Nanti bakal diajak berapa orang?"

"Kita kan punya anggota lima puluh orang, nih. Nanti kita juga bakal tampil juga atas nama sanggar sendiri. Jadi, untuk penari latar dibagi-bagi dulu." Ambun mengeluarkan buku berisi biodata dan jenis tari yang disukai para anggota. "Nah, lo yang lebih banyak di ruangan sama Lisa dan Rico, jadi gue serahin ke kalian buat milih. Nanti untuk tampil, maksimal ada dua pertunjukkan; bebas mau apa aja. Untuk penari latar, kira-kira untuk tiga penampilan. Kemarin management Lalisa, Maryamah, sama Pradapa ngontak nyokap gue, kata mereka bakal pakai jasa sanggar kita. Masing-masing mau sepuluh orang. Sisa dua puluh orang yang bisa lo sama Lisa dan Rico ajak buat nunjukkin kemampuan kalian dan nama sanggar kita."

Septi mengangguk paham. Di kepalanya sudah terbayang akan menampilkan pertunjukkan apa nantinya. "Oke. Biar gue sama Lisa dan Rico yang milih-milih. Tapi, dari ketiga management itu ada diminta kriteria penari khusus nggak?"

"Nyokap gue nggak ada bilang, sih. Atau, coba nanti gue telepon balik, deh, nanyain pastinya."

Obrolan mengenai rencana konser akbar akhir tahun berakhir lima menit kemudian. Septi pamit lebih dulu untuk pulang karena sudah ada janji makan malam dengan keluarga besar. Sebenarnya dia malas, dan sudah beberapa kali tidak menghadiri acara makan malam tersebut, dan kali ini dia dipaksa—diancam—untuk datang jika tetap ingin menjadi pelatih di sanggar. Mau tidak mau dia harus datang.

Septi yakin, makan malam nanti bukanlah makan malam biasa. Ada obrolan lain yang pastinya menyangkut dirinya. Terlebih setelah makan malam sebelumnya—bukan dengan keluarga besar—dia terang-terangan menolak dijodohkan dengan seorang dokter anak yang terpaut lima tahun darinya. Dia tidak ingin dijodohkan. Takut akan berakhir seperti Sabila.

Namanya Rafki Permana Septiadi. Berusia dua puluh delapan tahun. Berprofesi sebagai dokter anak—yang kata orang tuanya merupakan kesuksesan di usia muda. Lelaki itu baik, mereka pernah bertemu sekali saat makan siang dadakan tempo hari, sopan dan penurut. Oke, lebih tepatnya terlalu penurut. Jelas saja Septi tidak menyukai tipe laki-laki yang terlalu menjadi anak ketiak ibunya. Bukan dia ingin menjauhkan anak dari ibunya, tapi itu terlalu berlebihan. Dia tidak ingin—jikapun nanti terpaksa—menjalin sebuah hubungan dan terlalu didominasi oleh keluarga pihak laki-laki. Bukan terlalu banyak menonton sinetron, tapi dia sudah bercermin lewat banyak kasus kegagalan hubungan karena pihak keluarga yang terlalu ikut campur dan mengatur-atur.

Rafki jelas sekali bukan lelaki yang bisa berdiri sendiri tanpa ketiak ibunya. Bahkan dari penampilannya saja, jelas sekali lelaki itu menjadi dokter pun atas keinginan orang tuanya, begitu terpaksa meski tetap profesional dan tidak asal-asalan. Sepintas pada obrolan makan siang tempo lalu, lelaki itu keceplosan mengenai kesukaannya akan otomotif, tapi dilarang keras oleh orang tuanya. Septi sudah langsung dapat memberikan penilaian dari sana.

Septi tidak mencari sosok yang sempurna—atau harus seperti Tama yang menurutnya luar biasa—ataupun harus sesuai kriterianya. Hanya saja, Rafki terlalu banyak minus di matanya. Dan dia tidak ingin menjalin hubungan yang hanya akan menyakiti satu sama lain karena terpaksa.

LOST INSIDE YOUR LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang