01. Hari Pertama, Kesan Pertama, Kesialan Pertama

43 14 44
                                    

Malang, Februari 2019

Mentari masih enggan menunjukkan eksistensinya. Meski begitu, keindahan desa ini sangat memesona. Sawah yang menghijau terbentang luas, bukit-bukit menjulang tinggi, seakan menyentuh awan putih di sana. Tak hanya itu, pepohonan rimbun yang berjajar rapi di pinggir jalan, menambah kesan asri desa tersebut.

Dari balik jendela mobil mewah yang sedang melintas, terlihat seorang pemuda tengah menikmati pemandangan di luar sana. Takjub. Ia tak akan menemukan pemandangan seindah ini di Jakarta.

Senyumnya kian mengembang sempurna, saat melihat anak-anak kecil berlarian di pinggir sawah mengejar layangan putus.

“Sepertinya, Mas Arga bakalan betah di sini.”

Arga mengernyit. Ia kemudian melihat ke arah depan, tempat di mana sopir mengemudi. “Kenapa begitu, Pak Dadang?” tanyanya.

Pak sopir tersenyum sembari melirik Arga dari kaca spion. “Karena, Mas Arga nggak akan dengar omelan Oma lagi.”

Seketika, suasana di dalam mobil itu menjadi ramai akan suara tawa Arga dan sopir kepercayaan Omanya. Yang dikatakan Pak Dadang benar, untuk beberapa waktu ini, Arga libur dari ceramah Sang Oma. Meski ia harus tunda mewujudkan impiannya untuk membangun sebuah restoran di Jakarta.

Tak lama kemudian, mobil mereka pun berhenti di pekarangan rumah sederhana yang letaknya di pinggir sawah. Pak Dadang langsung turun dari kemudi, lalu dengan sigap membuka pintu mobil.

“Kita sudah sampai, Mas.” Pak Dadang membungkuk, lalu berlari kecil menuju bagasi mobil untuk mengambil koper milik Arga. Sementara itu, Arga yang baru saja keluar dari mobilnya, langsung mendikte suasana rumah yang akan ditempatinya selama beberapa bulan ke depan. Kembang sepatu berwarna merah tumbuh subur di sisi kanan dan kiri pekarangan dan banyak tanaman hias lainnya, menjadikan rumah sederhana itu indah dan sejuk dipandang.

Di menit berikutnya, Arga terperangah, ia mendapati rombongan sapi berlari tanpa arah. Karena panik jika sapi itu sewaktu-waktu bisa menyerangnya, Arga lari tunggang-langgang, hingga masuk ke dalam sawah milik warga. Tubuhnya hilang keseimbangan dan langsung terjatuh di atas lumpur sawah yang begitu menjijikkan baginya.

“Argh! Sapi sialan!” erang Arga. Ia tidak terima dengan tindakan sapi yang tiba-tiba menyelonong begitu saja. Dari kejadian itu, Arga bisa menarik kesimpulan bahwa desa memang indah, tetapi sangat minim peraturan.

Mengapa sapi tidak ada yang mengawasi? Bahkan lewat dari jalan yang banyak dilalui orang. Merasa tidak kuat akan kesan pertamanya, ia ingin kembali ke rumahnya. Tetapi, angan tinggallah angan, ia tidak bisa menghindar. Sekarang, yang harus ia lakukan adalah bertahan demi menuntaskan perjanjiannya dengan Oma.

“Mas Arga!”

Dari kejauhan tampak seorang pria paruh baya datang menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. "Mas Arga nggak apa-apa?" tanya pria paruh baya itu sembari menahan tawanya kala mengamati wajah Arga yang berlumur lumpur. Bagaimana bisa ada lelaki yang takut dengan sapi?

Arga hanya mengangguk lesu. Tak banyak bicara, pria paruh baya itu dengan sigap menariknya dan membawanya ke dalam rumah yang tak jauh dari tempat kejadian. Di sana, Arga langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Ia benar-benar sudah tidak tahan dengan bau lumpur yang begitu menyengat. Tak lama kemudian, Arga sudah berganti pakaian menggunakan kaos polos berwarna cokelat dengan celana hitam.

GINARGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang