5. THE LONG NIGHT HAS MADE HIM DROWSY

590 70 7
                                                  

Halo!
Sesuai rencana aku, nih. Bakal di-update dengan selang waktu 2-3 hari. Semoga ke depannya konsisten dengan rencana ini, ya. Soalnya kerjaan di dunia nyata kadang suka tiba-tiba padat. :D

Selamat membaca!

Jangan lupa tandain lagi kalau ada typo(s) yang masih kelewat.

***

5. THE LONG NIGHT HAS MADE HIM DROWSY

"Mau sampai kapan kamu menolak permintaan Mama?"

Pertanyaan bernada perintah itu menghentikan langkah Septi yang hendak melewati ruang tamu. Dia berniat pergi ke toko elektronik untuk membeli speaker aktif baru. Menghela napas, dia berbalik dan menatap perempuan paruh baya yang tengah bersedekap di sofa tunggal. Menatap lurus padanya.

"Ma, kita udah bicarain ini dua minggu belakangan. Septi rasa Mama tahu jawabannya nggak akan berubah."

"Mama punya salah apa, sih, semasa muda, sampai-sampai Tuhan kasih dua anak perempuan nggak ada yang nurut semuanya. Kamu—"

"Ma, Kakak udah nggak ada!" Septi hampir tidak pernah memotong pembicaraan orang tuanya. Tapi, jika itu sudah menyangkut mendiang kakaknya, dia pun tidak bisa hanya diam dan mendengar. Mamanya tahu pasti apa yang terjadi pada Sabila, hingga nekat bunuh diri dan menjadi topik panas di beberapa media—setidaknya begitulah pemikiran Septi.

"Mama cuma mau yang terbaik buat kalian!" Mariam, perempuan paruh baya dengan wajah tegas dan sorot terlihat kejam itu berdiri, mendekati Septi yang masih tenang. "Jangan berkata seolah kamu yang paling tahu penyebab kejadian itu. Mana ada orang tua yang menjerumuskan anaknya ke liang kesengsaraan."

"Buktinya ada! Mama sama Papa sendiri yang udah bikin Kak Sabila bunuh diri karena tertekan dengan pernikahan yang kalian rancang." Septi mulai terpancing, nada bicaranya naik beberapa oktaf. "Mama tahu pasti apa yang terjadi pada kehidupan rumah tangga Kak Sabila dulu. Dia nggak bahagia! Dia cuma sakit hati dan merana karena KDRT. Dan, Mama bilang—"

"Mama bilang kamu nggak tahu apa-apa, Septi! Kamu yang nggak tahu kejadian sebenarnya."

Septi refleks mundur. Suara menggelegar itu membuat matanya terpicing beberapa detik. "Aku di sana, Ma. Aku melihat sendiri kekerasan yang didapat Kak Sabila."

"Cuma karena kamu ada di sana dan melihat apa yang terjadi, bukan berarti semuanya seperti yang kamu pikirkan." Mariam kembali ke sofa dengan tergesa, mendudukkan dirinya dengan kesal. "Nanti pulang cepat. Kita makan malam bersama."

Mariam meneteskan air mata begitu Septi sudah keluar dari rumah. Orang tua mana yang tidak sedih mengingat anaknya yang telah meninggal dunia. Selama ini Septi terlalu dibutakan oleh hal yang hanya dia lihat sekilas. Anak bungsunya itu tidak pernah mau mendengarkan apa yang dia dan suaminya beri tahu mengenai kejadian sebenarnya. Ideologi Septi terlalu kuat. Dia selalu mengutamakan penglihatan pertama. Hal itu mempersulit rencana yang telah dia dan suaminya rancang untuk masa depan Septi.

Meski terlahir sebagai anak orang kaya, Septi tetap memilih untuk bepergian dengan motor kesayangannya. Terlebih dengan kondisi jalanan di kota besar ini yang sangat padat. Macet di mana-mana setiap hari. Berbahaya memang, menyelip di antara mobil-mobil agar bisa cepat sampai, tapi begitulah upaya terbesar pengendara motor di tengah kemacetan. Berkali-kali hampir menabrak belakang mobil, tapi tetap diulangi lain waktunya.

Satu jam kemudian Septi sampai di sebuah mal kenamaan ibu kota. Langkah kakinya langsung menuju toko elektronik yang terletak di lantai tiga. Ada harga tentunya ada kualitas. Septi percaya barang-barang elektronik yang dijual di toko itu berkualitas bagus, sesuai dengan harganya. Dia sudah mencoba beberapa kali dengan barang yang berbeda. Sejauh ini sangat sesuai.

LOST INSIDE YOUR LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang