4. THE RAIN HAS RUINED HER FANTASY

469 74 4
                                                  

Yooo!

Bab 4!

Selamat malam Sabtu wahai para Jomlo! ❤

***

4. THE RAIN HAS RUINED HER FANTASY

"Pap, besok ada waktu?"

Tama yang sedang menikmati siaran MotoGP langsung menoleh pada Rey. "Kenapa, Boy?"

"Ada acara rutin."

Anak lelaki itu menunduk, membuat Tama langsung paham setelah mengingat tanggal berapa besok. Si kembar telah menyampaikan rangkaian acara tersebut sejak minggu lalu. Tama tidak pernah menolak undangan apa pun dari sekolah mereka. Hanya saja, pada beberapa kegiatan, dia merasa bimbang untuk datang. Seperti besok: acara memasak dengan keluarga untuk pengambilan nilai tambahan.

Tama bisa memasak, tapi tidak semahir dan sebanyak pengetahuan Buana. Dia hanya bisa beberapa, standar kebutuhan perut sehari-hari. Namun, di sekolah nanti si kembar akan diberikan resep dan buku menu khusus dari guru. Tahun-tahun sebelumnya mereka selalu berakhir dengan meja yang kacau karena tidak mengerti cara mengolah bahan-bahan tersebut. meski tidak mendapat nilai yang buruk, tetap saja si kembar terlihat sedih mendapati teman-teman di sekolah memasak dengan kedua orang tua, sedangkan mereka hanya dengan Tama.

"Tenang saja, Boy. Papa pasti datang. Kamu nggak perlu khawatir." Tama menarik Rey agar duduk di pangkuannya. "Kamu semakin besar, ya, Boy. Papa jadi kangen waktu kamu dan Ray masih belajar jalan."

"Time flies, Pap."

Tama terkekeh. Tinggal di Singapura semenjak masih kecil, si kembar tetap diajarkan untuk berbahasa Indonesia jika berada di rumah. Mereka hanya akan berbahasa Inggris jika bertemu teman atau berada di sekolah—berhubung berada di sekolah internasional. Kenyataannya, masyarakat Singapura rata-rata menggunakan bahasa Melayu yang tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia.

"Ya, waktu selalu berjalan."

Tama mengusap kepala Rey. Dari sudut matanya, dia melihat Ray mengintip di balik sekat antara ruang menonton dan ruang bermain. Si sulung kembar itu selalu tahu posisi agar membuat adiknya ini bisa berbicara lepas dengan ayahnya. Begitu melihat Tama mengangguk saat mata mereka bersirobok, Ray pun mendekat, mendudukkan diri di samping ayahnya.

Maka esoknya harinya, mereka bertiga benar-benar berjuang untuk menyajikan masakan terbaik. Tama sekali-kali mencuri pandangan ke meja samping dan mengikuti cara mereka. Dia juga membantu si kembar untuk memotong bahan-bahan dengan benar. Dua jam kemudian, semuanya selesai. Mereka mematuri hasil masakan tersebut dengan bangga.

"Nggak terlalu buruk, kan, Boys?" Tama memperhatikan hasil masakan mereka. Dibandingan dengan hasil tangan orang tua perempuan teman-teman si kembar, tentu hasilnya sangat jauh berbeda. Meski begitu, mereka sama-sama sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti arahan.

"Sudah lumayan, Pap, dibandingkan tahun kemarin." Ray yang menjawab, sementara Rey membersihkan tepian piring dan menatanya di atas meja yang bersih. Menunggu guru-guru datang untuk menyicipi dan memberi nilai masakan mereka.

Jam menunjukkan pukul satu siang waktu setempat saat acara itu berakhir. Si kembar terlihat sangat lelah dan ingin segera menemukan kasur. Tama menyetir mobil dengan kecepatan sedang, sekali-kali melihat ponsel saat tiba di lampu merah, untuk mengecek surel ataupun laporan dari Gracia karena dia tidak bekerja hari ini. Begitu sampai di apartemen, mereka tidak langsung mandi, melainkan istirahat sejenak untuk mendinginkan badan.

Tama menyiapkan pakaian si kembar—yang jujur saja sudah sangat jarang dilakukannya sejak beberapa waktu ini karena kesibukan yang semakin padat—dan meletakkannya di atas ranjang. Ray dan Rey mandi bersama karena malas menunggu. Tama sudah memperingatkan mereka untuk tidak lagi mandi bersama karena sudah mulai besar. Hanya pada waktu-waktu tertentu—seperti sekarang—saja mereka malas untuk saling antre. Setelah memastikan mereka benar-benar tidur karena kelelahan, juga tadi kekenyangan makan di sekolah, giliran Tama untuk membersihkan diri.

LOST INSIDE YOUR LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang