bolu pisang

726 141 78
                                                  

Sebuah sketchbook dan buku catatan kecil berwarna merah jambu Gisha masukkan ke dalam tas tangannya, diikuti dengan beberapa pensil dengan ketebalan berbeda

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Sebuah sketchbook dan buku catatan kecil berwarna merah jambu Gisha masukkan ke dalam tas tangannya, diikuti dengan beberapa pensil dengan ketebalan berbeda. Begitu dosen salah satu mata kuliahnya keluar dari kelas, Gisha ikut berdiri supaya bisa segera keluar juga.

            Sembari melangkah, tangannya merogoh kantung celananya untuk mengeluarkan ponsel keluaran terbaru, hadiah dari Papinya. Kini dia menekan tombol panggilan cepat dengan angka 3 dan nama Kai keluar begitu tersambung.

            "Halo?"

            "Kai, udah di rumah?"

            "Belom, Gi. Gue tiba-tiba ada tugas tambahan nih harus kelar sekarang. Paling jam tujuhan gue baru sampe rumah. Lo duluan aja."

            "Yah, Kai? Lo kan udah janji mau ngajarin gue bikin banana bread!"

            "Gue kan nggak bilang gue batalin, Gi. Gue telat."

            Gisha cemberut walaupun tahu sahabatnya itu tidak akan bisa melihat. "Tetep aja," kata Gisha bete.

            "Gi, bikin banana bread itu gampang. Sejam juga lo bisa. Lagian rempong banget sih yang mau ketemu pacar."

            "Ya elo gampang. Gue kan goreng telor aja gosong, Kai. Gimana, dong?" kali ini Gisha bicara sambil membuka pintu mobilnya dan masuk ke belakang kursi pengemudi.

            "Kan udah gue bilang tinggal beli. Di toko nyokap gue banyak, Gi."

            "Ah, nggak spesial, tau!" kata Gisha sambil menstarter mobilnya.

            "Ya udah, jam tujuh ya."

            "Iya iya, orang sibuk."

            Setelah mendengar Kaila terkekeh, Gisha mematikan panggilan dan membawa mobilnya keluar dari parkiran kampus.

            Gisha bersenandung pelan sambil melajukan mobilnya, hari ini semua berjalan dengan lancar. Tugasnya dapat nilai bagus, Gisha tidak ketiduran di kelas, dan lusa dia akan bertemu Angkasa. Bandung-Jakarta sebenarnya tidak bisa disebut LDR banget, sih. Tapi tetap saja, rasanya jauh berbeda dengan saat Gisha tinggal seatap dengan Angkasa. Biasanya kan, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, Gisha bisa lihat Angkasa. Sekarang boro-boro. Angkasa juga tidak mau diajak video call, katanya aneh. Sebenarnya memang Angkasa jarang punya waktu, mungkin karena jurusannya yang berat dan memusingkan, ditambah Angkasa juga punya rencana lulus cepat, jadi dia mengambil SKS lebih banyak dari seharusnya. Angkasa-nya sih, sanggup belajar banyak begitu. Gisha kan, nggak sanggup! Boro-boro bisa teleponan berjam-jam, Gisha chat jam 7 pagi saja kadang balasnya jam 7 malam.

            Tapi, Gisha sayang Angkasa, jadi apa pun itu, Gisha yakin mereka bisa melewatinya.

            Gisha memutuskan untuk tidak langsung menuju rumah Kaila, selain karena saat ini baru jam lima sore—yang artinya Kaila baru akan sampai rumah dua jam dari sekarang—Gisha tahu persis rumah Kaila sama horrornya dengan rumah kentang, alias sepi. Kaila hanya tinggal berdua dengan Ibunya dan Ibunya lebih sering mengawasi toko kue mereka yang kini sudah tersebar di banyak kota. Ngomong-ngomong, Ibu Kaila adalah pattisier, pembuat kue. Dia belajar itu dan Kaila juga menuruni bakatnya. Tapi dengan kapasitas otaknya, tentu mengambil jurusan kedokteran adalah pilihan yang tepat untuk Kaila.

Membaca AngkasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang