Part 1 : Nara

1.3K 121 17
                                    

~•~ Happy Reading ~•~

“Kau percaya sihir?”

Pertanyaan itu keluar dari mulut Qi Peiqin, seorang anak berusia 14 tahun. Keponakan Wang Yibo.
“Hanya pada perayaan Halloween,” Wang Yibo menjawab tanpa memalingkan wajah dari laptopnya. Dia sibuk mengetik sebuah artikel. Sesekali membetulkan letak kacamatanya.
“Bibi Ziyuan bisa mempraktekan sihir,“ ujar Peiqin lagi, dia membuka-buka buku komik yang baru kemarin di belinya di toko buku.
“Seperti apa?”
“Dia bisa melihat dan bicara dengan hantu, bisa meramal, bisa mendatangkan hujan dan juga menahannya.”
“Hmmmm.... “ Wang Yibo tidak tertarik.
“Kau mau diramal?” tanya Peiqin.
“Masa depan tidak lagi seru jika kita sudah mengetahuinya lebih awal,”
“Jangan terlalu serius paman, anggap saja sebagai hiburan”
“Pergilah ke bibi Ziyuan dan tanyakan padanya apa tahun ini kau akan naik kelas?”
“Pertanyaan cerdas,” rungut Peiqin.
Wang Yibo menyeringai.
“Tak perlu bertanya pada bibi Ziyuan, aku yakin kau tidak akan naik kelas jika terus membaca komik-komik konyol itu.”
“Ini komik langka paman, aku membelinya di toko buku bekas di pasar.”
“Apa menariknya komik langka? Isinya sama saja bukan? Hanya gambar-gambar yang tidak konsisten. Kadang sangat jelek, kadang terlalu sempurna.”
“Yang ini berbeda, maksudku ceritanya. Kita baru saja pindah ke kota dan lingkungan baru. Kurasa bacaan ini cocok untuk menambah wawasan.”
“Bicaramu berlebihan.”

Wang Yibo seorang pemuda berusia dua puluh lima, sangat cerdas, menguasai bahasa Mandarin, Jepang dan Korea, dan bekerja sebagai wartawan pada surat kabar 'Forum' di Kyoto. Keluarganya baru pindah dari Shanghai ke Kyoto selama setahun karena ayahnya yang seorang dosen bahasa Jepang menerima pinangan dari sebuah universitas terkenal di kota itu untuk menjadi pengajar tetap.

Ibunya sudah meninggal saat Wang Yibo berusia tujuh tahun. Dia menghabiskan masa kecil bersama satu-satunya kakak perempuannya, Wang Yifei yang terpaut sepuluh tahun darinya. Kini sang kakak mengikuti suaminya yang seringkali bepergian untuk mengurusi bisnis eksport import yang mereka rintis dari nol.

Putra tunggal kakaknya dititip di rumah tuan Wang, Qi Peiqin, yang kini menjadi teman yang setia menggoda dan membuatnya kesal.

Besok paginya Peiqin benar-benar menyeret pamannya yang membosankan itu ke bibi Ziyuan. Dia adalah adik dari paman Yizhou, pembantu keluarga Wang yang setia. Bibi Ziyuan baru bekerja selama sebulan di keluarga Wang menggantikan juru masak yang mengundurkan diri. Wanita itu sudah berusia lima puluh tahun tapi masih nampak segar.

Wang Yibo dipaksa duduk di kursi meja makan dimana bibi Ziyuan sibuk membereskan bekas sarapan.
“Paman ingin diramal,” ujar Peiqin. Dia mengambil cheesecake yang masih tersisa di meja.
Wang Yibo mengeluarkan suara mendesis dari sela giginya. Dia Menatap bibi Ziyuan dengan enggan.
“Apa yang ingin kau tanyakan Tuan Muda?” bibi Ziyuan duduk di sebrang meja dan tersenyum menatapnya.
“Aku tidak...“
“Minumlah!“
Bibi Ziyuan menyodorkan secangkir teh berwarna hitam pekat yang baru saja ia tuang dari teko.
Wang Yibo menatap heran, masih tidak percaya dia bisa terjebak kekonyolan ini. Tak urung diminumnya teh itu dan tampaklah endapan bubuk di dasar cangkir berwarna hijau pekat kehitaman.
“Habiskan,” ujar Bibi Ziyuan.
Wang Yibo menghabiskan teh itu. Rasanya cukup aneh dan tidak cocok dengan lidahnya. Dia mengernyit tidak senang.
Bibi Ziyuan mengambil cangkir bekas minumannya dan memandang endapan teh itu tanpa berkedip.
Mulutnya terkatup rapat nyaris berupa garis tipis.

Jadi ini trik murahan di acara magic yang sering kulihat di televisi yang sering tayang pada Minggu sore

batin Wang Yibo.

Aku lebih memilih menonton kartun.

Suasana hening dan tegang, Peiqin mengawasi dengan penuh perhatian sambil mengunyah.

A Night of Fairytales [√]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang