11. Bertanggungjawab pada Sedih

74.2K 15.4K 5.5K
                                    

Aku tidak pernah membenci hujan
Aku hanya sukar sebab selalu merindukanmu di setiap jatuhnya

***

25 Oktober 2019,

Malam itu langit cerah. Bintang bertebaran di langit malam bersama sepotong bulat sabit yang nampak lebih tajam dari ujung sebuah belati. Malam dimana Jakarta terlihat jauh lebih indah dibanding malam-malam biasanya.

Di atas dipan, Sastra memandangi langit dalam keheningan. Di kanan kirinya, Jaya dan Nana melakukan hal yang sama. Ketiganya tidak bersuara sama sekali sejak setengah jam mereka memutuskan untuk berbaring di sana. Dari dalam rumah, teriakan Jovan dan suara gelak tawa Eros saling bersahut-sahutan. Sesekali Cetta menimpali dengan suara tawa yang tak kalah melengking. Tidak ada yang tahu dengan apa yang dilakukan ketiga laki-laki itu.

Lalu akhirnya Sastra menjadi satu-satunya orang yang terkekeh. "Paling si Jovan kalah lagi main kartu." katanya, masih dengan memandangi langit. Seakan ia sedang melihat sesuatu yang indah disana.

Di sebelahnya, Nana tersenyum tipis. Kemudian laki-laki berhoodie hitam itu turut terkekeh. "Dia emang payah, tapi tetep aja nggak ada kapok-kapoknya main sama Kakak."

"Aku lebih payah sih kayaknya, Mas. Satu-satunya game yang aku bisa kayaknya cuma game shopee candy. Terus setiap aku berhasil menghapus 5 permen secara berurutan, aku dibilang cakep. Dan disaat nggak ada yang mengakui kehebatanku, aku selalu menemukan pengakuan itu di game." tahu-tahu Jaya menyeletuk. Anak itu tertawa kecil, tapi suaranya kedengaran lirih, seakan-akan hanya hal itu yang bisa ia banggakan pada orang lain.

Sastra dan Nana menoleh dengan cepat, hanya untuk menemukan Jaya memandangi langit dengan senyum nanar di bibirnya. Anak itu seperti tenggelam dalam lamunannya yang keruh. Tak jarang ia merasa seperti terjebak dalam ruang hampa di angkasa. Ia ingin bisa melakukan banyak hal. Namun ia sadar, ia tidak bisa melakukan apapun dengan benar.

Bahkan tidak sekali-dua kali ia berpikir bahwa satu-satunya orang yang tidak berguna di rumah adalah dirinya. Tidak peduli seberapa banyak perhatian dan cinta yang ia terima, ia tidak bisa mengembalikannya dengan besar yang sama.

"Kita nggak harus berhasil dalam segala hal." kata Sastra setelah laki-laki itu menarik napas panjang. Rasa perih yang dirasakan Jaya seolah-olah merambat sampai ke dadanya. "Kalau kita terlalu handal melakukan banyak hal, kita nggak akan pernah tahu dimana titik beratnya. Sama waktu lo main game candy di shopee. Gue tahu lo butuh 2 bulan untuk melewati level 70. Lo gagal berkali-kali, tapi lo juga mencoba berkali-kali sampai akhirnya lo berada di level 71. Lo tahu maksud gue apa?"

Nana dan Jaya sama-sama terdiam. Mereka berpikir beberapa saat untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Sampai akhirnya, Jaya merasakan telapak tangan Sastra menyentuh puncak kepalanya.

Laki-laki itu berkata dengan suara tenang, "Jangan berhenti. Mungkin di setiap levelnya lo selalu dapat satu bintang, tapi lo kelihatan keren karena mau terus mencoba. Nggak pa-pa hasilnya nggak sesuai harapan, asal lo mau terus berusaha."

Tak lama anak itu melanjutkan, "Ada satu quote dari totebag yang gue suka. Tulisannya, don't stop when you are tired, but stop when you are done. Disaat lo capek mencoba segala hal yang sedang lo lakukan, istirahat. Bukan berhenti. Karena lo hanya bisa berhenti ketika semuanya udah selesai dan lo merasa cukup dengan itu. Berhenti yang artinya lo udah mencapai titik kepuasan tertinggi selama lo hidup. Berhenti dengan sangat keren."

Jaya menoleh dengan mata berkaca-kaca. Sementara Nana, ia hanya mendengarkan kata-kata itu dengan baik. Sampai akhirnya, ia juga merasakan bagaimana Sastra mengusap rambutnya. Pergerakannya lembut dan menenangkan, bahkan rasanya seperti dibelai hembusan angin--membuat Nana mengantuk perlahan-lahan.

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang