Miserable

41 7 6
                                                  

Waktu bergulir dengan cepat, aku sudah naik kelas waktu itu, sudah memasuki kelas 3, aku sudah harus mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional, untuk segera meraih gelarku sebagai siswa menengah atas, aku tidak sabar akan itu.

Aku kira akan menyenangkan di kelas 3 ini, tetapi tidak, aku menjadi seorang yang pendiam dan tertutup, bahkan aku sendiri sedikit merasa, bahwa ini bukan lah aku, bukan Kimberly.

Ayahku benar-benar bangkrut saat aku di kelas 3 SMP ini, ayah tidak memiliki apa-apa lagi, semua karyawan yang Ayah punya, sudah di stop, bangunanpun sudah di segel, Ayah sudah hampir menjual semua harta yang Ayah punya, termasuk mobil, hanya satu mobil saja yang Ayah miliki, mobil kecil untuk kami.

Aku tidak menyangka ini semua terjadi pada keluargaku, kenapa Tuhan memberikan cobaan yang sangat berat untuk keluargaku?

Selama Ayah tidak bekerja, penghasilan satu-satunya berasal dari butik Ibuku, Ayah menjadi pribadi yang tertutup, selalu termenung, sangat jarang bicara. Aku bahkan tidak pernah bercanda lagi bersama Ayah. Hingga akhirnya Ayah mengakhiri hidupnya, Ayah ditemukan tidak bernyawa di kamarnya, dengan beberapa obat keras disana, serta sebuah catatan yang berada di genggamannya. Aku masih ingat betul bagaimana aku melihat keadaan Ayah untuk terakhir kalinya, aku mematung, aku menangis dan langsung tidak sadarkan diri.

Setelah Ayah di makamkan, aku membaca surat itu, kurang lebih yang aku ingat, isinya bahwa Ayah takut tidak bisa membahagiakan anak-anaknya, Ayah takut menjadi beban saja di keluarga ini, jika Ayah tidak ada, itu lebih baik, karena mengurangnya beban keluarga, padahal menurutku tidak, Ayah bukanlah beban, aku malah bangga pada Ayahku, tapi kenapa Ayah berpikiran seperti itu, aku membenci Ayah dengan pergi meninggalkan kami dengan cara seperti itu, tapi aku menyayanginya.

⚪️⚪️⚪️

Jakarta, 2013

Setelah kejadian itu, kami pindah ke rumah yang lebih sederhana, kami menjual rumah kami serta beberapa barang di dalamnya, satu satunya harta yang tinggi nilai jualnya hanyalah mobil dan rumah sederhana kami.

Cobaan benar-benar datang begitu saja di keluargaku, Ibuku terpuruk akan kepergian Ayah, hingga Ibu mengalami stroke, Ibu tidak bisa apa-apa, bisnis Ibu pun terhenti begitu saja, rasanya aku ingin sekali melanjutkannya, tapi Kak Sehun bilang, aku harus melanjutkan sekolahku, biar Kak Sehun saja yang menanggung semuanya, ucap Kak Sehun waktu itu, tapi menurutku Kak Sehun tidak menepati janjinya.

Aku merawat Ibu di setiap pagi sebelum sekolah, dan meninggalkan ibu dengan pengurus yang kami percayai untuk menjaga ibu. Saat pulang sekolah di sore hari, pengurus itu pulang, dan aku yang mengurus ibu kembali.

Kak Sehun tidak pulang, setiap jam pelajaran di sekolah berakhir, dia mengambil kerja sambilan, untuk mencukupi kehidupan kami. Aku bangga pada Kak Sehun saat itu, aku merasa Kak Sehun benar-benar Kakak yang sangat-sangat baik. Aku menyayanginya, dulu.

Deru motor terdengar dari dalam rumah, aku segera keluar untuk membukakan gerbang, Kak Sehun pulang. Oh iya, Kak Sehun menjual mobil kami, untuk membiayai kesehatan Ibu. Hingga satu-satunya yang kami punya motor besar ini. Mungkin Kak Sehun tidak terbiasa dengan kehidupan yang sederhana ini, sampai dia masih harus terlihat 'wah' oleh teman-temannya dengan menggunakan motor besar ini.

"Kak Sehun udah pulang? udah makan belum?" tanyaku menghampiri Kak Sehun.

"Belum, Ly," ucapnya sembari melepas helm yang ia pakai.

"Yauda Ka Sehun ganti baju, abistu makan ya? aku siapin," ucapku.

Sebelum makan Kak Sehun melirik ke arah kamar Ibu, Ibu tengah terbaring lemah, sembari memejamkan matanya, setelahnya, Kak Sehun menuju ruang makan, aku menemaninya makan disana, aku merasa kasihan pada Kak Sehun, dia begitu terlihat lelah, sebisa mungkin aku bersikap baik pada Kak Sehun, karena selama ini dia sudah membantu mencukupi kehidupan kami, aku sayang Kak Sehun, dulu.

"Kak Sehun capek ya?" ucapku sembari memperhatikan Kak Sehun makan.

"Engga kok, Kakak ga capek," ucap Kak Sehun sembari memberikan senyum tipisnya.

"Aku pengen bantu Kak Sehun, biar Kaka ga capek sendiri," ucapku.

"Gausah, kamu sekolah aja yang bener ya? biar Kakak yang cariin uang buat kamu sekolah," ucap Kak Sehun.

"Kak, Lily sekolah di Negeri aja ya? biar biayanya ga besar banget," ucapku.

"Engga, Kakak mampu kok nge sekolahin kamu di sekolah kita sekarang ini," ucap Kak Sehun.

Ya begitulah, sedikit keras kepala memang sifat dasar seorang Sehun Andrian Donvan.

Aku hanya menghembuskan nafas saja, aku tidak ingin berdebat dengan Kak Sehun, nanti Kak Sehun marah dan moodnya hancur.

⚪️⚪️⚪️

Seiring berjalannya waktu, kehidupan kami tidak berubah, tidak meningkat juga tidak menurun, keadaan ibu juga sama, dia masih terbaring di kasurnya, aku sedih melihat ibuku seperti itu, Tuhan kenapa kau melakukan ini pada keluargaku?

Setiap malam aku selalu memperhatikan raut wajah Kak Sehun, semakin hari semakin murung, aku tau Kak Sehun lelah dengan semua ini. Aku tidak tega melihat raut wajah Kak Sehun yang kelelahan.

Ingin rasanya menangis, berteriak, tapi untuk apa, jika aku melakukan itu semua tidak akan merubah semuanya, aku harus kuat menghadapi ini, aku harus bisa tahan dengan semua cobaan yang Tuhan berikan.

Pribadi kami semakin lama semakin berubah, Kak sehun yang menjadi sedikit pendiam, jarang berbincang panjang denganku, aku juga sama, di sekolah aku menjadi pendiam, benar-benar tertutup, bahkan sahabatku sedikit menjauhiku juga, aku tidak apa -apa dengan itu, mungkin mereka tidak nyaman denganku. Tapi saat aku dirumah, aku selalu berusaha menjadi pribadiku sendiri, aku berusaha untuk tidak memperlihatkan wajah sedihku pada Kak Sehun, aku tidak mau semakin membebaninya.

Saat malam, saat aku menemani Kak Sehun makan, Kak Sehun memecahkan keheningan.

"Lily, kamu pernah bilang pengen bantu Kakak kan?" ucap Kak Sehun menatapku.

"Iya Kak, tapi jangan yang berat-berat," ucapku.

Malam itu, seharusnya aku tidak pernah mengatakan 'iya' pada Kak Sehun.

***

SIN - BaekhyunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang