MAA'2

44.5K 5.2K 2.5K
                                    

Hai, selamat malam, kalian!❤

Buat yang belum baca cerita Antares, kuy baca kuy!

Yang kemaren di cerita Antares pada minta sequel Iel sama cewek jamet mana? Kenapa malah pada engga setuju hayo lhooo 😂

Please follow me for update, vote & comment yall! It means a lot for me❤

Follow instagram @lathifaaaaaaah untuk info update and spoiler❤

-MAA-

Selain suka dengan buah strawberry, Adriel pun sangat suka tidur. Dimanapun dan kapanpun kalau suasana dan tempatnya mendukung pasti Adriel akan tertidur.

Seperti sekarang, disaat teman-temannya sibuk mengerjakan soal matematika, namun Adriel malah tertidur pulas. Keadaan kelas yang cukup berisik pun tak mampu mengusik kegiatan sakralnya.

"Nih bocah tidur apa mati?"

Ghada mengusap dagunya sambil memicingkan mata. "Mati deh jigana, satu jam kagak ubah posisi soalnya." (Jigana = kayaknya)

Stef mengangguk sejutu. "Tapi perutnya masih kembang kempis anjrit, berarti masih nafas."

"Yaahhhh." Ghada mendesah kecewa. "Kenapa kagak mati aja ya si Iel? Kan ntar enak tuh pasti, syukuran kita-kita."

"Goblok!" sahut Randi yang sedari tadi hanya diam.

"El! Bangun woy!" Randi menendang paha Adriel, namun Adriel tetap tak terusik. "Woy, gue dapet orang yang mau beli mobil si Eric."

Namun Adriel masih tetap setia menutup matanya.

"Tempelin duit udah, ntar melek pasti," cetus Stef yang diangguki Ghada.

Akhirnya Randi mengeluarkan satu lembar seratus ribu dari dompetnya. Dia menempelkan uang itu tepat di hidung Adriel. Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya kedua mata Adriel terbuka.

Mata duitan...

"Duit," gumam Adriel serak.

"Giliran duit aja lo ijo, kampret!"

Adriel mengucek matanya. "Guru-guru masih rapat?" tanya Adriel dan teman-temannya mengangguk.

Adriel belum membuka kedua matanya secara sempurna, masih menyesuaikan dengan cahaya.

"Mana duit tadi?" tanya Adriel seraya meregangkan otot-otot tubuhnya.

Randi mendengus. "Udah bangkrut bokap lo? Sampai lo ngemis-ngemis, ha?"

"Enak aja lo!" tukas Adriel tak terima. "Keluarga gue kagak akan bisa miskin," sambung Adriel angkuh.

Teman-teman Adriel hanya mendengus karena sifat angkuh milik Adriel.

"Gue udah nemu yang mau beli mobil si Eric." Randi memberikan ponselnya pada Adriel. "Harganya sesuai sama yang lo tawarin juga."

Adriel hanya menganggukkan kepalanya. Dia mengembalikan ponsel milik Randi pada sang empunya.

"Sabi kali ntar gue dapet bagian, bro," ucap Ghada menaik turunkan alisnya.

MY ALTERITY, ADRIELTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang