~ 01 || APA ITU KASIH SAYANG ? ~

9 5 0
                                    

Pipi chubby seorang anak perempuan sudah dibanjiri air mata. Kaki kecilnya terus melangkah menaiki anak tangga. Tubuh mungilnya bergetar, hati kecilnya terluka.

Tangan mungilnya membuka pintu kamar, tidak lupa menutup kembali setelah masuk kedalam kamar. Anak perempuan bernama Lizia itu berlari menghampiri kasurnya. Mengambil boneka kesayangan dan memeluknya kuat mencari kekuatan.

"Bunda hiks... kenapa mama enggak sayang aku hiks..." Lizia bertanya sambil terisak kepada boneka yang anak perempuan itu beri nama bunda.

Sampai kapanpun boneka itu tidak akan menjawab, tapi Lizia tidak peduli. Karena bagi dirinya bunda adalah mama nya, yang selama ini iya rindukan. Tanpa boneka itu Lizia akan kesepian, karena tandanya ia jauh dengan mama nya.

Tangis Lizia terhenti, diganti dengan senyuman manis diwajahnya. "Makasih bunda, Zia sayang bunda. Bunda jangan tinggalin Zia, ya? Kaya mamah sama papah" ucap Lizia sambil memeluk bundanya.

Lizia menidurkan bonekanya, setelah puas memeluknya. Tubuhnya bergeser dan turun perlahan dari kasur. Kaki kecilnya melangkah mendekati meja belajar, mengambil buku diary kesayangan. Bokongnya ia duduki dilantai setelah berhasil mengambil buku diary berwarna pink itu.

Dear diary

Diary, kau tahu tidak apa itu kasih sayang?
Jika tahu beri tahu aku, jika tidak tidak apa. Aku tidak memaksamu untuk menjawab pertanyaan ku.

Diary, mengapa mamah dan papah tidak pernah memelukku?
Apakah mereka tidak menyayangi ku, diary?
Tidak apa-apa, tidak ada mamah dan papah, masih ada bunda yang sayang aku.
Walaupun begitu aku tetap sayang mamah dan papah, semoga kalian selalu bahagia. Walaupun hati kecilku terluka.

Diary, mengapa kak Liza membenciku?
Mengapa dia tidak berbicara dengan ku, atau bermain denganku.
Boleh tidak? Sehari saja aku bisa bermain dengan kakak.
Jika tidak, tidak apa-apa. Aku bisa bermain dengan bunda.

Diary, sampai rinduku pada merek. Terimakasih diary.

Zia

Lizia tersenyum, tangan mungilnya menutup buku diary. Tidak lupa ia memeluk buku itu erat, membawanya keatas kasur. Mata bulat itu perlahan tertutup. "Setelah malam" gumam Lizia pelan. Setelah itu matanya benar-benar tertutup.

••••

Pagi hari ini Lizia sudah siap dengan seragam sekolahnya, anak perempuan berusia 4 tahun 10 bulan itu tersenyum senang. Kaki mungilnya melangkah meninggalkan kamarnya menuju ruang makan. Di ruang makan hanya ada dirinya, karena jam masih menunjukkan pukul 5 pagi.

Seperti biasa ia mengambil bekal yang sudah  disiapkan oleh asisten rumah tangga di rumahnya. Tangan mungilnya memasukkan bekal itu kedalam tas, tidak lupa menutupnya kembali setelah memasukan tepak makan berwarna pink itu kedalam tas nya. Sebelum berangkat ke sekolah Lizia berpamitan keseluruh asisten rumah tangga, bodyguard tidak lupa dengan satpam yang menjaga pos.

"Pak, Zia berangkat sekolah dulu ya. Dahh" pamit Lizia sambil tersenyum.

"Iya non, hati-hati" balas Tono.

Kepalanya terangguk kecil, kaki mungilnya melangkah kecil sambil bersenandung. Tidak lupa menyapa seseorang yang ia lewati. Hingga 1 jam akhirnya ia sampai di sekolah yang sudah ramai. Keringat membanjiri pelipisnya, tapi Lizia abaikan. Karena dirinya sudah biasa berjalan kaki menuju sekolah.

Tidak lama bel masuk berbunyi, Lizia sudah duduk di kursinya. Hania teman Lizia terus saja berceloteh, menceritakan kejadian tadi pagi saat Hania ingin berangkat sekolah, Lizia mendengar kan cerita Hania antusias. Sampai seorang guru masuk ke dalam kelas.

"Selamat pagi, anak-anak" sapa Bu Mega.

"Pagi juga, bu" balas mereka serempak.

"Hari ini kita akan membahas tentang cita-cita, coba siapa yang sudah punya cita-cita?" tanya Bu Mega, sambil mengacungkan tangan.

"Aku, bu!" Hania teman Lizia mengacungkan tangannya.

"Wah... Ayo sini maju, sebutkan apa cita-cita kamu" pinta Bu Mega.

Hania maju dengan wajah antusiasnya, sambil melipat kedua tangannya di dada. Membuat bu Mega menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil terkekeh.

"Coba, apa cita-cita kamu?" tanya bu Mega, sambil berjongkok dihadapan Hania.

"Cita-cita aku itu jadi seorang artis, Bu. Supaya bisa terkenal" seru Hania sambil tersenyum-senyum.

"Wah... hebat. Ayo anak-anak tepuk tangan. Bagus sekali cita-citanya" puji bu Mega. Kini Bu Mega sudah kembali berdiri. "Terima kasih, Hania. Kamu boleh duduk" bu Mega.

Hania mengangguk, kaki kecilnya melangkah mendekati mejanya dan duduk disebelah Lizia. "Hani, kamu hebat" puji Lizia sambil bertepuk tangan.

"Iya dong, Hania gitu loh" ucap Hania sambil menepuk dadanya. Setelah itu mereka fokus kedepan.

"Ayo ada lagi? Masa cuman Hania yang punya cita-cita. Coba Romi, cita-cita kamu apa?" tanya Bu Mega, sambil menunjuk Romi yang sejak tadi mengobrol.

"Cita-cita aku mencintai dia, bu" ucap Romi, sambil tersenyum-senyum.

Seisi kelas yang mendengar itu tertawa, kecuali Lizia yang hanya tersenyum manis.

"Kamu itu, Romi masih kecil. Udah cinta-cintaan" kekeh bu Mega.

"Enggak papa, Bu. Tandanya aku gaul" celetuk Romi.

Bu Mega hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil terkekeh kecil mendengan perkataan Romi yang diluar pikiran.

"Sekarang coba Lizia, cita-cita kamu mau jadi apa?" tanya bu Mega.

Lizia yang sejak tadi terdiam, tersentak karena namanya secara tiba-tiba disebut. "Semangat, Zia" bisik Hania.

"Cita-cita aku jadi seseorang yang disayangi. Tapi aku enggak tahu apa itu kasih sayang, ibu tahu?" Lizia berucap sambil tersenyum.

"Hahahaha.. mana ada cita-cita kaya gitu, Zia" tawa Romi pecah. Begitupun seisi kelas.

"Sudah anak-anak" bu Mega berjalan menghampiri tempat duduk Lizia. Wanita itu berjongkok dihadapan Lizia. "Kasih sayang adalah suatu sikap saling menghormati dan mengasihi semua ciptaan Tuhan, baik mahluk hidup maupun benda mati seperti menyayangi diri sendiri berlandaskan hati nurani. Itu yang namanya kasih sayang, kenapa cita-cita Zia menjadi orang yang disayangi?" jelas Bu Mega, sambil mengelus puncak Lizia dengan sayang.

"Karena Zia pengen disayang..." ucap Lizia lirih.

Bu Mega yang mendengar itu tersentak, wanita itu memeluk Lizia erat. Menyalurkan kekuatan untuk Lizia. Semua murid yang melihat itu langsung berhamburan menghampiri Lizia dan Mega. Dan akhirnya merekapun berpelukan.

TBC

Semoga suka
Terima kasih

Go Away For GoodTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang