Bagian 2

35 5 37
                                                  

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Nana menghentikan langkahnya tepat di hadapan Tom—sang kekasih—yang tengah sibuk mencumbu perempuan lain. Usianya mungkin beberapa tahun lebih tua dari Nana. Terlihat dari gaya busana dan riasannya yang menonjol. Nana masih diam, menunggu reaksi dari sepasang manusia di hadapannya. Tak butuh waktu lama, si perempuan berambut ikal yang berada di pangkuan Thomas menyadari kehadirannya.

“Ah ... inikah Nana yang sering kauceritakan itu, Sayang? Hum?” ucapnya tanpa malu, sebelah tangannya bergerak memainkan ujung rambut yang ikal. Nana masih bergeming, hanya memandang datar pada sosok Thomas yang mabuk berat, tidak ada emosi di raut wajahnya. “kenapa dia tak lebih cantik dariku ... ” Nana bersedekap, membiarkan wanita asing itu terus menatap wajahnya sembari meracau tak jelas.

Tetapi, semakin lama, racauan wanita itu semakin menjadi-jadi. Nana mendecih ketika perempuan di hadapannya itu mulai membahas hal-hal intim yang katanya sudah mereka lakukan. Entah kalimat wanita itu sungguhan atau bualan semata, Nana tak peduli. Ya, hubungannya dengan Thomas tidaklah seintim itu. Nana bukan gadis yang akan melepas mahkotanya dengan mudah. Ia menghargai itu dan hanya akan melakukannya saat Nana telah menikah.

Telinga Nana semakin terganggu dengan racauan kotor perempuan di hadapannya. Nana bergerak meraih dompetnya, lalu mengeluarkan lembaran uang dan memberikannya pada wanita itu. “Ambillah, terimakasih sudah menemani kekasihku malam ini.” Tandas Nana dengan seulas senyum palsu. Si wanita ikal melotot saat tubuhnya sedikit terdorong mundur karena sentakan kecil Nana di bahunya. Tampaknya, ia begitu ingin mengumpat, namun Nana telanjur berlalu. Membelah lautan manusia yang sibuk menari dan meninggalkan club dengan emosi membuncah di dada.

Nana menderap melintasi lorong club dan menuju area parkir. Kakinya terasa lemas, sementara dadanya begitu sesak, teramat menyakitkan. Tubuhnya gemetar hebat, sementara seluruh urat-uratnya seakan mengencang. Ia mengempaskan dirinya di kursi kemudi dan berteriak.  Menumpahkan seluruh rasa sesak menyakitkan yang memenuhi dadanya. Gadis itu jatuh terisak, air mata mengalir membasahi pipi pualamnya.

"You're f*cking b*stard, Thomas! You idiot! F*ck!" Sial, umpatan tertahan Nana meluap menjadi jeritan penuh amarah. Gadis itu mencengkeram kemudi mobil sembari sesekali memukulnya sekuat tenaga. Membayangkan kemudi di hadapannya adalah wajah mabuk Thomas, mantan kekasihnya, pemuda yang ia cintai. Nana marah, ia mengutuk Thomas dan lebih merutuki dirinya karena pernah memberikan sepenuh hatinya pada pria itu. Nana merasa dibodohi, ia tertipu, gadis itu merasa begitu tolol karena dibutakan perasaannya.

Bagaimanapun, Nana tetaplah gadis biasa. Ia manusia yang memiliki batas kesabaran, Nana sudah berusaha tegar, namun sayang, segalanya telah melampaui batas. Ia tahu, Thomas tidaklah sebaik pandangan orang terhadapnya. Nana tahu sisi buruk Thomas yang tak diketahui orang lain. Tetapi, Nana selalu berusaha mengabaikannya, ia memaafkan pemuda itu berkali-kali. Karena Nana selalu luluh saat Thomas menghujaninya kalimat-kalimat manis dan penuh cinta. Untuk seorang seperti Nana, kalimat itu adalah hal yang selalu ia damba. Karena itulah, Nana terus menerima Thomas, lagi dan lagi.

Nana - Everything's FakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang