Ch. 2 - Seorang Hunter?

898 193 2
                                    

Suasana yang seharusnya cukup terik karena matahari yang sudah ada di puncak langit saat ini menjadi tidak terlalu buruk, karena angin dan awan yang menghalau sebagian besar panasnya.

Hal itu membuat kelompok-kelompok calon murid yang sedang berkumpul di luar hutan saat ini menjadi bisa memeriksa perlengkapan mereka dengan nyaman dan efisien, melihat waktu yang mereka miliki sudah tidak terlalu lama.

Tetapi di balik itu semua terdapat sebuah ketegangan yang kuat, yang bisa dirasakan semua orang disana. Kewaspadaan dan kecurigaan yang sudah mencapai titik didih, membuat semuanya menjadi seperti sedang berjalan diatas kulit telur...

"Hoam..."

...walaupun sepertinya semua itu tidak memengaruhi seorang pemuda diantara mereka.

"Whoah... luar biasa... membosankan..."

Pemuda itu menyeka air mata yang terbentuk bersama rasa kantuknya, yang sudah keluar untuk kesekian kalinya dalam beberapa menit terakhir saja. Dia hanya memandang langit dari posisi berbaringnya yang sangat santai, dengan tangannya yang terus bergerak untuk menciptakan pesawat kertas dengan berbagai bentuk sebagai usahanya untuk melawan rasa kantuknya.

Walaupun sepertinya setelah melihat matanya yang sudah kosong dan setengah tertutup, cara itu sudah tidak efektif.

"l-Leinn..."

Pemuda itu, Leinn menoleh ke samping setelah mendengar namanya dipanggil, langsung menemukan pemilik suara itu.

Yang ternyata adalah seorang gadis kecil yang terlihat gelisah.

"Ada apa, Aura?"

"Apa kau t-tidak merasa gugup...?"

Gadis kecil itu, Aura telah menghabiskan hampir satu jam terakhir berdiri dan bergetar di dekat tempat Leinn duduk sebelumnya, yang sekarang sudah menjadi tempat berbaringnya. Perasaan penasaran dengan identitasnya perlahan-lahan berubah menjadi bingung ketika dia menyadari betapa santainya pemuda itu.

Padahal mereka sedang menunggu dimulainya sebelum sebuah tes yang sangat penting, setidaknya bagi Aura.

Leinn bisa melihat itu semua dan hanya tersenyum tipis.

"Kita hanya perlu menangkap seekor Beast saja, bukan? Bersantai lah dan nikmati cuaca cerah ini bersamaku..."

Ucapan Leinn semakin kehilangan tenaga di setiap kata yang keluar sampai akhirnya dia kembali ke keadaan setengah tertidur. Walaupun itu tidak menghentikan kedua tangannya yang masih bergerak cepat, yang menghasilkan belasan pesawat kertas baru yang berserakan di sekitar tempatnya berbaring.

"U-um..."

Perasaan tidak yakin mulai memenuhi pikiran Aura setelah dia melihat kelakuan tidak peduli Leinn itu, yang membuatnya mempertanyakan apakah dia berniat melakukan tes yang akan dimulai sebentar lagi dengan serius.

Aura sebenarnya memiliki beberapa hal yang ingin dia tanyakan, yang tidak bisa dia lakukan karena halangan mentalnya. Kenyataan bahwa dia baru bertemu dan mengenal Leinn kurang dari satu jam, membuat dirinya yang pada dasarnya sangat pemalu, tidak berani bertanya.

Jadi dia hanya bisa berdiri diam saat melihat pemuda itu menulis sesuatu di kertas sambil melihat hutan di kejauhan, berbaring, lalu mulai melipat pesawat kertas sebelumnya sampai saat ini.

Tapi waktu yang semakin menipis akhirnya mendorongnya untuk duduk lalu setidaknya mencoba memperingatkan Leinn.

"T-tapi kalau kita tidak hati-hati, bisa saja kita membuat kesalahan dan berakhir g-gagal..."

"Ya... jika itu terjadi, maka terjadilah" tangannya meletakkan pesawat kertas yang baru selesai dibuatnya, kemudian bergerak untuk mengambil selembar kertas lain dari tas besar di sampingnya, memulai lagi pembuatannya.

Returning Humanity : Menyangkal Takdir KehancuranTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang