5

575 171 42
                                                  

Kala menatap mobilnya miris sebelum meninggalkan si Jepri yang dikata Bagong oleh Cinta. Selama di taksi mereka hanya diam. Kala bingung mau memulai pembicaraan apa. Masalahnya Cinta sibuk dengan handphone. Sementara dia sibuk menatap penasaran cewek berhoodie putih di sebelahnya.

"Ta." Panggil Kala akhirnya.

"Lo nggak apa kan naik taksi?"

"It's ok. Daripada gue naik mobil bagong tadi kayaknya gue lebih nyaman naik taksi."

Lagi-lagi Kala seperti dihujam jantungnya dengan tombak. Kala menelan salivanya susah payah.

"Lo tadi pagi nebeng Lova ya?"

"Eh, iya, iya," jawab Kala, gugup.

"Gue tahu lo selalu nebeng dia. Lo suka ya sama Lova?"

"Nggak!" Refleks Kala menjawab dengan nada tinggi dan cepat, tangannya mengisyaratkan penolakkan argumen Cinta. "Nggak mungkin gue suka sama pacar sahabat gue sendiri. Gue kan setia kawan. Lagian Lova bukan tipe gue. Lova itu tukang nangis, cengeng banget dari kecil. Gue tetanggaan dari orok, paham banget gue sama kelakuannya. Gue heran Langit bisa bucin abis sama tuh bocah."

Cinta terkekeh pelan, menahan diri agar tak kelepasan. Dia bukan menertawakan Lovatta tapi justru menertakan Kala yang menjelaskan panjang lebar padanya.

"Gue tuh nebeng Lova buat ngurangin polusi dan hemat BBM. Gue kan peduli sama anak cucu gue nanti."

"Iya, iya," balas Cinta masih dengan senyum yang ditahan.

"Kecuali lo mau berangkat sama pulang bareng gue, nanti gue bawa mobil deh. Biasanya lo naik apa?" Lanjut Kala mencari kesempatan di celah-celah obrolan.

"Naik ojek, kadang bareng Yudha."

"Pacar lo?" Mata Kala melebar.

"Temen gue."

"Oh...." Kala tak banyak tanya lagi karena kata teman sudah mengartikan banyak hal untuknya. Intinya bukan pacar orang.

Sesampainya di toko tanaman Kala tak langsung membeli tanaman. Dia justru berkeliling dulu untuk mengulur waktu. Dia masih ingin ngobrol lebih banyak dengan Cinta.

"Ini bunga apa?" tanya Kala meski dia sebenarnya tahu.

"Masa sih, lo nggak tahu ini bunga apa?"

Kala mengangguk cepat.

"Ini kamomil. Pada abad ke-19, bunga ini dijadikan perlambang energi dalam satu kesatuan."

"Kalau ini?"

"Ini bunga krisan artinya kejujuran. Gue suka sama arti bunga ini."

"Oh.... Terus kalau yang ini?" Kala menunjuk bunga Anyelir.

"Ini kan anyelir."

"Artinya?"

"Oh, kalau anyelir putih artinya sweet and lovely, kalau yang merah artinya gue nggak akan pernah ngelup...," Cinta menutup bibirnya rapat, ragu meneruskan perkataannya.

"Gue nggak akan apa?" tanya Kala penasaran.

"Lo cari aja di Google. Udah yuk, katanya mau beli mawar. Malah ke sini-sini. Tuh mawarnya kan di depan." Cinta langsung pindah ke depan meninggakan Kala yang senyum-senyum sendiri.

Berkat Miss Sani Kala jadi bisa ngobrol lama dan tahu rumah Cinta yang ternyata tak jauh dari rumahnya. Tak menyangka masih ada rumah yang asri di kota metropolitan ini. Banyak tanaman di halaman rumah Cinta, mungkin itu yang membuat Cinta tahu banyak hal tentang tanaman, pikir Kala.

Kala Cinta BertemuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang