9. Kenangan di Hari Minggu

89K 15.5K 5.6K
                                    

Berapa harga sebuah mimpi?
Tergantung, katanya.
Berapa harga sebuah rasa?
Tak dapat dinilai, katanya.
Berapa harga yang dibayar luka?
Mungkin, setara rasa sakit yang tiada tara.

***

Ada banyak alasan yang bisa membuat seseorang terjatuh lalu terluka begitu hebat. Mengarungi sedih yang berkepanjangan. Seolah-olah rasa sakit itu membuat seseorang tidak mampu menepi. Sedih yang tidak ada ujungnya. Tapi katanya, setidaknya ada satu alasan yang bisa membuat seseorang tertawa.

Satu tahun yang lalu di hari yang sama ditempat ini, Nana seolah-olah melihat adegan dirinya bersama saudara-saudaranya yang lain tertawa bersama. Mereka tertawa begitu lepas hingga mungkin mereka lupa, bahwa tawa dan tangis hanya dipisahkan oleh garis tipis bak bayang-bayang semu. Sama tipisnya dengan harapan bahwa mereka bisa memutar hari untuk kembali ke hari itu.

Hari itu mereka tertawa. Tapi setelahnya, mereka jatuh tersungkur begitu dalam. Butuh waktu lama untuk kembali menegakkan kepala hanya untuk menatap birunya langit. Butuh waktu yang lama hanya untuk meluruskan kaki dan bernapas lega seperti sediakala. Butuh waktu yang sangat lama untuk mereka saling meraih bahu dan menguatkan satu sama lain.

Masing-masing dari mereka mengarungi hari dengan tertatih. Yang semula tegar mungkin masih kelihatan tegar, namun dibaliknya hanya diisi jiwa yang luluh lantak. Yang semula sering tertawa memang masih tertawa, namun tawa itu selalu tak bermakna apa-apa. Mungkin tawanya seringkali kedengaran pilu sebab menertawakan takdir yang sangat keterlaluan.

Sesekali Nana akan mendengar Jaya menangis di meja makan. Sesekali dia akan melihat Bang Tama diam tanpa melakukan apa-apa di teras rumah. Atau menemukan Jovan yang tidak keluar kamar selama berhari-hari. Mereka sama-sama kehilangan, hanya cara mereka menikmati kehilangan itu yang berbeda.

Nana lebih suka melihat Kak Ros yang selalu marah-marah ketimbang Kak Ros yang tiba-tiba selalu hobi cuci piring dan tidak banyak bicara. Atau lebih baik dia mendengar suara jeritan Cetta yang melengking hebat alih-alih suara lagu sendu yang dimainkan anak itu setiap jam 3 sore.

"Lo itu mau nyiram kembang apa mau cosplay jadi patung pancuran sih?"

Dengan gelagapan, Nana menoleh ke belakang. Hanya untuk menemukan Jovan berkacak pinggang di depan motornya. Celana Arsenal kesayangannya sudah dua hari Nana temukan melekat di sana. Entah kapan akan dicuci. Kaos gembel warna putih yang sedikit lagi bertransformasi menjadi warna coklat muda juga tidak berganti sejak hari kemarin. Rambutnya yang nyaris menyentuh telinga dibiarkan amburadul.

Kalau saja asisten rumah tangga komplek sebelah yang namanya Surti itu lewat, Nana berani jamin dia bakalan naksir sama Jovan.

"Ya lo lihat sendiri gue lagi ngapain?" Nana sewot. Meski kemudian ia kembali mengarahkan airnya pada bunga-bunga matahari yang baru menguncup, sesekali ia masih mencuri pandang pada kakaknya itu.

Semula, Jovan merentangkan tangan lebar-lebar, tersenyum, lalu menarik napas dalam-dalam. Setelah itu, laki-laki itu mengibaskan kanebonya ke udara. Membuat Nana berjingkat karena air kanebo tersebut tanpa sengaja mengenai wajahnya.

"Lo bisa nggak sih ngibasnya tuh biasa aja?! Kagak usah pakai tenaga dalam!"

Tapi Jovan hanya menyengir lebar. "Ups, sorry!" dan melanjutkan kegiatannya mengelap motor yang beberapa menit lalu selesai ia cuci.

Jovan bersenandung lagu indah pagi itu. Hingga wajahnya yang berseri-seri berhasil mengundang banyak tanda tanya.

Nana yang keheranan lantas menggedikkan kepala pada Bang Tama yang baru saja keluar rumah. Duduk di teras dengan cangkir kopi yang masih mengepul. Bukan hanya seperti pengangguran, belakangan ini Bang Tama juga kelihatan seperti bapak-bapak anak satu.

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang