13. Arti Sebuah Melepaskan

67K 14.2K 10.5K
                                    

Di dalam sebuah buku, kamu adalah narasi
Sementara aku adalah bait dialog
Tanpamu, tanpaku, kita hanya buku kosong

***

Dari kejauhan, Nana berdiri mematung. Sepulang kuliah, ia memutuskan untuk membeli beberapa makanan ringan dan pergi melihat anak-anak belajar di Magandhi. Tapi alih-alih ketenangan yang ia temukan seperti beberapa hari yang lalu, Nana justru menemukan keberadaan Jeffery di sana.

Laki-laki itu terlihat fokus menulis tabel perkalian di papan tulis dan memberikan beberapa pertanyaan sederhana kepada anak-anak yang ada di sana. Senyumnya lebar, hingga nampak dengan sempurna dua cekungan indah di kedua pipinya. Sesekali ia tertawa bersama anak-anak dan mengacungkan jempol entah untuk alasan apa.

Setelah lebih dari satu tahun sejak pertemuan terakhir mereka di acara untuk mengenang kepergian Sastra, ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. Tapi alih-alih melanjutkan langkahnya seperti rencana, Nana memutuskan untuk berhenti. Ia benci melihat pendar mata bahagia itu. Ia benci mendengar tawa dan tarikan bibir Jeffery yang lebar. Ia benci keberadaan laki-laki itu di sini. Segalanya... Nana benci segala hal tentang laki-laki itu. Maka tanpa diketahui siapapun, ia memutar arah untuk kembali ke Rumpi dan meninggalkan kantong-kantong makanannya di sana.

Ia memutuskan untuk berlalu cepat. Bersama sesak, ketika ia tanpa sengaja teringat kembali dengan kejadian menyakitkan yang pernah terjadi dulu. Nana tidak dengan sengaja menyentuh lukanya, tapi entah bagaimana luka itu kembali basah dan perih.

Saat hari mulai berubah warna, Nana membiarkan langkahnya mengayun semakin jauh. Karena hari ini ia sedang mengalah pada Jaya yang ingin membawa motornya, Nana memutuskan untuk tetap berjalan. Ia menikmati bagaimana suara Joseph Vincent memenuhi isi kepalanya dengan sebuah lagu merdu. Tapi lebih dari suara penyanyi itu, suara ibunya Gayatri terdengar lebih jelas dan terus berputar-putar tanpa jeda.

"Tolong lepaskan Gayatri ya, Nak."

Hingga ia menemukan ponselnya bergetar dan memperlihatkan nama Gayatri muncul dengan gambar hati, Nana kembali menemukan dirinya seakan berdiri di seutas tali di antara dua jurang. Dan entah untuk ke berapa kalinya, ia kembali mengabaikan panggilan itu. Ia tahu Gayatri pasti marah dan kecewa karena ia terus-terusan menghindar sejak kemarin.

Ia tidak berniat sepenuh hati untuk menghindar. Tapi ada banyak hal yang berkumpul menjadi satu di dalam kepalanya. Ia seperti sekumpulan benang kusut yang terlalu sukar untuk Nana urai satu demi satu.

"Adin tahu kan, tante mau Gayatri bahagia.."

Laki-laki yang menyangklong sebuah gitar itu tersenyum sumir. Memang siapa yang tidak ingin melihat seseorang yang kita cintai bahagia?

Apa yang dikatakan ibunya Gayatri kemarin memang tidak salah sama sekali. Meski dirinya atau Gayatri tidak pernah membahasnya sama sekali, Nana tahu ada perbedaan yang sangat jauh dan begitu besar di antara mereka. Dan belum habis kebimbangannya tentang nasib hubungannya dengan Gayatri, ia justru bertemu dengan Jeffery.

Ibarat jatuh, Nana kembali ditimpa pohon mangga di depan rumahnya yang terkoyak badai. Di atas tanah, ia terkapar menatap langit yang biru. Tidak tahu harus melakukan apa. Namun kemudian ia teringat tentang origami yang sengaja ia bawa dari rumah tadi pagi. Ia merogoh saku celananya dan menemukan lipatan kertas berwarna kuning itu masih ada di sana.

Setelah menarik napas panjang, ia bersiap untuk membukanya. Dan sama seperti surat-surat sebelumnya, tulisan yang ada di sana terlihat singkat.

"Narasi. Memulai sebuah akhir."

Sampai Nana berhenti melangkah karena tulisan Sastra itu terlalu sulit untuk ia pahami.

"Narasi apaan?" ia bertanya pada dirinya sendiri. Namun sampai berulang-ulang ia membaca surat itu, ia tidak memahami apapun.

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang