O4 ↳ Persuasi, Seni, dan Atraksi

Mulai dari awal
                                              

          "Ide apa Gi?"

          "Kita kampanye di parkiran."

          Kontan bibir milik Nehan terbuka, menatap Mada yang jua sama bingungnya. "Hah? Ngapain di parkiran anjir? Jangan gitu Gi. Gue tau lo suka sama motor, tapi masa iya lo mau kampanye sama motor-motor? Golput semua yang ada," ujarnya frustasi. Gian menyukai motor, dan Nehan mengerti. Tapi mereka tak butuh dukungan dari benda mati, Pertiwi.

          "Nanti kalian juga tau. Kumpulin aja semua orang di depan parkiran setelah gue buat persiapan. Gue bakal nunjukin sama Laksa, cara baru buat narik banyak suara."

          "Gi, lo mau nyari tiket jadi ketua MPK apa tiket masuk BK?" Mada sedikit mendebarkan netra kala ruang pikirnya sudah mampu mencerna makna di balik kata yang Agian lontar dengan selapis senyuman.

          Gian terkekeh. "Dua-duanya juga oke. Lagipula, gue juga belum pernah jadi tamu kehormatan Pak Rosikin, iya nggak?"

           "Semprul lo Gi."

           "Lo, mau bantuin gue kan?" Agian menaikkan imba, menatap Lyan yang masih terpana akan kekeh miliknya.

           "Mau!"

          "Kasih pengumuman di ruang siaran kalau gue mau kampanye di depan parkiran, bisa?"

          "Kasih pengumuman di ruang siaran kalau gue mau kampanye di depan parkiran, bisa?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

          Gian memakai beberapa perlengkapan keselamatan saat berkendara. Guna berjaga-jaga bila bersua dengan cedera. Perihal halaman parkir Nawakarsa, memang cukup amba dan berada di area terbuka. Mengenai meteri kampanye, Gian sudah hafal di luar kepala. Bukan apa semesta, ia tak menyusun apapun sebenarnya, ia hanya akan berbicara sesuai dengan keinginannya. Tak dibuat-buat, langsung dari hatinya.

          Mungkin— caranya ini sedikit berbahaya, melanggar peraturan Nawakarsa nomor 27 pasal 2 dari 76 jumlah seluruhnya. Biarlah sesekali, peraturan tidak melulu harus dipatuhi, begitu kan?

          Mada, Nehan, Atlas dan kawan-kawan mulai membuat lintasan dari berbagai macam piranti olahraga. Cukup ringan, tak berlebihan seperti acara atraksi anak motor jalanan.

          "Nih, sekalian bawa toanya. Satu lagi, jangan drifting. Kalau ada fasilitas yang rusak bahaya Gi," pesan Mada yang pura-pura menghawatirkan piranti olahraga Nawakarsa. Padahal saja, ia was-was Gian mendapat cedera.

          Gian mengangguk, terlihat anak-anak mulai berlarian ke parkiran. Gian menyuruh mereka agar sedikit berjauhan. Teknik wheelie menjadi hidangan pembuka pertunjukan.

           Suara musik yang diduga dari ruang siaran menambah keseruan aksi Gian. Setelah usai melewati beberapa rintangan, Gian mengikis kelajuan. Ia mulai menghidupkan alat pengeras suara, menyebar lantang visi dan misinya. Kemudian pemuda itu dengan sempurna kembali memarkirkan motornya di tempat semula. Berganti menghampiri himpunan sorak menggunakan papan luncur tanpa harus menjeda kata yang keluar dari bibirnya.

          "AGIAN, LO YANG TERBAIK!" jerit Gendhis sembari melompat di tempat.

          Hingar-bingar mengudara. Tak banyak abjad yang ia sampaikan. Persuasi milik Agian berhasil dihujani dukungan. Mada, Nehan, dan kawan-kawan tak henti-hentinya bertepuk tangan. Terlebih kala para anggota ekstra basket turut menguyurkan potongan kertas yang telah dibuat dengan tangan, dibumbui harapan dan ketulusan.

          Semuanya berjalan dengan lancar, hingga tepukan pelan singgah di bahu kiri Nehan. "Apaan sih, diem. Ini bagian klimaks acar— eh, Pak Rosikin."

           Mada yang turut menggeser pandangan sontak gelagapan, sedang Nehan malah cengengesan. Rosikin dengan galak meminta pengeras suara cadangan yang berada di pelukan Nehan. Dengan sekali teriakan, tepuk tangan serta kalimat-kalimat dukungan mampu dilumpuhkan.

          "AGIAN WILALUNG SALASA!"

          Tebakan Gian tepat mengenai sasaran. Ia akan diberi teguran dan mungkin beberapa hukuman. Tapi kau tenang saja Pertiwi, ia sudah siap mempertanggung jawabkan. Lantas, pemuda itupun berbalik badan. "Iya Pak? Ke ruang BK 'kan? Silakan, Bapak jalan duluan," ujarnya sembari memamerkan senyuman, kemudian membungkukkan badan dengan sopan.

          "BUBAR SEKARANG!" perintah Rosikin pada kerumunan yang masih setia menyaksikan Agian. Sedang yang menjadi sorotan hanya mencetak mimik setenang air laut tanpa ombak. Bahkan di saat-saat yang mendesak, ekspresinya tak pernah burak.

          Semesta, kembali kuperkenalkan, ini Agian. Manusia yang tidak bisa ditebak dengan metode pendekatan, apalagi hanya dari sebuah indra pendengaran. Pemuda yang namanya Lyan tulis di telapak tangan saat jam pelajaran, layaknya sebuah contekan. Dan hari ini, kembali diserukan dalam ruang siaran.

AKHIRNYA HANA BUAT TRAILER-NYA!Seperti biasa,jauh dari kata sempurna

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

AKHIRNYA HANA BUAT
TRAILER-NYA!
Seperti biasa,
jauh dari kata sempurna.

Terima kasih sudah membaca.

Dengan cinta,
Pinguin.

Kisah Jatuh dan PatahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang