O4 ↳ Persuasi, Seni, dan Atraksi

137 21 10
                                              

          Nabastala tampak membiru dibalut putih bertulang. Berbagai cengkrama melintas sembarang, tungkainya sibuk berlalu lalang. Sebut saja Nawakarsa sedang senggang. Di tempat bersemayamnya makanan, Lyan dan beberapa kawan tampak asik menguyah kudapan, sesekali bertukar beberapa liputan. Yang jelas, salah satu topiknya adalah Gian.

          "Hari ini kampanye ya?" tanya Lyan seraya menyimpan beberapa kudapan di atas dipan. Pemudi itu sudah terlampau antusias akan memberi dukungan. Mada pun terangguk, selepas meminum es kopinya beberapa teguk.

          "Ini sih udah nggak ada harapan buat nomor tiga. Lawannya Gian Laksa." Gadis menatap selebaran kertas yang ia pungut di papan pengumuman. Kemudian pemudi itu menggeleng pelan setelah memberi opini yang kurang menyenangkan.

          "Iya, mana Laksa sama Gian sama-sama ambisius. Natra juga pendiem anaknya. Kasihan kalau kalah telak.  Apa gue milih dia aja ya?" imbuh Gendhis.

          "Gadis sama Gendhis nggak boleh ngomong gitu. Ndis, coba bayangin, kalau semua anak Nawakarsa punya pemikiran kayak kamu. Pasti yang menang Natra, bukan Gian atau Laksa."

          Gadhis dan Gendis kompak unjuk gigi. Tatap yang Lyan beri tampak memperingati, dan mereka mengerti. Keduanya kurang teliti, ternyata kata-kata tadi dapat melukai hati. "Maaf Ly, kelepasan. Untung nggak ada Natra di sini," ujar Gendis yang diangguki Gadis.

          Sepi. Mada dan Nehan menatap Gian yang sempat berhenti kala hendak menghampiri tempat yang mereka singgahi. Kemudian mengayun tungkai kembali selepas pembicaraan tadi telah diakhiri. "Mad, Han." panggilnya.

          "Gue udah ngumpulin orang, Gi. Lo tinggal kasih tau, kita mau kampanye di mana?" tanya Nehan, ia sudah siap mengerahkan pasukan.

          Gian menjentikkan jari, seakan-akan mendapat inti sari dari tujuannya singgah di sini. "Itu dia. Laksa, dia ambil alih tempat yang mau gue tempati juga."

          "Wah, kok bisa sih Gi? Bukannya kampanyenya belum mulai?" tanya Nehan sembari melirik jam tangan.

          "Dia udah stand by duluan di koperasi. Gue kalah cepat. Lagian, lo berdua dari tadi gue cariin."

          "Terus, gimana Gi?"

          "Lokasi kampanye di mana aja?" Lyan tiba-tiba angkat suara.

          "Tahun ini nentuinnya di koperasi, lapangan bola, taman, sama di depan parkiran."

          "Gue heran sama pemikiran Kak Deret. Bisa-bisanya dia cuma ambil satu titik strategis? Si Laksa juga bisa-bisanya udah stand by duluan di koperasi."

          "Mungkin, ada tujuan tersembunyinya? Siapa tau Kak Deret mau lihat sekreatif apa kalian dalam menarik perhatian."

          Gian mengamati cara Lyan beropini. Entahlah, format pikirnya terlalu asri. Jenis insan yang suka menempatkan diri pada dua sisi. Ia tak tahu saja kalau menyulitkan segala urusan organisasi itu layaknya sebuah seni, bagi mereka yang kelasnya lebih tinggi. Tapi tuturan Lyan berhasil membuat pikirnya seperti lajuan kereta api, dengan cepat mengangkut inspirasi.

          "Thanks," ucapnya pelan, nyaris menarik sebuah senyuman tapi dengan kuat ditahan. Takut disalah gunakan di dalam pikiran, juga untuk mencegah pertumbuhan perasaan milik Lyan.

          "Hah— gimana Gian?"

          Agian mengalihkan pandangan, lagi-lagi tak mau memberi Lyan jawaban. Pemuda itu menepuk pundak Mada dan Nehan secara bersamaan. Melepaskan senyuman yang tadinya hendak ditunjukkan untuk Lyan. "Gue punya ide."

Kisah Jatuh dan PatahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang