16. Cerita dari Anak Kedua

73.3K 15.1K 3K
                                    

Saat aku jatuh bangun, selalu ada kamu
Saat aku susah senang, juga ada kamu
Terima kasih, sebab telah bersedia berjuang bersamaku

***


Langit membiru, mengusir jauh awan-awan kelabu yang sejak pagi bergelung di sudut langit. Sebagian orang berpikir hujan akan segera turun. Tapi beranjak siang, matahari kembali muncul dan hari nampak begitu cerah.

Di bawah pohon tabebuya yang belum berbunga, Eros menikmati keterdiaman nyaman antara dirinya dan Rania. Diam yang justru membuat keduanya bersedia bertahan di sana sedikit lebih lama.

Sesekali Rania bergumam pada permen kapas warna biru muda yang semakin lama semakin habis ia gerogoti. Sementara di sampingnya, Eros hanya terdiam menyaksikan Cetta dan Jaya yang terlihat heboh bermain zig zag dari kejauhan. Sesekali Cetta akan menabrakkan mobilnya ke bagian belakang mobil Jaya dan membuat bocah itu marah-marah karena kaget.

"Kira-kira, aku layak nggak ya, Ran, disebut sebagai kakak?" tanya Eros, pandangannya tiba-tiba dipenuhi kekosongan. Namun dalam kekosongan itu, kepalanya justru terasa seperti berkabut dan ia terjebak di sana tanpa tahu kemana ia harus pergi mencari jalan keluar. Ia terus berputar-putar, tenggelam dalam kabut gelap yang tak ia kenali.

Di sampingnya, Rania seperti tidak menyangka bahwa Eros akan bertanya padanya dengan pertanyaan seperti itu. Karena menurut Rania, tidak laki-laki yang terlihat begitu sempurna seperti Eros. Meski kadang judes, kadang galaknya tidak ketulungan, Eros adalah laki-laki baik. Pacar yang baik, anak yang baik, rekan yang baik dan kakak yang baik. Dia benar-benar definisi baik yang Rania pahami.

Sejenak gadis itu menarik napas rendah. "Kok Mas ngomongnya gitu?" Rania memutuskan untuk menyudahi merobek-robek permen kapasnya. Mungkin setengah jam dari sekarang, permen itu akan mencair, habis dimakan angin.

"Ditinggal pergi Sastra membuat aku sadar, Ran, selama ini aku nggak pernah ngasih apa-apa buat mereka. Tanpa sadar aku selalu menuntut mereka untuk selalu jadi nomer satu. Aku lupa kalau mereka cuma anak-anak biasa, mereka punya keterbatasan. Kadang mereka selalu berburuk sangka, kadang mereka selalu nggak percaya diri, kadang mereka merasa iri. Aku nggak pernah bantu mereka buat mengatasi masalah itu. Sampai akhirnya aku sadar, mereka mengatasi masalah-masalah itu sendirian dengan pengetahuan yang terbatas. Aku pikir setelah Bang Tama ke Balikpapan, aku udah cukup bertanggungjawab untuk mereka semua, tapi ternyata enggak. Selama ini aku nggak ngapa-ngapain, Ran." Eros tersenyum kecut, sembari menilas kenangan di sebuah hari yang telah lama usai. Ia mengurai kegelisahannya perlahan-lahan, sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya ia kembali menjumpai rasa sesak itu memeluk pundaknya begitu kuat. Bahkan jauh lebih kuat dari yang semalam ia rasakan.

"Mereka selalu aku kasih uang, apapun yang mereka perlukan selalu aku kasih. Aku nggak mau kebutuhan mereka kurang. Aku kerja keras supaya Mama sama adik-adikku hidup nyaman, supaya Bang Tama sama Bapak di atas sana bangga sama aku. Tapi ternyata itu semua nggak cukup, Ran. Uang bisa aku cari, rumah bisa aku bangun, tapi adikku yang udah nggak ada, harus aku cari kemana?" Eros menoleh dengan senyum tipis. Walau sepasang matanya dipenuhi air mata, tapi senyum itu masih ada di sana.

Tanpa laki-laki itu sadari, Rania menghela napas panjang. Gadis itu pikir, segala ratapan soal kehilangan sudah usai. Ia pikir, kini mereka hanya perlu mengenang dan berusaha untuk tetap melanjutkan hidup sebagaimana harusnya. Memang, baginya hari berkabung itu sudah selesai sejak lama. Tapi kelihatannya bagi Eros tidak. Awan gelap di hari berkabung saat itu ternyata masih mengikuti langkahnya sampai hari ini. Membayang-bayanginya dengan kekelabuan yang sendu. Sekan-akan setiap harinya hanya diisi mendung, siap hujan kapan saja.

Rania tidak bisa berkata banyak. Gadis itu hanya diam mendengarkan. Batang permen kapas sudah ia lepaskan, kali ini, tangannya mengenggam telapak tangan Eros. Semoga dengan begini, laki-laki itu percaya, bahwa Rania akan selalu ada di setiap rasa sakitnya.

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang