(II) Perburuan

82 24 2
                                                  

    Malam merayap pelan menyelimuti langit dengan jubahnya yang hitam. Rembulan yang malu sembunyi di balik awan. Suara-suara binatang malam bersahutan memecah keheningan.

     "Kek, Rasu takut..." bisik Rasu pada Lintang Abang. Kedua tangan Rasu mendekap erat pinggang kakeknya.

     "Nggak usah takut, Rasu, kan ada Kakek di samping Rasu," bujuk Lintang Abang.

     Lintang Abang dan Parasu duduk di bawah pohon kalpataru raksasa setinggi duapuluh kaki. Mendadak terdengar suara berisik dari balik semak.

     NGUUUIKK!

     Seekor babi hutan sudah ada sekitar sepuluh kaki di depannya. Babi itu terlihat resah. Ia memutar-mutarkan badan.

     Beberapa detik kemudian, bayangan hitam muncul di antara mereka. Langkahnya pelan tapi jejakan kakinya mantap. Matanya merah menyala.

    AUUUMMMGRRH!

     Semakin bayangan hitam itu mendekat, cahaya bulan yang sesekali muncul makin memperlihatlah sosoknya yang kekar dan besar. Mulutnya menyeringai. Taring besar dan tajam mengintip di balik celah mulutnya yang terbuka. Warna bulunya coklat kemerahan dengan belang-belang hitam kontras. Seekor harimau jawa!

     "Keeekkk! Ada harimau Kek, ayo larriii!!!" teriak Parasu cemas.

     "Tenang Rasu, tenang. Jangan berisik. Dia sedang mengincar mangsanya," bujuk Lintang Abang.

     "Bagaimana bisa tenang Kek, itu harimau, bukan kucing!"

     "Iya..Iya...Kakek tahu. Harimau itu sedang mengincar babi hutan, bukan kita. Lebih baik kita mundur pelan-pelan merapat ke pohon,"

     "Aahhh Kakek. Lebih baik kita pungut batu-batu besar itu, lalu dengan jurus Gingkang Kijang kita lempari dia. Kalau kena kepalanya pasti mati!"

     "Jangan Rasu, dia hanya mencari makan. Ingat, nanti di suatu masa, masa yang mungkin tak akan lama lagi. Kita tak akan bisa melihat harimau itu lagi di tanah Jawa."

     "Mengapa bisa begitu, Kek?"

     "Harimau jawa akan punah, Rasu. Harimau jawa betina mengandung cukup lama, selama seratus hari. Anak harimau akan memasuki masa dewasa dan bisa berdiri sendiri setelah dua tahun. Itupun kalau anak harimau bisa bertahan hidup.

     Masa bertahan hidup mereka di alam bebas pun cukup singkat. Ya seusiamu sekarang ini, antara sepuluh hingga lima belas tahun. Harimau adalah hewan penyendiri, kecuali saat hendak mencari pasangan.

     Perilaku harimau seperti itu, hutan yang semakin menyempit, dan banyaknya pemburu yang mengincarnya sekadar untuk mengambil kulitnya, tentu bisa membuat harimau itu punah di pulau ini."

     Beberapa detik berlalu, hanya dengan dua kali terkaman harimau jawa itu sudah mampu menancapkan kuku dan kemudian taringnya ke tengkuk babi hutan. Si babi hutan hanya bisa meronta-ronta lalu lemas, ketika sang harimau membawanya dengan mulutnya yang besar, menjauhi Lintang Abang dan Parasu.

    Wajah Parasu tak lagi pucat seperti tadi, meski keringat dingin masih terlihat di keningnya. Lintang Abang tersenyum sembari menepuk bahu cucunya. "Rasu benar-benar anak yang berani. Ayo Rasu, kita istirahat, di atas cabang pohon kalpataru itu..."

***

     

Titimangsa Parasu (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang