26-Kita Pacaran.

405 40 309
                                    

Melepaskan bukan berarti melupakan. Melepaskan  berarti merelakan hati untuk menerima kenyataan.

Karena terkadang mempertahankan lebih sakit dari melepaskan.

-Daffa Prasetya

______

"Lo spesial. In my heart."

Tangisan Nara langsung terhenti saat kalimat ajaib itu terlontar dari lelaki yang selama ini ia damba-dambakan, membuat jantung Nara mulai jedug-jedug tak karuan.

"HAH? IN MY HEART?" Nara mendongak ke atas, menatap Rama dengan mulut terbuka lebar. "Di hatiku? Jadi artinya... gue spesial di hati lo?"

"Rama Jawab dong! Itu serius? bukan kaleng-kaleng?" Nara menggoyangkan badan Rama, memaksa Rama agar segera menjawab pertanyaannya.

"Ngggh..." Rama mengetuk-ngetukan jari telunjuknya ke dahi, seolah-olah sedang berpikir keras. "Tergantung sih."

Dahi Nara mengkerut tanda tak paham. "Tergantung apanya, Ram? Ngomongnya agak panjangin dikiiit aja."

Rama menoleh ke samping, menatap Nara penuh arti. "Tergantung lo maunya gimana."

Nara mengatupkan bibirnya yang tadi setengah terbuka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nara mengatupkan bibirnya yang tadi setengah terbuka. "Kalo misalnya Nara maunya serius gimana?" 

Rama mengangkat sedikit sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis. "Ya udah. Sama."

Senyuman Rama sempat menular pada Nara selama beberapa detik, sebelum akhirnya Nara tarik kembali. Lebih aneh dari kemarin-kemarin, pikir Nara.

Detik berikutnya, Nara menempelkan punggung tangannya ke dahi Rama. Setelah merasakan suhu badan Rama, Nara menarik tangan miliknya ke tempat semula.

"Ada yang salah?" tanya Rama heran, namun tidak gubris oleh Nara.

"Enggak panas, suhunya normal. Tapi, kok tiba-tiba sweet gini ya?" Nara bergidik ngeri sendiri di buatnya. "Apa kerasukan jin baik hati?"

Rama menjitak pelan kepala Nara, membuat Nara mengaduh kesakitan. "Rama! Kenapa di jitak?!"

"Makanya jangan mikir yang aneh-aneh," sahut Rama dengan muka datarnya, seolah-olah tidak melakukan kesalahan apa-apa.

"Gue antar lo pulang." Rama merapihkan jaket warna army nya sebelum berdiri. "Ayo, keburu kemalaman. "

"Bentar, Ram." Nara mencekal lengan Rama, membuat Rama menoleh padanya. "Yang ta-tadi itu serius?"

"Kelihatannya gimana?"

"Ngghh..." Nara menatap Rama lekat-lekat, berusaha mencari kebohongan yang sayangnya tidak Nara temukan disana. "Serius sih kelihatannya."

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang